Saturday, April 23, 2011

Pintu Wahyu Tetap Terbuka Sesudah Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Pintu wahyu masih tetap terbuka setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam wafat, karena Allah ta‘ala itu bersifat mutakallim (Maha-berbicara), yang selalu berbicara kepada para hamba yang dikehendaki-Nya, namun wahyu itu tidak mengandung syari’at baru yang menghapus atau menyalahi syari’at Islam. Di antara contoh wahyu tersebut adalah sebagai berikut:

1. Wahyu kepada para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Ketika para sahabat Radhiyallahu 'anhum hendak memandikan janazah Sayyidina Al-Mushthafa Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mereka berkata: “Kami tidaktahu apakah kami menanggalkan pakaiannya, sebagaimana kami menanggalkan orang mati di antara kita atau kami memandikannya dengan pakaiannya? Maka tatkala mereka berselisih, Allah menjatuhkan kantuk atas mereka sehingga tak seorangpun dari mereka kecuali dagunya pada dadanya, kemudian mukallim (Malaikat Jibril pen.) berbicara kepada mereka dari sudut rumah itu sedang mereka tidak tahu siapa dia itu. Adapun bunyi wahyu itu sebagai berikut:



Mandikanlah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang padanya ada pakaiannya (Al Baihaqi dari Siti Aisyah radhiallahu 'anha, Tariikhul Kaamil Jild II halaman 16 dan Misykatu Syarif, Jilid III, Baabul Kiraamaat Hal. 196-197).

Mendengar wahyu tersebut, para sahabat bangun lalu memandikannya, sedang gamisnya berada pada tubuhnya. Mereka menuangkan air di atas Gamisnya dan mereka menggosoknya dengan Gamis itu. Inilah wahyu pertama dari Allah Yang Maha Mulia yang turun kepada para Sahabat radhiallahu 'anhum setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

2. Wahyu kepada Hadhrat Khalifah Umar Bin Khaththab radhiallahu 'anhu.

Umar berkata , "Aku dalam keadaan tidur melihat Tuhanku. Lalu, Dia berfirman, "Wahai Ibnu Khaththab! Mintalah kepada-Ku." Aku diam. Maka Dia berfirman kedua kali, "Wahai Ibnu Khaththab Aku mengemukakan kepadamu kerajaan–kerajaanKu, jasmani dan rohani . Dan Aku berkata kepadamu, mintalah kepada-Ku akan tetapi tentang itu engkau diam saja." Lalu Hadhrat Umar berkata : "Wahai Tuhanku, Engkau telah memuliakan para Nabi dengan Kitab-kitab yang telah Engkau turunkan kepada mereka. Maka muliakanlah aku dengan kalam (wahyu) dari-Mu tanpa perantara". Maka Allah berfirman : "Wahai Ibnu Khaththab, “Siapa yang berbuat baik kepada orang yang berlaku buruk kepadanya maka sungguh dia telah bersyukur kepada-Ku, namun siapa yang berbuat buruk kepada orang yang berbuat baik kepadanya, maka berarti dia telah menukar nikmat-Ku dengan kekufuran."( Nazhatul-Majaalis Jilid I, Babul-Hilmi Washshafhi hal. 107).


3. Wahyu Kepada Hadhrat Imam Syaafi'i rahmatullah ‘alaih(Muhammad bin Idris):

Imam Syaafi'i rahmatullah ‘alaih melihat Allah dalam mimpinya, dan beliau berdiri dihadapan-Nya. Allah berfirman, "Wahai Muhammad! Tetaplah teguh di dalam agama Muhammad. Dan janganlah sekali-kali engkau tergelincir karena engkau akan sesat dan menyesatkan. Bukankah engkau Imam ummat ini. Janganlah engkau takut kepadanya. Bacalah:


Sesungguhnya telah Kami memasang rantai sekeliling batang leher mereka sampai dagu mereka, sehingga mereka tertengadah (mengangkat kepala mereka ke atas).

Imam Syaafi'i berkata: "Maka tatkala saya terbangun, saya sedang mengucapkannya berkat pendidikan melalui kekuasaan Allah." ( Al Mathalibul Jamaaliyyah, cetakan Mesir Tahun 1344 H, hal. 1344). Kata-kata wahyu ini jelas sekali persis ayat 9 Surah Yaa Siin.

4. Wahyu Kepada Hadhrat Imam Ahmad Bin Hanbal rahmatullah ‘alaih.

Beliau berkata: "Pada malam itu saya menyaksikan suatu suara yang mengatakan, "Wahai Ahmad bersukacitalah engkau, Allah telah mengampunimu karena engkau telah menjalankan Sunnah Nabi dan Dia telah menjadikan engkau Imam. Engkau akan diikuti." Aku bertanya, "Siapakah engkau?" Jawabnya: "Jibril". ( Kitabusy- Syifaa Lil-Qaadhi 'Iyadh, Juz II, hal. 13).

5. Wahyu kepada Hadhrat Muhyiddin Ibnu 'Arabi rahmatullah ‘alaih.
Beliau berkata : "Maka diturunkan wahyu kepada saya,


Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan keturunannya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kepada-Nya kami menyerah diri (Al Futuhatul-Makkiyyah, Jilid III, Hal. 35).

Wahyu yang beliau terima sebagaimana tersebut diatas, persis seperti firman Allah Yang Maha Kuasa, yang terdapat di dalam Al-Qur'an (Surah Ali 'Imraan, 3: 85).

6. Wahyu Kepada Hadhrat Khawajah Miir Dard rahmatullah ‘alaih.
Beliau seorang suci di zamannya menulis di dalam Kitab Ilmul Kitab, wahyu yang telah beliau terima berbunyi sebagai berikut:


Apakah kamu menginginkan peraturan jahiliyah di zaman di mana Allah menetapkan tanda-tanda-Nya yang dikendaki-Nya? (Ilmul-Kitab, Tahditsun-Nikmah)

Sebagian kata-kata dari wahyu ini yaitu, () persis seperti bagian dari Surah Al-Maidah, 5:51). Beliau juga menerima wahyu yang berbunyi sebagai berikut:

Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang paling dekat.

Wahyu yang beliau terima ini persis seperti firman Allah Sang Mutakallim yang terdapat dalam Al-Quran (Surah Asy-Syu'ara, 26:215). Beliau juga menerima dua wahyu berikut ini:

Dan janganlah engkau berdukacita atas mereka, dan jangan pula engkau dalam kesedihan dikarenakan oleh apa yang mereka rencanakan

Dan tidak pula engkau dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang buta untuk keluar dari kesesatan mereka

Kedua wahyu yang beliau terima tersebut, persis seperti firman Allah ta‘ala yang terdapat dalam Al-Quran (Surah An Naml, 27: 71 dan 82).

Dari beberapa contoh tersebut, jelaslah pada kita bahwa sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat Allah ta‘ala masih tetap berbicara kepada para hamba yang dikehendaki-Nya, karena itu turunnya wahyu yang tidak mengandung syari’at baru kepada Pendiri Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihis salam sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan tidaklah bertentangan dengan Al-Quran, Sunnah dan Hadis, bahkan justru hal itu menunjukkan bahwa Allah ta‘ala itu benar-benar Tuhan Yang Mahahidup dan berbicara untuk meneguhkan iman dan kemuliaan umat Islam.

Adapun wahyu yang diterima oleh para hamba Allah yang suci ini, sebagian ada yang mengandung kata-kata yang persis seperti ayat atau potongan ayat Al-Quranul-Karim.


3 comments:

  1. Bagus! Teruslah bertabligh. Saya dukung!
    Pasang Juga Tabligh Meter untuk melihat sejauh mana kita berlomba dalam pertablighan.

    ReplyDelete
  2. Trims atas dukungannya. Saya sudah pasang tabligh meter. Mohon dukungan untuk seterusnya. Jazakumullah..

    ReplyDelete
  3. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    ReplyDelete