Thursday, January 31, 2008

Iktisar Khutbah 25 Januari 2008

Ada sabda statement tentang Indonesia inside........

Sifat Quwwat Qudsiyah
-----------------------------------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
25 Januari 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
-----------------------------------------------------------------------------------


Melanjutkan uraian beliau mengenai ayat 130 Surah Al Baqarah, pada Jumah ini Huzur menerangkan aspek ke-Empat dari doa Hadhrat Ibrahim a.s. berkenaan dengan keistimewaan Nabi Besar yang hendaknya dikaruniakan Allah Taala kepada keturunan beliau, ialah berupa seorang Nabi yang Al-Khatam hingga hari Qiamat, yang Alquran sudah menyempurnakan doa ini di dalam Surah Al-Jumah (62:3).
Setiap rasul Allah membawa ajaran yang dapat menarik ridha Ilahi dan mensucikan pengikutnya. Namun kekhususan daya mensucikan (quwwat qudsiyah) yang dirujuk oleh ayat Alquran yang 'nasikh' ini tampak belum pernah diwahyukan sebelumnya.
Ajaran Alquran dipenuhi dengan hikmah kebaikan. Setiap perintahnya selalu disertai alasan yang tepat dibaliknya. Setiap patah-katanya mengandung Tanda yang dapat mensucikan manusia sedemikian rupa. Oleh karena itu, daya pensucian Kitabullah ini akan terus berlaku hingga hari Qiamat, ajarannya tidak memansukh-kan satu pun ayat lainnya, sehingga tidak dapat dikatakan ada yang diperkecualikan. Rasulullah Saw adalah sosok pribadi yang memiliki daya mensucikan setiap insan, hingga hari Qiamat.

Monday, January 28, 2008

Arti Kata 'Hikmah': Ikhtisar khutbah 18 Jan 2008

Arti Kata 'Hikmah'
(Yu'alimul Kitaba wal Hikmah)
---------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
18 Januari 2008 di Masjid Agung Baitul Futuh, London - UK
----------------------------------------------------
Huzur melanjutkan topik pembahasan ayat 130 Surah Al Baqarah pada Khutbah Jumah beliau ini. Terjemahan ayat tersebut adalah sebagai berikut:

'And, Our Lord, raise up among them a Messenger from among themselves, who may recite to them Thy Signs and teach them the Book and Wisdom and may purify them; surely, Thou art the Mighty, the Wise'.

Huzur bersabda, pada Jumah ini beliau akan menerangkan aspek ke-3 doa Hadhrat Ibrahim a.s. sebagaimana tercantum pada ayat di atas. Aspek ke-3 doa yang beliau panjatkan untuk kedatangan nabi besar tersebut, ialah hendaknya mengajarkan juga hikmah (tafsir) dari Kitabullah tersebut. Huzur bersabda, beliau telah menerangkan maksud arti kata 'hikmah' pada beberapa Khutbah Jumah yang lalu; yakni berkaitan dengan bersikap 'fair', berbuat adil sedemikian rupa (absolute justice), ilmu pengetahuan, cerdas, dan menggunakan sesuatu dengan tepat pada tempat dan waktunya. Pada Jumah ini Huzur menerangkan arti kata 'hikmah' yang merujuk kepada Rasulullah Saw dan Alquran yang diwahyukan kepada beliau.

Friday, January 25, 2008

Ahmadiyah Tidak Termasuk Aliran Sesat

Tanggapan Atas Sepuluh Kriteria Aliran Sesat dari MUI


Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 lalu di Hotel Sari Pan Pacifik, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat.

Dalam dialog yang diprakarsai Balitbang Departemen Agama November 2007, pihak Ahmadiyah telah mengemukakan tanggapan atas kesepuluh kriteria MUI tersebut. Pada kesempatan itu Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengemukakan satu persatu tanggapan atas kesepuluh kriteria tersebut dan membuktikan bahwa Ahmadiyah tidak tergolong aliran sesat sesuai dengan sepuluh kriteria yang ditetapkan MUI tersebut. Dibawah ini tanggapan yang dikemukakan pihak Ahmadiyah.

1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang MahaEsa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al Qur’an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, halaman 5)

2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan As Sunnah),

Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas: “Tidak masuk kedalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang MahaMulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati diatas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al Qur’an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka. (Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal 96).

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al Qur’an.

Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya, “Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.”

Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal.

Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al Qur’an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW , “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jil. 2 halaman 16 dan Misykatus Syarif, jil. 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).

Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.

4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al Qur’an dan diatasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al Qur’an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al Qur’an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al Qur’an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).” (lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).

5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,

Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:

(A) Dengan Al Qur’an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,

(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,

(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,

(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,

(E) Dengan Bahasa Arab,

(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,

(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).

6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al Qur’an.” (Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-8 8)

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al Qur’an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Al Baqarah: 286).

8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.” (Tuhfah Baghdad, halaman 35)

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah.

Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398).

Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []


Thursday, January 24, 2008

Klarifikasi Ahmadiyah: The Jakarta Pos.com

Jamaah Ahmadiyah tidak pernah berubah keyakinan.. Tidak pula bertaqiyah.. Ahmadiyah dari dulu memang tidak pernah sesat
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
AMJ's clarification

The Ahmadiyya Muslim Jama'at (AMJ) responded to an article printed in The Jakarta Post, which made a number of false claims about the community.

The article titled "Govt spares Ahmadiyah with no ban" (Jan. 16, p. 1) said the Indonesian Government had chosen not to ban the Ahmadiyya Jama'at due to an apparent reversal, by the Ahmadiyya Jama'at, regarding the status of its founder, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian.

Speaking about the article and clarifying the position of the Ahmadiyya Jama'at, the central Press Secretary, Abid Khan said: "On behalf of the Ahmadiyya Jama'at I would like to state that we are very disappointed by the aforementioned article printed in the Post.

This article suggested that our Community had, God forbid, changed its position regarding the status of Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian.

To clarify, it is an inherent part of our faith and belief that Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian is the Promised Messiah and Mahdi (Guided One).

Every true Ahmadi Muslim shares the same belief that the Founder of the Community is the same Messiah and Mahdi whose advent was foretold by the Holy Prophet of Islam.

The Holy Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) was the final law-bearing Prophet and he brought a complete and perfect teaching.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad was the true Promised Messiah and Mahdi, who came to rejuvenate the message of Islam and therefore we most certainly recognize and accept him as a true Prophet of God Almighty.

It is hoped the Post recognizes and rectifies the mistakes it made in the aforementioned article."

ABID KHAN

Press Secretary

Ahmadiyya Muslim Association

London

Tuesday, January 15, 2008

12 Butir Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia

PENJELASAN
PENGURUS BESAR JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA

( P B J A I )

TENTANG POKOK-POKOK KEYAKINAN DAN KEMASYARAKATAN WARGA JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA



  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

  1. Sejak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

  1. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

  1. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai'at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota Jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa:

a. Tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturun-kan kepada Nabi Muhammad SAW;

b. Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

  1. Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

  1. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sebagai Muslim selalu melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara-perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan peraturan-perundang -undangan.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturrahim dan bekerjasama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  1. Dengan penjelasan ini, kami Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008

PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI),

Ttd.

H. Abdul Basit

Amir



Mengetahui:

  1. Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (Kabalitbang dan Diklat Depag RI)
  2. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)
  3. Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)
  4. Drs. Denty Ierdan, MM (Ditjen Kesbangpol Depdagri)
  5. Ir. H. Muslich Zainal Asikin, MBA, MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia-GAI)
  6. KH. Agus Miftah (Tokoh Masyarakat)
  7. Irjen Pol. Drs. H. Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)
  8. Prof. Dr. H.M. Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
  9. Ir. H. Anis Ahmad Ayyub (Anggota Pengurus Besar JAI)
  10. Drs. Abdul Rozzaq (Anggota Pengurus Besar JAI)

Alquran Karim, Kitabullah Yang Sejati

Alquran Karim, Kitabullah Yang Sejati
-------------------------------------------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
11 Januari 2008 di Masjid Agung Baitul Futuh, London - UK
-----------------------------------------------------------------

Pada Khutbah Jumah kali ini Huzur melanjutkan pembahasan ayat 130 Surah Al Baqarah, yang terjemahannya sebagai berikut:

'And, Our Lord, raise up among them a Messenger from among themselves, who may recite to them Thy Signs and teach them the Book and Wisdom and may purify them; surely, Thou art the Mighty, the Wise'.

Inilah doa Hadhrat Ibrahim a.s. kepada Allah Swt agar dikaruniai seorang Nabi Besar yang akan menjalankan 4 (empat) tugas besar, yang salah satunya 'membacakan' Kitab dan Hikmahnya, sudah saya terangkan pada Khutbah Jumah yang lalu. Yakni, beliau a.s. berdoa tugas pekerjaan Nabi Besar yang hendaknya bangkit dari keturunan Hadhrat Ismail tersebut bukan hanya membacakannya pada zaman beliau saja, melainkan akan terus dilakukan untuk manfaat berbagai generasi mendatang, hingga hari Kiamat]. Tafsir tentang hal ini sudah cukup dijelaskan.

Thursday, January 10, 2008

Infaq Fii-Sabilillah: Pengorbanan Waqfi Jadid

-------------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba 4 Januari 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
-------------------------------------------------------------------------------------


Huzur menyampaikan topik Khutbah pengorbanan harta di jalan Allah, terkait dengan tahun perjanjian baru Waqfi Jadid. Huzur membacakan ayat 263 Surah Al Baqarah, yang terjemahannya sebagai berikut :


' They spend their wealth for the cause of Allah, then follow not up what they have spent with taunt or injury, for them is their reward with their Lord, and they shall have no fear, nor shall they grieve.'


Huzur mengingatkan, siapakah yang dimaksud dengan mereka atau kaum yang mengorbankan harta benda mereka dengan ikhlas tersebut ? Huzur menerangkan, mereka itulah, Jamaah kaum mukminin yang senantiasa membelanjakan harta benda mereka semata-mata demi untuk meraih keridhaan Allah Swt.

Monday, January 7, 2008

”Yatlu Alaihim Ayatihi; Arti Ayat-ayat Allah”


--------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba 28 Desember 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
--------------------------------------------------------

Huzur bersabda, Alquran mengemukakan nasib pelajaran yang menimpa berbagai kaum terdahulu bukanlah sebagai kisah belaka. Melainkan, beruntunglah mereka yang dapat mengambil pelajaran daripadanya. Berbagai macam peringatan telah diberikan kepada berbagai kaum. Maka sudah sepatutnya takut kepada Allah timbul di hati setiap orang. Namun, Allah adalah Maha Penyayang, Dia tidak hanya mengirimkan kabar takut, melainkan juga kabar suka. Setengah orang berkeberatan, bahwa Alquran penuh dengan ancaman, padahal rahmat karunia-Nya meliputi segala sesuatu; maka kewajiban manusia-lah untuk ber-Istighfar, memohon ampunan-Nya.


Adalah nasib baik bagi kaum Muslimin, bahwa Allah telah memberikan karunia khas-Nya kepada kita. Memberi tuntunan sebagaimana sunnah Rasulullah Saw. Maka kewajiban setiap orang Muslim untuk memperhatikan hal ini agar mereka dimasukkan sebagai kaum mukmin sejati. Beramal salih, sesuai kabar suka yang mereka terima dari Alquran.

Wednesday, January 2, 2008

Kritik terhadap Ciri-Ciri Sesat dari MUI : "Mengaku ada lagi Nabi Setelah (dari milis: ahmadi-ina@yahoogroups.com)

Forwarded message ----------
From: Thesaints Now <thesaintsnow@ gmail.com >
Date: Dec 31, 2007 6:10 AM
Subject: [wanita-muslimah] fw DIALOG IMAGINATIF MUI vs Ahmadiyah (JAI) : Ada NABI setelah Nabi Muhammad saw
To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com


Kritik terhadap Ciri-Ciri Sesat dari MUI : "Mengaku ada lagi Nabi Setelah
Nabi Muhammad saw"
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

DIALOG IMAGINATIF MUI vs Ahmadiyah (JAI) : Ada NABI yang akan datang setelah
Nabi Muhammad saw :

JA : Kami berterima kasih kepada (fasilitator tv) dan Pak Ma'ruf dari
MUI yang telah bersedia untuk melaksanakan dialog dengan kami dari
JAI. Sebenarnya Dialog seperti inilah, yang diperlukan di negeri kita
ini. Agar segala persoalan dapat dibicarakan secara kekeluargaan dan
beradab sesuai dengan ajaran islam yang damai.

JA : Islam sebenarnya meyakini masih ada nabi lagi setelah Rasulullah
saw.

MUI : Ah enggak betul itu. Jelas dikatakan dalm Quran NAbi Muhammad
saw itu Khatamannabiyyin (penutup nabi-nabi) dan dalam belasan hadits
menyatakan La Nabiyya Ba'di (tidak ada nabi sesudahku). Jadi islam
jelas menyatakan bahwa TIDAK ADA lagi nabi setelah nabi Muhammad saw.

JA : Begini PAk Ma'ruf (kalau perlu sambil menepuk tangannya dengan
bersahabat). BUkankah Menurut akidah islam, Nabi Isa as akan datang
lagi setelah naik ke langit? Kan berarti ada Nabi setelah Rasulullah
saw?

MUI : Ya itu betul nabi Isa as akan datang lagi. Tapi itukan bukan
nabi baru. Nabi Isa sudah diangkat nabi sebelum nabi Muhammad saw,
jadi bukan nabi sesudah nabi Muhammad saw.

JAI : Tetapi kan berarti memang ada Nabi setelah nabi Muhammad saw,
yaitu Nabi Isa as yang masih akan datang setelah Nabi Muhammad saw?

MUI : Iya betul Nabi Isa akan turun dari langit sebelum Qiyamat
nanti. Itu adalah bagian dari akidah islam.

JA : Jadi MUI mengakui memang Nabi Isa as akan datang lagi setelah
Nabi MUhammad saw. Dengan demikian pada prinsipnya dalam akidah islam
pun percaya masih ada paling tidak satu Nabi lagi yang akan datang
setelah Nabi Muhammad saw, yaitu Nabi Isa.

MUI : Iya Nabi Isa as memang diyakini akan turun lagi sebelum
Qiyamat. Tapi bukan MGA yang ngaku-ngaku sebagai nabi. Kalau nabi
baru seperti itu tidak ada dalam akidah islam.

JA : OK. Soal pengakuan pendiri JA yang kami anggap perbedaannya
dengan kaum muslim lain adalah masalah penafsiran. Ternyata memang
ada Nabi yang akan datang lagi setelah Nabi Muhammad saw yaitu Nabi
Isa as yang diyakini umat islam akan turun dari langit. Jadi pada
prinsipnya memang ada NABI setelah Rasulullah saw.

MUI : Iya tapi bukan Nabi baru seperti MGA yang mengaku dapat wahyu
dari ALLAH dan diutus sebagai NAbi.

JA : Terima Kasih Pak Ma'ruf telah memberikan penjelasan bahwa
ternyata memang NAbi Isa as akan datang lagi setelah Rasulullah saw.
JAdi memang masih ada Nabi setelah Muhammad saw.

MUI : Tidak ada pengakuan nabi baru lagi setelah Nabi MUhammad saw.
Nabi Isa itu diangkat nabi sebelum NAbi Muhammad saw jadi turunnya
nanti tidak dianggap sebagai Nabi setelah Nabi MUhammad saw. Kok
masih enggak ngerti-ngerti sih. BUkannya seperti MGA JAI yang mengaku-
ngaku sebagai nabi baru itu.

JA : Ya kami mengerti pemahaman PAk Makruf, tapi NAbi Isa as diyakini
memang akan turunnya sebelum Qiyamat bukan? berarti setelah Nabi
MUhammad saw wafat?

MUI : YA Nabi Isa as memang akan turun lagi nanti sebelum Qiyamat.
Jadi bukan sekarang seperti pengakuan MGA.

JA : Ok. Kalau demikian sebenarnya perbedaan JA dengan MUI adalah
dalam soal penafsiran saja. KAmi percaya juga Bahwa Nabi Isa as
memang akan datang lagi setelah NAbi Muhammad saw . Jadi JA dan MUI
memiliki keyakinan yang sama dalam hal ini. Cuma beda penafsiran saja.

MUI : Tetapi JA mengakui MGA sebagai nabi. Tidak betul itu. Tidak ada
pengakuan nabi baru setelah Rasulullas saw. Itu tidak diakui dalam
islam.

JA : BAik untuk masalah itu dapat kita dialogkan selanjutnya. Saya
berterima kasih kepada Pak Ma'ruf yang telah mengclearkan masalah
kedatangan NAbi Isa as yang kedua kalinya. Supaya bermanfaat juga
untuk diketahui bagi saudara- saudara muslim lainnya di indonesia.

Bersambung Insya Allah.......