Friday, December 8, 2006

Sifat Rabb Allah Taala (Part IV)

 

(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba,

8 Desember  2006, di Masjid Baitul Futuh, London)

 
Huzur masih melanjutkan topik Khutbah Sifat Allah Rabul-Alamin, pada Jumah ini. Huzur bersabda, pengertian istilah Tuhan Semesta Alam adalah, Rahmat dan Karunia Allah meliputi seluruh makhluk. Akan tetapi, dikarenakan sifat khas Rububiyyat-Nya juga, yakni Yang senantiasa menyantuni dan menumbuh-kembangkan, maka Allah pun secara khusus meng-istimewakan para hamba-Nya yang sejati. Dalam hal ini, yang ter-istimewa adalah Hadhrat Rasulullah Muhammad Saw.

Huzur kemudian menyampaikan beberapa contoh peristiwa mukjizat dalam kehidupan beliau Saw, yang menunjukkan keistimewaan Karunia Allah yang beliau terima berkat Sifat Rububiyyat-Nya itu. Namun demikian, bahkan sebelum kelahiran beliau pun, Allah Taala telah banyak memperlihatkan Sifat Rububiyyat-Nya. Apalah lagi di sepanjang kehidupan beliau Saw yang penuh berkat.

 

Sifat Rububiyyat Jadikan 1 Ummiy Jadi Guru Dunia

Merujuk kepada sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur mengingatkan bahwa di masa-masa awal kehidupan Hadhrat Muhammad Saw, sama sekali tidak berpeluang untuk meraih pendidikan formal. Namun, lihatlah betapa sebuah kitab yang demikian istimewanya – yang membuat martabat seluruh buku ilmiah dunia tak sepadan, yakni Al-Qur'an, telah diwahyukan kepada beliau. Inilah sebuah Kitab yang terus menerus memberikan ilmu dan pengetahuan kepada kita, bahkan hingga saat ini, di zaman teknologi maju serba canggih.

Pencapaian pengetahuan dan pemahaman Hadhrat Rasulullah Muhammad Saw ini jelas bukanlah dikarenakan hasil menuntut ilmu dari sesuatu perguruan, melainkan suatu bukti kuat, bahwa pribadi beliau memang ditumbuh-kembangkan secara khas oleh Allah, Rabul Alamin. Ketika Malaikat Jibril datang pertama kali menyampaikan wahyu Al-Qur'an kepada beliau, Rasulullah Saw menukas, bahwa beliau tak pandai membaca. Namun, Malaikat Jibril terus mendesak beliau dengan kalimat: "Iqra bismirabbikalladzii khalaq…", yakni, "Ikrarkanlah dengan nama Allah yang telah menciptakan" (96:2). Dan selanjutnya, berbagai macam khazanah ilmu dan pengetahuan yang berasal dari Allah pun diberikan kepada beliau.

 

Mukjizat 2 Gallon Air Untuk Belasan Orang

Merujuk kepada salah satu Hadis yang menceriterakan satu peristiwa kehidupan Rasulullah Saw, Huzur menyampaikan: "Sekali waktu dalam suatu perjalanan bersama para sahabah, rombongan berhenti untuk beristirahat. Para sahabah mulai merasa kehausan. Rasulullah Saw pun mengutus dua orang untuk mencari air. Setelah berusaha tapi tanpa hasil, akhirnya mereka melihat seorang wanita yang sedang mengendarai unta dengan dua kantong air. Maka sahabah itu pun memohon wanita tersebut untuk sudi menemui Rasulullah Saw. Sesampainya di lokasi, setelah sahabah membantu menurunkan wanita itu dari punggung untanya, Rasulullah Saw meminta sebuah tempayan, lalu menuangkan air dari dua kantong milik wanita tersebut. Kemudian memerintahkan kepada semua orang yang merasa kehausan agar segera meminum sepuas-puasnya.

Setelah semua orang mendapatkan jatah minumnya, mereka menyaksikan dua kantong air itu – alih-alih menjadi berkurang - malah terisi penuh, melebihi dari keadaan semula.  Akan tetapi, sebagai rasa terima kasih, Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabah untuk menghadiahi wanita tersebut dengan barang sesuatu makanan dlsb, bahkan dibantu pengepakkannya di punggung untanya. Sambil berterima kasih, Rasulullah Saw mengingatkan wanita itu: "Meskipun kami sudah meminum air dari dua kantung milikmu, tetapi sama sekali tidak menguranginya. Ini dikarenakan semata-mata Allah-lah yang memberi kami air minum".

Lihatlah betapa di padang gurun yang tak kelihatan seorang pun sejauh mata memandang, tiba-tiba Allah mengirim seorang wanita penunggang unta untuk memenuhi kebutuhan air minum sekian banyak orang, namun masih dalam batas kaidah hukum alam. Yakni, dua kantong air yang dibawa oleh wanita itu dimukjizati Allah sedemikian rupa, meskipun wanita yang terus menerus keheranan itu kemudian bercerita di hadapan keluarganya bahwa airnya telah disulap secara ajaib.

Padahal, sesungguhnya itulah salah satu perwujudan dari Sifat Rububiyyat Tuhannya Muhammad Rasulullah Saw.

Demikian pun sifat pribadi beliau Saw, menggambarkan sifat Tuhannya itu, ialah meskipun sebenarnya air milik wanita tersebut tidak berkurang, bahkan menjadi bertambah dibandingkan sebelumnya, namun masih juga diberi hadiah makanan dlsb.

 

1 Mangkuk Susu Untuk 7 Orang

Pada satu peristiwa lain di awal-awal masa nubuwwat, Hadhrat Abu Huraira r.a.  meriwayatkan, untuk mengurangi rasa lapar, beliau biasa mengikatkan batu ke perutnya. Ketika hal ini diketahui Rasulullah Saw., dengan penuh rasa simphati beliau pun mengajaknya ke rumah. Akan tetapi, Abu Hurairah r.a. melihat hanya ada semangkuk susu pemberian dari seseorang. Namun, Rasulullah Saw memerintahkan Abu Huraira r.a. untuk memanggil para ahli sufa lainnya, yang membuat Hadhrat Abu Huraira r.a. merasa khawatir jangan-jangan susunya tidak cukup karena hanya ada satu mangkuk. Tetapi karena perintah Rasulullah Saw, maka ia pun memanggil para ahli sufa dengan rasa enggan. Setelah mereka semua berkumpul, Rasulullah Saw memerintahkan untuk memberikan susu tersebut bergiliran satu persatu. Maka Hadhrat Abu Hurairah pun semakin merasa khawatir, jangan-jangan ia tidak kebagian. Tetapi, dengan terpaksa ia pun memberikan semangkuk susu itu satu persatu seara bergiliran kepada setiap ahli sufa sampai sekenyangnya. Setelah selesai, beliau pun memberikannya kepada Rasulullah Saw, yang sambil tersenyum bersabda: "Ya Abu Hurairah sekarang tinggal kita berdua yang belum kebagian.   Silakan engkau dulu yang minum, kata beliau sambil memberikan mangkuk susu itu kepada Abu Hurairah r.a., yang langsung meminumnya sampai kenyang. Ketika ia berhenti minum, Rasulullah Saw. tersenyum dan bersabda: "Silakan minum lagi". Begitu seterusnya sampai tiga kali. Setelah itu, sebagai orang yang terakhir, sambil mengucap "Bismillah" beliau Saw pun meminum susu tersebut. Begitulah Tuhannya Muhammad Saw, memberi rezki semangkuk susu tetapi dapat mencukupi sekian banyak orang.

Kemudian Huzur menerangkan, bahwa Rasulullah Saw melarang berpuasa yang tanpa diawali makan sahur. Tetapi seorang sahabah mempertanyakan beliau yang suka berpuasa tetapi tanpa makan sahur. Maka Rasulullah Saw menjawab: "Adakah di antaramu yang menyamai aku? Tuhanku memberikan rezki makanan dan minuman sedemikian rupanya kepadaku".

Di zaman kini, abdi beliau Saw yang sejati, ialah Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah dikaruniai Allah hal yang serupa ketika beliau menjalani tirakat berpuasa selama enam bulan terus menerus. Huzur menerangkan bagaimana Hadhrat Masih Mau'ud a.s. mendapatkan berbagai pengalaman rohani karenanya.

 

1 Panci Kari Untuk 1.000 Orang

Selanjutnya Huzur menceritakan satu hikmah dari kisah Perang Chandak (Battle of Ditch / Perang Parit) yakni ketika Rasulullah Saw dan sebagian besar kaum Muslim mengalami kelaparan berat. Salah seorang sahabah yang mengetahui hal ini menemui istrinya, adakah makanan yang tersedia. Istrinya menjawab, ada sedikit daging domba dan tepung bahan roti. Maka ia pun memerintahkan istrinya agar segera memasaknya untuk Rasulullah Saw. Kemudian ia menemui beliau Saw, dengan setengah berbisik ia berkata, bahwa masakan sedang disiapkan. Rasulullah Saw dipersilakan datang bersama beberapa orang sahabah saja. Tetapi Rasulullah Saw menjelaskan kepadanya, bahwa jumlah yang kelaparan mencapai 1.000 orang. Lalu beliau pun mengumumkan, bahwa mereka semua dapat datang bersama beliau ke rumah itu untuk mendapatkan makanan. Namun, beliau berpesan kepada tuan rumah agar jangan mengangkat kuali masakan dari tungkunya, sebelum beliau datang. Begitu pun adonan roti, jangan dimasak dulu. Ketika tiba   di rumah itu, beliau Saw langsung berdoa di dekat kuali masakan dan adonan roti, lalu memerintahkan tuan rumah untuk mulai memasaknya. Sejurus kemudian makanan dibagikan. Tiap orang mendapatkan makan sampai kenyang sepuasnya, yang masakannya berasal dari kuali yang terus menerus berproduksi hingga semua orang kebagian. Inilah salah satu contoh mukjizat Allah Taala, yang tiada lain merupakan perwujudan istimewa dari sifat Rububiyyat-Nya.

Huzur bersabda,  di akhir zaman ini Allah telah mengaruniai kita Hadhrat Imam Mahdi / Al-Masih Masih a.s. yang berasal dari ummat seorang Rasul yang paling dicintai-Nya, yang telah meyakinkan Sifat Rabul-Alamin Allah Swt kepada kita. Kemudian Huzur membacakan beberapa ringkasan sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s., yakni: "Sebagaimana Rasulullah Muhammad Saw adalah Khattaman Nabiyyin, maka aku adalah Khattamul-Khulafa. Dan aku diutus untuk memperbaiki seluruh dunia".

 

"Alaisallahu bi-kaffin abdahu" & Nusrat Jahan Scheme Untuk Seluruh Dunia

Selanjutnya Huzur menyampaikan beberapa peristiwa mukjizat di dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang menggambarkan betapa Allah Taala telah menolong dan memperkuat missi beliau pada saat dan dengan cara yang istimewa. Terutama adalah khabar gaib tentang ajal yang sudah mendekat atas ayahanda beliau, yang membuat beliau menjadi gelisah akan nasib masa depan kehidupan beliau. Namun Allah Taala memperkokoh diri Hadhrat Masih Mau'ud a.s.  dengan wahyu: "Alaisallahu bi-kaffin abdahu, yakni, Apakah Allah tak cukup bagi hamba-Nya ?  (39:37).

Menerangkan lebih lanjut makna ikhtisar berbagai sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang mengemukakan betapa Allah Taala akan memelihara anak keturunan beliau, Huzur bersabda, sebelum itu beliau pun mengalami saat-saat yang diliputi kecemasan bagaimana cara mencukupi kebutuhan generasi penerus beliau. Namun, setelah terus menerus ber-istiqamah memohon pertolongan-Nya, Allah Rabul-Alamin pun memantapkan generasi penerus anak keturunan beliau. Yakni, suatu generasi keluarga yang kelak akan membantu seluruh dunia [melalui Badan Nusrat Jahan Scheme].

Inilah Tuhan Semesta Alam yang telah terbukti mewujudkan penampakkan Kekuasaan-Nya melalui Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw, dan kini untuk yang kedua-kalinya, melalui Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

Huzur mengakhiri Khutbah beliau dengan doa Rasulullah Saw: "Laa ilaha ilalLaah, He is Great and is most Compassionate. Laa ilaha ilalLaah, He is the Lord of the great Heavenly Throne. Laa ilaha ilalLaah, He is the Lord of the heaven and the earth. Laa ilaha ilalLaah, He is the Lord of the noble Throne".

Huzur bersabda,  inilah suatu doa yang menyeluruh, yang hendaknya kita selalu ingat. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk menjadi hamba-Nya yang sejati.
 

transltByMAS  / LA121306

Friday, December 1, 2006

Ktbh 1 Des 06

Sifat Rabb Allah Taala (Part III)

 

(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba,

1 Desember  2006, di Masjid Baitul Futuh, London)

 
Pada Khutbah Jumah ini Huzur melanjutkan pembahasan masalah Sifat Rabb Allah Taala, terutama sifat Rabbul-Alamin, yakni Tuhan Semesta Alam.

Huzur membacakan ayat 67 Surah Al-Mumin (40:67): "Qul inni nuhiytu anbudalladziina tad'uuna min-dunillahi lammaa jaa'aniyalbayyinaatu mirrabi, wa umirtu an-uslima li-rabbil-alamiin" , yang artinya…………………………………………………………

Mengingatkan kembali Khutbah beliau pada Jumah yang lalu, Huzur bersabda, Allah telah menegaskan bahwa Dia adalah Maha Tunggal. Hanya Dia-lah Tuhan yang senantiasa mendengar rintihan doa-doa permohonan kita; bahkan sudah menyediakannya tanpa diminta. Maka bagi mukminin sejati, kewajiban mereka hanyalah bersyukur kepada-Nya. Senantiasa khusyu beribadat kepada-Nya, tidak terpengaruh oleh tipu daya syaitan.

Huzur kemudian memerinci betapa berkat dan karunia Allah tak terhingga ada di sekeliling kita. Bagaimana Dia sejak waktu yang tak terhingga sudah menyediakan berbagai bahan sandang, bahan pangan, sumber-sumber air minum, dlsb. Contohnya, adalah ulat-sutera, yang dapat diolah menjadi bahan pakaian mahal. Juga minyak mentah di perut bumi, yang memberi kemudahan [transportasi] bagi manusia di zaman modern ini.   Maka sungguh memprihatinkan apabila manusia, alih-alih bersyukur kepada Tuhan atas segala rahmat dan karunia-Nya itu, mereka malah berpaling daripada-Nya. Oleh karena itu, kaum Ahmadi hendaknya senantiasa bersyukur kepada Tuhan, sebagaimana Dia telah mengajarkannya. Bila kita merenungkan hal ini, wujud Tuhan yang diterangkan di dalam Al-Quran, dan yang telah diyakinkan oleh Rasulullah Muhammad Saw, adalah Tuhan pemberi rahmat dan karunia. Hanya Dia-lah sembahan kita.

Merujuk kepada ayat Quran di awal Khutbah, Huzur bersabda,   para arif billah sejati memberi kesaksian kepada kita dengan penuh suka cita bahwa memang tiada tuhan selain Allah, Rabbul-Alamin, Tuhan Semesta Alam. Tiada yang patut disembah selain Dia. Mereka itulah golongan orang-orang yang hanya memohon kepada-Nya. Tiada pernah menyeru kepada sesembahan lain.

 

Berpegang Teguh Pada Tali Allah

Huzur bersabda, Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang sejati. Di zaman sekarang ini, sesuai khabar gaib Rasulullah Saw, demi menyaksikan keadaan dunia Islam yang carut-marut, Allah pun mengutus seorang Penyeru umat manusia untuk kembali kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Dengan mengutus Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Allah mempermudah kemajuan rohani manusia.

Membacakan ayat 194 Surah Al-Imran (3:194): "Robbannaa innanaa sami'na munaa-diyayyuna diilil-iimaan an-aminu birobbikum fa-aamanna, robbana faghfirlana dzunuubanaa wa kaffir'anna syayyiatinaa wa tawaffanaa ma-al-abror ; yang artinya……………….;Huzur lebih lanjut menerangkan dan membuka rahasia pentingnya menyerahkan diri kepada Tuhan.

Huzur bersabda,  kita bersyukur atas adanya karunia Allah dalam wujud Hadhrat Masih Mau'ud a.s., dan oleh karenanya berdoalah, bahwa dikarenakan kami sudah beriman kepada Imam Zaman, maka terimalah doa-doa permohonan kami. Jangan biarkan kami dalam keburukan. Dan bersihkanlah kami dari segala dosa.

Sehingga, ketika tiba waktunya hadir di hadapan Tuhan, kita dapat membuktikan sebagai orang-orang yang teguh imannya kepada seruan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., dan telah berjuang membersihkan keburukan-keburukan dunia.

Bertafakurlah dan periksalah diri apakah setelah mendengar seorang Penyeru, kesaksian kita dalam berserah diri kepada Allah benar-benar sudah sesuai dengan kenyataan ? Apakah kita sudah bersiteguh bahwa seruan Allah telah menjadi saksi ataukah sudah terpengaruh oleh lingkungan ?

Semoga Allah memudahkan setiap Ahmadi untuk sungguh-sungguh memahami dan mengamalkan doa-doa penting ini. Akan tetapi, hendaklah diingat, tidaklah cukup hanya dengan menyeru Allah agar kita termasuk orang-orang yang bertaqwa, namun tidak mawas diri apakah sudah sesuai dengan ajaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s., ataukah tidak ?

 

Seruan Khalifah Seruan Untuk Seluruh Dunia

Manakala kita memohon pertolongan Allah, hendaknya diingat, bahwa petunjuk Tuhan meliputi seluruh dunia. Dari Benua Asia hingga Eropa dan Oseania. Pendek kata, seluruh semesta alam ada di dalam jangkauan-Nya. Manakala Dia berkehendak, Dia dapat membuat seorang manusia menjumpai-Nya, dan peraturan hukum-Nya pun dilaksanakan.

Menerangkan lebih lanjut hal penting ini, Huzur bersabda,   manakala beliau menyampaikan sesuatu khutbah atau pidato yang khas di suatu tempat, setengah orang Ahmadi menyangka bahwa nasehat petunjuk tersebut hanyalah untuk daerah itu saja. Pikiran keliru seperti itu janganlah menjadi sikap seorang   Ahmadi pun. Sebab, manakala suatu khutbah atau pidato berdasarkan petunjuk Ilahi disampaikan [oleh seorang Khalifah] hal ini berarti juga untuk seluruh Ahmadi di manapun mereka berada. Pemahaman yang benar ini akan membuat hubungan kita menjadi harmonis. Dari aspek ini saja kita dapat menjadi hamba Allah Yang Ahad, Rabbul-Alamin, Tuhan Semesta Alam.

Huzur menjelaskan, baru-baru ini beliau menyampaikan Khutbah Jumah mengenai masalah rumah tangga dan pidato di hadapan [Ijtima Nasional] Lajna Imaillah UK mengenai Pentingnya Menjaga Pardah. Tetapi kemudian mendapat khabar bahwa ada setengah kaum lelaki dan perempuan dari suatu bagian dunia yang keliru menyangka bahwa nasehat tersebut hanya untuk Jamaat UK saja.

 

Tontonlah MTA-Satellite Broadcasting or www.mta.tv

Dengan adanya berbagai kemudahan komunikasi seperti sekarang ini, dunia kita bagai menjadi satu tempat. Namun, hal ini pun membawa dampak buruk sedemikian rupa di mana-mana. Maka untuk memeranginya, Allah Taala telah mengaruniai kita dengan MTA (Muslim Television of Ahmadiyya), yang dengan perantaraannya perhatian setiap orang dapat langsung ditarik ke dalamnya, untuk memecahkan setiap permasalahan mereka. Pendek kata, manakala keburukan menyebar, seketika itu juga kebaikan menghadangnya.

Merujuk kembali kepada ayat Al-Quran yang telah dibacakan di awal Khutbah, Huzur bersabda, manakala kaum Muslimin diseru berdasarkan perintah Allah di dalam nasehat tersebut, sudah barang tentu, setiap orang Ahmadi akan merasa terikat di dalamnya.

Tujuan kita hendaklah agar menjadi orang-orang yang senantiasa mencari Rahmat dan Berkat-Nya agar menjadi hamba-Nya yang sejati, pewaris sorga al-Jannah. (89:30,31). Juga senantiasa bersyukur atas Karunia-Nya, agar kita mudah menjadi yakin dan beriman. Kita harus terus berdoa agar senantiasa dapat beramal-saleh (27:21) dan diberkati-Nya. Sebab, bagi mereka yang berdoa dan beramal saleh seperti itulah yang akan memperoleh Keridhaan-Nya (89:30, 31) serta memperoleh Karunia Khas-Nya. Adalah penting untuk diingat, bahwa agar doa-doa menjadi makbul, persyaratannya adalah beramal-saleh.

 

Jangan Bodoh Dalam Mencari Jodoh

Huzur bersabda, sesuai dengan hukum alam, janganlah memohon sesuatu yang di luar kepatutan; yang justru akan memperlihatkan kedunguan. Huzur menghubungkan hal ini dengan adanya seseorang yang mengirim surat kepada beliau, mengeluhkan bahwa Bidang Rishta Nata di Jemaatnya tidak berusaha membantu mencarikan jodoh baginya. Ketika Huzur meminta penjelasan hal ini [kepada Pengurus], dilaporkan kepada beliau, bahwa sudah beberapa wanita disampaikan kepadanya, namun tidak berhasil. Penyebabnya adalah, pemuda yang hanya lulusan setingkat SLTA tersebut menginginkan wanita lulusan pasca-sarjana (Master). Lalu meminta syarat uang kontan plus rumah untuk emas-kawinnya, dan pihak wanita yang menanggung biaya hidup sehari-hari, serta jangan disuruh bekerja. Huzur bersabda, orang semacam itu dapat dikategorikan sebagai sakit jiwa. Bidang Rishta Nata tak perlu menanggapinya lebih lanjut.

Ada juga setengah kaum lelaki yang pada awalnya tidak mensyaratkan sesuatu permintaan, tetapi setelah berumah-tangga sikapnya mulai seperti itu. Manakala mereka bermaksud meminta sesuatu kepada keluarga pihak istrinya, mereka pun mulai membuat berbagai masalah dan bersikap kasar atau mengancam. Semoga Allah memberi karunia. Sebab, orang seperti itu adalah orang bodoh yang menyulitkan dirinya sendiri. Karena, tak ada seorang manusia pun yang dapat menyulitkan Allah. Orang-orang seperi itu tidak memahami sifat Rubbubiyyat Allah Taala. Tidak menyadari, bahwa doa dapat membuka pintu-pintu rahmat. Bagi orang yang tidak memahami Tuhannya, dan luput dari kebaikan ini, hendaknya banyak-banyak berdoa seperti Nabi Ibrahim a.s. yang telah diberi pemahaman yang mantap, [ialah:"Rabbi habli hukmaw-wa-alhiknii bishaalihiin, waj-allii-lisana sidqin fil-aakhiriina; waj-alnii miw-warasati jannatin-naim"; yang artinya …………….  (Ayat 84, 85 dan 86 Surah Al-Shu'ara (26:84,85,86).

Huzur bersabda,  setiap orang hendaknya berusaha menegakkan kebenaran, dan agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang muttaqin sebagai hasil dari doa-doanya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akan tetapi, tarbiyat dasar kebenaran haruslah senantiasa diingat oleh semua. Setiap orang hendaknya ingat akan hal ini: Bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Sehingga mereka pun mudah bersyukur kepada Allah atas segala Karunia-Nya. Dan menjadi pewaris Rahmat-Nya.

 

Senantiasa Ber-Istighfar

Huzur bersabda, manusia hendaknya sadar atas segala urusannya di siang hari, dan memeriksa diri pada malam hari, sejauh mana ia teguh dalam kebenaran. Bila ada kaidah ketakwaan dan kejujuran pada setiap hari dan malamnya, tentulah falah keberhasilan yang didapatkan. Bila tidak, maka doa-doa yang merujuk kepada sang Penyeru adalah menipu diri sendiri dan Allah.

Manusia tercipta dengan segala kelemahan dan kekhilafannya. Oleh karena itu, berusaha keraslah untuk menghindarinya dan memohon pertolongan Allah. Dia Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun telah mengajari kita bagaimana cara memohon ampun melalui Istighfar. Dan Dia menerima Istighfar yang dipanjatkan dengan seikhlasnya dan dengan kerendahan hati.

Kita yang telah menerima kebenaran Imam Mahdi, berarti telah mengarahkan wajah kepada Tuhannya Muhammad Saw; Tuhan Semesta Alam; Harus berusaha keras menjalani kehidupan yang sesuai dengan perintah-Nya. Hanya kepada Allah-lah setiap Ahmadi berserah diri sedemikian rupanya sebagaimana Imam Zaman telah memberikan contohnya.

Di akhir Khutbah, Huzur membacakan beberapa sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang berkaitan dengan topik pembahasan ini.