Monday, November 26, 2007

Timbulnya Berbagai Musibah Bencana dan Kesusahan

Dari Sudut Pandang Kedatangan Imam Zaman

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

23 November 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK

----------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Huzur menerangkan sebab akibat terjadinya berbagai bencana yang kini tengah melanda seluruh dunia, dari sudut pandang kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud / Imam Mahdi a.s.

Huzur bersabda, saat ini di seluruh dunia, baik di Barat maupun di Timur, ataupun di negara-negara maju maupun negara berkembang, semuanya tengah dilanda berbagai musibah. Sebagian mengkhawatirkan banyaknya gangguan di dalam negeri. Sebagian lagi mengalami ketakutan yang sangat akan ancaman terorisme internasional yang ditimbulkan oleh sikap politik ataupun yang mereka istilahkan berdasarkan agama – karena sesungguhnya tak ada satu pun agama yang sejati yang mengajarkan terrorism; khususnya lagi agama Islam. Sebab, di dalam Islam sangat diharamkan bagi seorang warganya untuk melakukan perbuatan makar. Namun, memang sangat disesalkan apabila ada pihak tertentu yang melakukan kekerasan atas nama agama.

Kemudian, banyak lagi negara yang tengah bergelut mengatasi berbagai bencana alam mereka. Pendek kata, setiap orang yang bersimpati kepada perikemanusiaan dan takut kepada Allah namun tidak berdaya, akan berkesimpulan, bahwa kini seolah tak ada lagi rasa tenteram hidup di dunia ini. Akan tetapi, pada situasi seperti sekarang ini, justru kaum Ahmadi-lah yang merasakan nikmat ketenteraman hati. Huzur bersabda, beliau banyak mendapat infomasi, baik dari dalam [Jemaat] maupun dari berbagai sumber lainnya, sebagian besar orang Ahmadi memprihatinkan situasi global maupun dalam negeri mereka saat ini. Sikap keprihatinan ini timbul sebagai dampak positif inqillabi-haqiqi keimanan mereka berkat ajaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Karena sesungguhnyalah salah satu tujuan kedatangan beliau adalah untuk menguatkan iman manusia sekaligus menunjukkan keberadaan Tuhan. Sebaliknya, keadaan manusia yang mengalami berbagai kecemasan ini dikarenakan mereka hanya mengandalkan berbagai hal kepada material-duniawi. Terputus hubungan mereka dengan Tuhan. Maka sabda beliau a.s., beliau adalah diutus untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakan mereka, dan juga untuk membatalkan kekerasan atas nama agama. Huzur bersabda, dua hal utama perintah di dalam Alqur'an adalah berkaitan dengan cinta kepada tauhid Ilahi dan sikap simpati kepada sesama manusia.


Huzur bersabda, kita beruntung sudah menerima kebenaran Imam Zaman, yang diutus untuk memperbaiki dunia yang kini tengah dilanda sikap mementingkan diri sendiri. Dia menunjukkan jalan untuk menghindari diri dari keburukan tersebut. Maka tugas setiap orang Ahmadi-lah untuk menunjukkan tauhid-Ilahi, menunjukkan hubungan pribadi mereka dengan Allah Swt, sekaligus bersimpati kepada sesama manusia. Huzur bersabda, sudah sejak lebih dari seratus tahun yang lalu Jemaat ini sudah berkhidmat, memperlihatkan hal itu semua dengan sebaik-baiknya.

Kita harus senantiasa berusaha dan menjelaskan kepada dunia, latar belakang sebab-musabab timbulnya berbagai bencana alam maupun gangguan keamanan yang kini tengah terjadi di sekeliling kita. Lakukanlah sesuai kemampuan yang ada. Melalui surat kabar ataupun media massa lainnya, serta berbagai cara yang lain. Sampaikanlah pesan tabligh, bahwa berbagai macam ketidak-nyamanan ini tidak akan berakhir, dan ketenteraman akan sulit didapat apabila pelecehan dan kekerasan terhadap seorang yang diutus Tuhan masih terus dilakukan. Badai taufan, berbagai musibah, bencana alam ataupun cuaca ekstrim akibat perubahan iklim global dlsb, akan terus mendera. Hendaklah direnungkan; sudah lebih dari seratus tahun yang lalu seseorang telah mengingatkan, jika manusia tidak peduli terhadap pesan Ilahi ini, maka Dia pun akan menujukkan [hukuman-Nya] melalui berbagai bencana alam. Beliau pun sudah mengingatkan akan adanya berbagai macam gempa bumi, yang tingkat dan macam penggenapannya sungguh menakjubkan selama periode seratus tahun belakangan ini.

Merujuk kepada badai taufan dan banjir di Bangladesh, Huzur bersabda, mereka mengatakan hal itu merupakan badai taufan terbesar selama 47 tahun terakhir ini, yang menyebabkan 600,000 orang telah kehilangan tempat tinggalnya. Ditambah dengan berbagai kerugian material lainnya. Namun dengan karunia Allah Swt, meskipun sejauh ini tidak ada kaum Ahmadi yang dilaporkan mengalami sesuatu kerugian yang fatal. Huzur bersabda, sejumlah pekerja sukarela dari Humanity First UK (Jemaat Inggris) dan [Jemaat] Canada sudah berangkat ke Bangladesh membawa berbagai bantuan yang diperlukan. Nyatalah, Jemaat [Ahmadiyah] senantiasa siap sedia menolong penderitaan orang lain di manapun berada, sebagaimana telah dilakukan di berbagai belahan dunia. Padahal, selama tak kurang dari 2 (dua) tahun terakhir ini kaum Ahmadi di Bangladesh mengalami penganiayaan berat. Massa yang awam dan kurang berpendidikan dipengaruhi sedemikian rupa untuk merusak harta benda milik kaum Ahmadi; Akan tetapi, Jemaat Ahmadiyah senantiasa siap memberi bantuan manakala diperlukan. Inilah yang membedakan Jemaat Imam Mahdi a.s. yang sejati, karena beliau sendiri telah menyampaikan, bahwa salah satu tugas beliau adalah untuk bersimpati kepada sesama manusia.

Selanjutnya Huzur menyinggung keadaan di negara Pakistan. Di sana, selama ini kaum Ahmadi dilarang mengucapkan Allahu Akbar; dilarang mengucapkan Shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Mereka mengatakan amal shalih tersebut adalah perbuatan kriminal yang harus dikenai hukuman penjara selama beberapa tahun. Mereka tidak sadar, bahwa mereka tidak akan berhasil merampas kecintaan kepada Allah dan kepada Rasulullah Saw dari qalbu setiap orang Ahmadi.

Masih segar dalam ingatan ketika 2 (dua) tahun lalu gempa bumi kuat mengguncang wilayah Pakistan. Ratusan ribu orang menjadi korban. Namun, meskipun berbagai penganiayaan berat - yang didukung pemerintah Pakistan melalui pemberlakuan Undang-undangnya yang buruk - dilakukan terhadap kaum Ahmadi, Jemaat ini tetap memberikan bantuan dalam jumlah besar. Kita mendirikan sejumlah tenda bantuan darurat yang berlangsung selama beberapa bulan. Salah satu tenda bantuan kesehatan dicoba dibakar oleh mereka yang anti, agar ditutup. Namun kita tetap melanjutkan bantuan. Pasca gempa bumi kuat tersebut, sebagian besar masyarakat di sana masih mengalami gangguan psikologis. Maka Jemaat mendirikan pusat rehabilitasi khusus untuk pasien tersebut di Kashmir dengan biaya besar. Huzur bersabda, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah menanamkan sikap untuk mengkhidmati manusia dengan ikhlas di dalam diri kita. Menyoroti situasi terakhir di Pakistan, keletihan, akibat berbagai gangguan, pembunuhan dan kekacauan tengah berlangsung. Pihak pemerintah dan pegawainya saling menantang, kaum politisi berusaha menarik keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri. Pihak judikatif, dan penegak hukum pun demikian. Sebelum ini pun, ada pemerintahan dalam pemerintah di   Islamabad. Kini, terjadilah pemberontakan di Sawat (suatu wilayah di Pakistan). Satu surat kabar melaporkan, kaum bersenjata tersebut dulunya membantu pemerintah, tetapi sekarang mereka berbalik melawan. Tak ada ancaman dari luar, tetapi jika tentara harus memerangi musuh dalam selimut, justru lebih berbahaya.

Huzur bersabda, pada tahun 1974 ketika pemerintah Pakistan menyatakan kaum Ahmadi sebagai non-Muslim  mereka menuduh bahwa Rabwah dibangun untuk mendirikan pemerintahan sendiri. Tak sadarkah mereka kini: Adakah pemerintahan di Rabwah ?   Ataukah contoh makar yang nyata di Sawat itu ? Kaum Ahmadi senantiasa menghormati hukum, bahkan meskipun tanah hak milik mereka dirampas pihak lain. Alih-alih melawannya dengan kekerasan, kaum Ahmadi menempuh jalur hukum. Akan tetapi, setelah berlangsung selama 30 (tiga puluh) tahun, Pengadilan Tinggi masih belum memberikan keputusan. Sementara itu, berbagai bangunan ilegal dibiarkan berdiri di atasnya. Ketika mereka diberi tahu masalah ini melanggar hukum dan pelecehan terhadap Pengadilan Tinggi, mereka menjawab, apa pedulimu. Ini tanggung jawab kami.
Huzur bersabda, karena situasinya demikian, hal terburuk yang dapat terjadi adalah merajalelanya korupsi di setiap departemen di negara tersebut. Ini dikarenakan iman mereka sudah memudar, dan peringatan akan adanya Hari Pengadilan (Yaumid-Din) dianggap cerita belaka. Jika direnungkan, semua kekacauan, musibah dan gangguan yang tengah dialami negara tersebut dikarenakan mereka telah menolak Imam Zaman.


Huzur bersabda, dalam situasi negara diberlakukan dalam keadaan darurat, Undang-undang dan Peraturan Negara dibatalkan. Namun, Undang-undang yang sangat buruk, yakni yang menyatakan kaum Ahmadi non-Muslim tetap dinyatakan berlaku. Huzur bersabda, ketakutan mereka terhadap pihak yang dapat menyebarkan terror atas nama agama melebihi rasa takut mereka kepada Tuhan.


Huzur menghimbau kita semua untuk mendoakan negara Pakistan dan kaum Ahmadi di Pakistan, agar jangan sampai dijadikan sasaran. Adalah tanggung jawab kita dengan berbagai cara untuk mengingatkan mereka, bahwa hal tersebut sama halnya dengan mencampuri Undang-undang Ilahi. Huzur bersabda, sebagian orang yang berpikiran waras mulai menyuarakan pendapat mereka, bahwa semua hal yang kini membahayakan situasi negara Pakistan adalah dikarenakan Allah Taala sudah murka. Namun agaknya masih kurang jelas bagi mereka, mengapa Tuhan murka terhadap mereka.  Padahal sudah jelas dinyatakan, bahwa Allah Taala akan memperlihatkan tanda-tanda dukungan-Nya atas setiap pendakwaan beliau [Hadhrat Masih Mau'ud a.s.]. Perhatikanlah hal ini !

Mereka tidak hanya memberlakukan berbagai Undang-undang yang aniaya, bahkan membiarkan kaum Ahmadi disyahidkan hanya dikarenakan mereka orang Islam-Ahmadiyah. Meskipun satu atau dua pengadilan telah digelar untuk kasus kriminal ini, namun selama Undang-undang tersebut masih diberlakukan, maka setiap pemerintahan yang berdiri, akan berpartisipasi dalam keaniayaan ini.

Huzur bersabda, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Oleh karena itu, kita sampaikan kepada pemerintah Pakistan dan bangsanya, bahwa jika mereka ingin menghindari hukuman Tuhan, berlakulah adil. Ambilah pelajaran dari situasi yang kini tengah terjadi di   Afghanistan. Dulu, 2 (dua) orang Ahmadi terkemuka disyahidkan di negara tersebut – dan sudah dikhabar-gaibkan kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bahwa di tempat dimana 2 (dua) orang tersebut disyahidkan, Allah Swt akan menjadikan bangsa-bangsa tersebut menjadi jamaah beliau. Kini, ada kaum Ahmadi di Afghanistan, meskipun tidak banyak, namun sudah menunjukkan kebenaran janji Ilahi tersebut. Peringatan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. kepada negeri Kabul telah sempurna, sehingga orang yang merenungkannya akan berkesimpulan, bahwa semua ini memang berasal dari Allah Swt.

Huzur bersabda, satu hal yang ingin beliau ingatkan kepada seluruh anak bangsa [Pakistan] ini adalah gunakanlah akal sehat. Dan jangan mendewakan manusia. Negara Pakistan didirikan dengan maksud untuk memberikan kebebasan kepada kaum Muslimin. Qaid Azam / Pemimpin Besar (Muhammad Ali Jinnah) telah membawa kaum Muslimin dari keaniayaan, dan memberi mereka negara yang di dalamnya ajaran Islam dapat dipraktekkan. Demikian pun berbagai agama lainnya. Kebebasan beragama dan hak-hak azasi setiap warga negaranya dijamin. Akan tetapi sayang, berbagai pemerintahan yang datang silih berganti telah ikut campur dalam urusan agama. Bertindak tidak adil. Dan tidak menegakkan amanat keadilan dalam pemerintahan mereka. Malah melakukan penganiayaan sedemikian rupa terhadap golongan yang beriman.

Huzur bersabda, kami kaum Ahmadi demikian cintanya kepada negara Pakistan. Dalam perjuangan merebut  kemerdekaannya, kami banyak memberikan pengorbanan, demikian pun berbagai peperangan sesudahnya. Kini pun kita memberikan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk membantu mereka, ketika dibutuhkan. Huzur bersabda, beliau berharap para Ahmadi Pakistani dimanapun mereka berada, senantiasa mencintai negaranya, yang untuk itu mereka mendoakan. Demikian besarnya jumlah orang Ahmadi di Pakistan, dan berkat doa-doa merekalah Pakistan terselamatkan. Sebaliknya, berbagai aksi mereka yang menamakan diri kaum patriot justru membawa [negara itu] ke jurang kehancuran.

Huzur kemudian mengomentari pernyataan seorang Anggota Parlemen Eropa, yang mengatakan agar jangan menghentikan bantuan untuk negara Pakistan karena akan berdampak buruk terhadap kaum miskin. Namun sebaliknya, sabda Huzur, seorang pemimpin di sana [ Benazir Bhutto] dan lainnya mengatakan, bantuan dari Uni Eropa harus dihentikan, agar rezim yang sedang memerintah mengalami tekanan. Nyatanya, berbagai pihak di Pakistan praktis telah mengundang pihak luar untuk ikut campur di dalam negeri mereka. Dan dengan bangga menyatakan, bahwa mereka telah dapat mengatasi masalah yang telah berlangsung selama 90 tahun.

Semoga Allah memberi karunia kepada negara ini. Bila pun ada beberapa pemimpin yang tidak berperasaan tidak dapat diperbaiki lagi, semoga Allah memberi negarawan yang baik, yang berkenan di hati; untuk itulah hendaknya setiap Ahmadi, khususnya Ahmadi Pakistani, baik yang tinggal di Pakistan maupun di luar negeri, agar mendokan hal ini.

Selanjutnya Huzur menyinggung situasi di Indonesia. Saat ini gerakan anti-Ahmadiyyah lainnya tampak merebak lagi. Di berbagai daerah, beberapa rumah dan masjid milik orang-orang Ahmadi diserang, dan orang-orangnya diancam. Beberapa instansi / departemen pemerintah tampak berdiri menyokong di belakang situasi   tersebut untuk menciptakan kesan salah, bahwa negara menjadi tidak stabil dan membahayakan, sehingga dapat melapangkan jalan mereka untuk membuat pelarangan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Akan tetapi Allah akan menggagalkan rencana buruk mereka. Mereka pikir mereka dapat menghabisi Jemaat dengan cara itu. Mereka sudah merencanakan dan mengupayakannya hal semacam itu sejak seratus tahun ini. Kalaulah Jemaat ini buatan manusia, tentu sudah habis sejak lama. Akan tetapi, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah dijanjikan oleh Allah Taala, bahwa Jemaat ini akan berhasil dan terus tumbuh berkembang. Oleh karena itu kita tidak khawatir bahwa mereka akan berhasil menghabisi Jemaat Ahmadiyyah, ataupun memasung perkembangannya di Indonesia. Dengan karunia Allah Taala, kaum Ahmadi Jamaat Indonesia dikenal baik semangat pengorbanannya; Bila pun ada satu dua orang yang menjadi lemah imannya, Allah Taala menggantinya dengan lebih banyak lagi orang-orang yang kuat keimanan dan keyakinannya.

Huzur bersabda, kita menyaksikan kebenaran wahyu yang diterima Hadhrat Masih Mau'ud a.s.: "Aku akan sampaikan tablighmu ke seluruh pelosok dunia"; yang penggenapannya senantiasa lebih mulia dan bertambah-tambah lagi pada setiap harinya. Kita tidak perlu mengkhawatirkan Jemaat. Yang perlu diprihatinkan adalah semoga Allah melindungi orang-orang Ahmadi dari segala keburukan. Huzur bersabda, kaum Ahmadi di seluruh dunia harus senantiasa ingat, agar jangan main hakim sendiri. Akan tetapi juga jangan sampai lekang mengkhidmati manusia karena berbagai penentangan terhadap mereka. Dan tidak pula mengendurkan upaya pertablighan Dai Ilallah.

Huzur bersabda, beberapa tahun yang lalu ketika gempa tsunami menyapu Indonesia, pada sat itu tengah terjadi gerakan anti-Ahmadiyah yang sengit. Namun, kita tetap membantu mereka, karena dengan karunia Allah Swt qalbu kita senantiasa dipenuhi rasa simpati terhadap penderitaan manusia. Adalah kewajiban kita untuk membantu mereka meskipun mereka akan berusaha menyengat kita kembali. Karena ganjaran pahala kita tidak tergantung kepada mereka. Hanya Allah-lah yang memberikan karunia-Nya. Tugas kita hanyalah menebar kebaikan demi untuk menarik keridhaan-Nya. Untuk itu, setiap Ahmadi hendaknya bekerja keras disertai dengan doa dan sabar istiqamah. Jangan merasa lelah karena penganiayaan, karena kewajiban harus tetap dilaksanakan.

Membacakan ayat 2 dan 154 Surah Al Baqarah, Huzur bersabda, ayat-ayat ini memerintahkan kita agar kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati (tawadhu); karena berbagai penganiayaan ini hanya cobaan, yang memerlukan kesabaran dan istiqamah agar dapat terus merambah maju bergerak. Menghadapi berbagai cobaan ini kita tidak perlu meminta bantuan kekuatan duniawi, melainkan hanya kepada Allah Swt saja. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi keburukan. Pertolongan Ilahi segera datang dengan segala kebesarannya. Kemenangan nyata Jemaat ini adalah penggenapan kebenaran janji Ilahi, bahwa pada akhirnya Jemaat Ahmadiyah, Islam yang sejati inilah, yang akan unggul.

Membacakan ayat 48 Surah Ibrahim (14:48), Huzur bersabda, setiap Ahmadi hendaknya yakin, bahwa sesuai dengan janji Ilahi ini, pertolongan Allah senantiasa menyertai Jemaat yang dikasihi-Nya ini. Huzur mendoakan, semoga para penentang kita tidak menjadi mangsa hukuman Allah Swt – sebagaimana dikemukakan oleh ayat ini – disebabkan oleh kedunguan mereka. Semoga mereka menyadari peringatan Ilahi ini.

Huzur bersabda, boleh jadi mereka dapat menyusahkan kita untuk sementara waktu. Akan tetapi mereka sekali-kali tidak akan berhasil merampas ketenteraman hati dan ketenangan pikiran sebagai buah karunia keimanan kita. Kita senantiasa memohon bantuan Allah dan berdoa, "ihdinaa shiratal mustaqiim", tunjukilah kami jalan yang lurus. Tidak menunjukkan ketergesa-gesaan. Karena tugas kita-lah untuk memperlihatkan sikap sabar yang tinggi, sehingga kita menjadi pewaris berbagai karunia   Allah Swt.

Setelah membacakan ikhtisar berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur mengakhiri Khutbah dengan doa, semoga Allah memudahkan setiap diri kita untuk tetap melangkah di jalan ketakwaan, dan senantiasa memahami missi Ahmadiyyah, Islam yang sejati, sesuai dengan ajaran dan harapan Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

 

transltByMMA/LA112507; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI

Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.

Monday, November 19, 2007

Just for U to Share

Hak-hak Anak Yatim & Janda

Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba

16 November 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK 

Huzur membacakan 3 (tiga) ayat Alquran sebagai berikut: 
 
"And they ask thee concerning the orphans. Say, 'Promotion of their welfare is an act of great goodness. And if you intermix with them, they are your brethren. And Allah knows him who seeks to make mischief apart from him who seeks to promote the welfare of the orphans. And if Allah had so willed, He would have put you to hardship. Surely, Allah is Mighty and Wise." 2:221 
 
"And those of you who die and leave behind wives shall bequeath to their wives provision for a year without their being turned out. But if they themselves go out, then there shall be no blame upon you in regard to any proper thing which they do concerning themselves. And Allah is Mighty and Wise." 2:241 
 
"And the divorced women shall wait concerning themselves for three courses; and it is not lawful for them that they conceal what Allah has created in their wombs, if they believe in Allah and the Last Day; and their husbands have the greater right to take them back during that period, provided they desire reconciliation. And they (the women) have rights similar to those (of men) over them in equity; but men have a degree of advantage above them. And Allah is Mighty and Wise." 2:229 
 
Kemudian Huzur menerangkan hak-hak 3 (tiga) golongan masyarakat yang keadaannya sangat rentan, yakni, anak yatim, janda dan janda-cerai. Huzur bersabda, kaum mukminin diperintahkan kewajiban mereka terhadap 3 (tiga) golongan masyarakat ini. Harus dipastikan bahwa mereka tidak merasa terpinggirkan, atau menjadi peka. Untuk maksud itulah 3 (tiga) ayat Quran yang dirujuk ini selalu diakhiri dengan kata sifat-Nya Al Aziz (Yang Maha Gagah Perkasa) dan Al Hakim (Yang Maha Bijaksana). Hal ini untuk meyakinkan pihak yang lemah tersebut, yakni apabila mereka yang memiliki kekuasaan tidak bersikap adil terhadap mereka, masih ada Tuhan Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana yang akan menangkap dan menghukum mereka. Dia adalah sumber segala kekuatan, yang akan menindak para pelampau batas. 
 
Maka mereka yang mengakui kebenaran Alqur'an diingatkan, bahwa jika mereka mengabaikan perintah untuk menyantuni 3 (tiga) pihak yang lemah ini, padahal mereka mengaku beriman, akan dikenai hukuman. Oleh karena itu, mereka yang seharusnya dapat berperan dalam menciptakan keharmonisan sosial namun tidak mengacuhkannya, maka mereka bertanggung jawab jika timbul berbagai keonaran atau dampak negatif karenanya. Mereka yang terkait dengan tiga pihak yang lemah tersebut tetapi tidak menjalankan perintah ini, mereka diingatkan bahwa Tuhan Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana senantiasa mengawasi segala sesuatu. 
 
Ayat pertama dari ketiga ayat ini membicarakan masalah anak yatim. Alqur'an banyak memberi perintah yang berkenaan dengan menjaga hak-hak anak yatim, dan keharusan berbuat sabar terhadap mereka. Perlakukan mereka sebagai saudara, dan kewajiban untuk memelihara mereka, baik dari segi fisik, moral maupun rohaninya.  Jika mereka sakit, penyantunnya harus merasakan penderitaan yang sama. Demikianlah Allah menghendaki agar anak-anak yatim diperlakukan sebagai saudara. Pertumbuhan mereka harus senantiasa diingat. Dan harus menjadikan mereka sebagai bagian anggota masyarakat yang dinamis. Islam mengajarkan agar memelihara mereka dengan kasih sayang, namun harus bertindak tegas bila memang diperlukan, demi untuk memperbaiki kesalahan mereka. Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan terhadap saudara kandung.

Membacakan ayat 10 Surah Al Nisa (4:10) Huzur bersabda, peliharalah anak yatim, maka niscaya Allah pun akan melindungi dirimu dan anak keturunanmu dari segala penderitaan. Khususnya terhadap anak-anak yang orang tuanya mengorbankan jiwa raga demi agama; atau syuhada. Sehingga, anak keturunan para syuhada akan memiliki rasa bangga akan pengorbanan orang tuanya. Harus senantiasa diingatkan agar mereka merasa sebagai bagian dari Jemaat. Diperlakukan sebagai saudara. Ditumbuhkan kesadaran, bahwa Jemaat peduli dan memelihara mereka dengan nilai-nilai rohani yang baik.  
 
Sebagian orang tua anak yatim ada yang meninggalkan harta benda. Maka pihak sanak-saudaranya diperintahkan agar jangan mencoba menguasai harta benda mereka.

Membacakan ayat 7 Surah Al Nisa (4:7) Huzur bersabda, kadangkala ada saudara mereka yang tidak menyerahkan harta benda mereka ketika mereka sudah dewasa. Allah Taala tidak menyukai hal ini. Memelihara anak yatim haruslah disertai dengan niat yang ikhlas. Artinya, harta benda hak anak yatim bisa digunakan untuk biaya memelihara mereka semata dengan sangat hati-hati; tidak boleh digunakan untuk keluarga si wali pemelihara. [Karena ada beberapa wali yang menggunakan harta benda hak milik anak yatim untuk kepentingan diri mereka]. Hal ini, manakala mereka sudah dewasa dan menyadari haknya, timbulah pertikaian antar keluarga, bahkan hingga sampai ke Pengadilan. Ada juga yang membawa persoalan mereka kepada Jemaat. Bahkan ada yang melaporkannya kepada Huzur. Sesunguhnyalah ayat Alquran pertama di atas menegaskan, bila Allah berkehendak, Dia dapat menyusahkan orang yang memelihara anak yatim seperti itu. Artinya, bila memang keadaannya mendesak, diperbolehkan menggunakan harta benda mereka hanya untuk kepentingan diri anak yatim itu saja. Tidak untuk keperluan pihak si wali pemelihara. 
 
Karena sudah jelas dinyatakan di dalam ayat 11 Surah Al Nisa (4:11), barang siapa yang memakan harta benda milik anak yatim, sama halnya menelan bara api ke dalam perutnya. 
 
Adalah sangat penting mendidik para anak yatim menjadi aktif, dan berperan penting dalam masyarakat. Maksud  penekanan sifat Allah Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana di dalam ayat (2:221) adalah untuk menyadarkan, bahwa meskipun golongan yatim piatu tampak peka dan lemah, namun masyarakat hendaknya ingat akan Tuhan Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana yang akan menolong mereka. 
 
Ayat Alquran kedua yang telah dibacakan di awal Khutbah adalah Surah 2: ayat 241 yang mengemukakan golongan peka lainnya di dalam masyarakat, ialah para janda. Masyarakat di negara-negara berkembang umumnya tidak memperhatikan hak-hak pihak yang lemah ini. Bahkan golongan intelek pun memperlakukan mereka tidak adil. Kaum Muslimin dituntut untuk memenuhi hak-hak kaum wanita sebagaimana dinyatakan di dalam Alqur'an sejak 1,400 tahun yang lalu, pada mana masyarakat sekarang baru tersadarkan masalah ini. Merujuk kepada ayat (2:241) Huzur bersabda, sesungguhnya Islam memberi hak kepada para janda untuk mendiami rumah mendiang suaminya selama setahun bila ia menginginkannya. Ini adalah sebagai tambahan atas ketetapan periode waktu selama 4 (empat) bulan 10 (sepuluh) hari. Dasar pemikirannya adalah, janda tersebut harus diberi peluang waktu secukupnya bila seandainya rumah yang diwariskan almarhum suaminya itu ada hak orang lain juga di dalamnya. Maka orang tersebut haruslah menunggu dengan sabar selama setahun, setelah periode yang ditetapkan tersebut. Jangan berlaku kasar sedikitpun terhadap mereka. Namun, bila mereka mau meninggalkan rumah tersebut dengan ikhlas, persilakan. [Ia bebas untuk membuat keputusannya sendiri berdasarkan hukum ataupun syariat]. Inilah perintah Allah Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana, yang apabila tidak dilaksanakan akan mendapat hukuman. Petunjuk lainnya di dalam ayat ini ialah, apabila janda tersebut berkenan meninggalkan rumah warisan tersebut dikarenakan ia menikah lagi, hal itu afdhol, dan merupakan suatu keputusan yang baik. Pada sebagian masyarakat ada yang tidak menyukai bila seorang janda menikah lagi, meskipun hal ini baik. Huzur mengutip keprihatinan
Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. bahwa di sebagian masyarakat seperti di India, pernikahan kembali seorang janda dianggap dhoif dan mencoreng kehormatan keluarga. Padahal, di dalam ayat ini Allah Taala mengingatkan kita, asma-Nya yang lain adalah Al Aziz ( Yang Maha Gagah Perkasa); Dia adalah Pemilik Segala Kemuliaan; Dia menyatakan, seorang janda hendaknya menikah lagi; maka ini adalah peringatan bagi mereka yang bertentangan dengan perintah-Nya.  
Ayat ketiga yang telah dibacakan, adalah mengenai janda-cerai. Pada kasus perceraian, Islam memerintahkan suatu masa iddah bagi seorang janda yang akan menikah lagi. Dimanapun di dalam Alqur'an telah dinyatakan, janganlah menghalang-halangi rencana pernikahan mereka bila mereka dapat membuat keputusan sendiri. Bila setelah bercerai seorang perempuan mendapati dirinya hamil, ia harus memberitahukan ex-suaminya. Dijaizkan bila pihak suami menunjukkan kasih sayangnya untuk rujuk kembali. Dan keluarga terdekat yang terkait diperintahkan agar jangan ikut campur untuk menghalang-halangi niat rujuk mereka. Huzur bersabda, ada keluarga dari pihak wanita yang berusaha menghalangi usaha rujuk mereka, yang bertentangan dengan kenginan si wanita itu. Beliau banyak menerima surat dari pihak wanita yang menyampaikan bahwa keluarganya (orang tua kedua-belah pihak) mendesak menghalang-halangi niat rujuk mereka dengan alasan keliru demi kehormatan keluarga besar, sehingga merusak perkawinan mereka. Huzur bersabda, ayat ini menyatakan wanita dan pria memiliki hak yang sama atas satu sama lain. Tali perkawinan yang didasari atas ikatan perjanjian satu sama lain hendaknya pihak suami maupun istri berusaha untuk memenuhinya. Adalah perintah syariat Islam yang merevolusi keadaan masyarakat dengan cara memberi hak yang sama kepada kaum wanita, yang tidak ada di dalam agama lainnya. 
 
Huzur bersabda, pada zaman sekarang ini perceraian sudah menjadi kasus yang lumrah. Pihak pria hendaknya membuat berbagai keputusan setelah merenungkan dan memahami perintah yang terkait dengan perkara ini secara mendalam. Mendalami dan mengamalkan perintah ini dapat membuat tiap rumah tangga menjadi sakinah-mawaddah. Ayat ini pun mengemukakan dalam beberapa hal, pihak suami memiliki kelebihan atas pihak istri atas dasar kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai kepala rumah tangga; oleh karena itu pihak istri pun hendaknya menghormati aspek ini. Huzur bersabda, pria diciptakan sebagai penjaga atas wanita, dalam hal ini mereka memiliki tanggung jawab untuk memelihara rumah tangga mereka, sebagaimana diperintahkan oleh Allah
Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana. Dia-lah yang menetapkan hak-hak kaum pria maupun wanita; dengan menyisipkan kalimat Dia-lah Yang Maha Gagah Perkasa dan Maha Bijaksana menjadi jelas, bahwa kesewenang-wenangan yang melampaui batas kewenangan pria atas kaum wanita, Allah Yang Maha Gagah Perkasa senantiasa mengawasi mereka. Mereka dihargai memiliki kelebihan ini karena ada tuntutan untuk memenuhi kewajiban mereka. Jika mereka melaksanakannya, barulah mereka memperoleh hikmah kebaikan dari Allah Yang Maha Bijaksana. Inilah perintah-Nya Yang Maha Gagah Perkasa, yang senantiasa menginginkan kebaikan, yang bila tidak dilaksanakan akan merusak kedamaian hidup masyarakat. Dan barang siapa yang melampaui batas akan menerima hukuman-Nya.  
 
Huzur mendoakan semoga Allah memudahkan kita semua untuk memahami ajaran yang mulia ini. 
 
Selanjutnya [pada Khutbah Kedua] Huzur menghimbau jamaah agar mendoakan negara Pakistan. Sudah jelas bagi semua, keadaan di sana, pihak pemerintah, politisi maupun kaum mullah mereka, semuanya tampak bergerak ke arah yang dapat merusak negara tersebut. Semoga Allah melindungi negara tersebut, karena Pakistan didirikan dengan berbagai banyak pengorbanan. Jemaat Ahmadiyah pun memberikan berbagai pengorbanan besar pada waktu pendiriannya. Maka termasuk hubbul wathon minal iman bagi semua Ahmadi atau Pakistani di seluruh dunia untuk mendoakan negara tersebut. Pakistan telah diarahkan ke jurang kehancuran. Semoga Allah menyadarkan mereka, bila mereka tetap tak sadar, semoga ada orang-orang yang benar-benar mencintai bangsanya tampil berkuasa, untuk menciptakan kedamaian.
 

transltByMMA/LA111707; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI

Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.