Friday, November 24, 2006

Ktbh 24 Nov 06

Sifat Rabb Allah Taala (Part II)

 

(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba, 24 November   2006, di Masjid Baitul Futuh, London)

 

Huzur melanjutkan Khutbah tentang Sifat Rabb Allah Taala.

Huzur memulai dengan membacakan ringkasan tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.  sebagai lanjutan dari Khutbah Jumah beliau minggu lalu. Huzur bersabda, Sifat Rabb, Tuhan Semesta Alam ini ada yang sudah dikenal manusia, ada juga yang belum diketahui. Namun, semua Sifat-Nya itu sangat istimewa adanya.

Tuhan kita bebas dari segala kelemahan. Keelokannya tiada tara. Kejumbangan dan Keridhaan-Nya dapat disaksikan di dalam Sifat-sifat-Nya. Hanya dengan merenungkan sifat Keridhaan-Nya saja, manusia tak dapat menghitungnya.

Sifat berkehendak untuk memberikan Keridhaan-Nya dijelaskan dengan kalimat "Rabbul Alamin", yakni Tuhan Semesta Alam, baik yang sudah diketahui maupun yang belum, tetap memperoleh manfaat dari sifat Rubbubiyyat-Nya ini.

 

Mukzizat Allah Bagi Semua

Dalam kaitan ini, banyak orang yang mengirim surat kepada saya tentang bagaimana mereka mengalami peristiwa luar biasa, seperti misalnya selamat dari suatu kecelakaan lalu lintas yang berat, dlsb; yang kesemuanya itu mengingatkan kita kepada sifat Pemelihara makhluk-Nya.

Huzur bersabda,  ketika beliau berkunjung ke Ghana [pada tahun 2005] pun mengalami banyak peristiwa besar yang di luar kesanggupan manusia. Namun Allah Yang Maha Pemelihara menyelamatkan beliau dan keluarga dengan cara-Nya yang luar biasa. Huzur bersabda,   bila hal ini terjadi pula atas diri anda, hal itu merupakan manifestasi dari sifat Rabb-Nya, ialah senantiasa melindungi manusia, yang oleh karenanya manusia berhutang-budi kepada Tuhan. Namun, sifat Rabbul Alamin ini tidak hanya menyelamatkan manusia dari kesulitan, tetapi juga memberikan hujan rahmat-Nya.

Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, persyaratan untuk memperoleh rahmat dan keridhaan Allah yang istimewa adalah, kaum mukminin hendaknya senantiasa ingat dan berdoa kepada Tuhan sedemikian khusyunya, yakni yang keluar dari kalbu yang mendalam. Dan, permohonanmu itu merupakan ungkapan rasa syukurmu atas sifat Rubbubiyyat-Nya.

 
Allah Adalah Sokoguru Utama Kita

Di antara para mufasir awal, Allama Razi menulis, bahwa Allah Rabbul Alamin karena Dia-lah yang memberikan kehidupan kepada segala sesuatu.

Beliau bersabda, ada dua sifat murrabiyyat ialah memelihara dan menumbuh-kembangkan. Semua penciptaan masuk dalam kategori pertama. Sedangkan sifat [Maha] menumbuh-kembangkan milik Allah Subhana wa Ta'ala saja.

Sesuatu yang memelihara selain Allah kadangkala akan berpaling meskipun si pemohon memintanya dengan sangat. Berlainan dengan Allah Taala. Dia sangat menyukai mereka yang memohon dengan khusyu dan terus menerus.

Selain Allah, mereka itu hanya memberi manakala engkau memintanya. Sedangkan Allah memberi tanpa diminta. Pemberian yang berasal dari selain Allah akan berakhir oleh sesuatu kondisi atau dikarenakan mati. Namun pemberian atas karunia-Nya tidak akan berkesudahan.

Bantuan selain dari Allah diberikan hanya kepada suatu bangsa atau kaum. Tidak mungkin untuk seluruh manusia sedunia. Sedangkan Allah Taala menyantuni seluruh makhluk semesta alam.

 

Baqa, Al-Mutakalim, Allah Akan Senantiasa Mengirim Rasul-Nya

Di dalam dua Surah Al-Qur'an terakhir, penjelasan sifat Rubbubiyyat-Nya menjelaskan kepada kita, bahwa sifat menyantuni, memberi rahmat dan karunia-Nya bagi manusia itu tak akan pernah berkurang dan tiada pernah berakhir.

Huzur menambahkan, dari pengertian ini sangat jelas, bahwa sifat Mutakallim (bercakap-cakap/berkomunikasi)-Nya pun masih senantiasa terbuka. Artinya, Dia senantiasa akan mengirimkan rasul-Nya.

Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, bahwa sebagaimana Allah Taala senantiasa menyediakan segala kebutuhan jasmani manusia, maka Dia pun akan selalu mengirimkan Mujadid-Nya pada setiap Abad. Dan suatu kaum atau agama yang berpikir bahwa hanya mereka lah kaum yang terpilih;  dan oleh karena itu kalau pun akan ada lagi nabi baru, haruslah berasal dari kaumnya, tidak memahami konsep Rabbul Alamin, Tuhan Semesta Alam.

Tuhannya umat Islam adalah Allah Rabbul Alamin, Tuhan Seru Sekalian Alam. Inilah sebabnya mengapa Al-Qur'an mengemukakan hal ini sejak awal, kemudian diulang-ulangi-Nya lagi di berbagai bagian lain, bahwa Tuhan tidak akan pernah mengabaikan sesuatu bangsa atau suatu kaum (Surah 35/Al Fatir: ayat 25), sehingga tidak satu kaum pun yang menderita, yakni tidak dikirimi kepada mereka suatu petunjuk atau Kitab Ilahi, ataupun rasul.

 

Bersyukur & Bertabligh

Huzur bersabda,  kita orang Ahmadi sangat beruntung, bahwa di akhir zaman ini kita menjadi pewaris karunia keberadaan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., namun pada saat yang besamaan kita pun mengemban tanggung jawab yang besar.

Pada banyak bagian di dalam Al-Qur'an, Allah menekankan bahwa Dia-lah Tuhan kita yang sejati, yang sangat menyukai apabila kita senantiasa mengarahkan wajah kepada-Nya. Kembali kepada-Nya, maka niscaya Dia pun akan memenuhi segala kebutuhan kita, sebagaimana Dia telah nyatakan di dalam Surah ke-40/Al Mu'min: Ayat 61.

Selanjutnya Huzur membacakan ayat 62, 63, 64, 65 dan 66 dari Surah Al-Mumin tersebut dan menjelaskan bahwa Allah Taala meminta kita untuk senantiasa bersyukur atas karunia-Nya yang tak terhingga, oleh karena itu jadilah hamba-Nya yang sejati.

 

Bertaqwa & Beramal Jariah Sebutir Kurma Diganjar Segunung

Rahmat karunia-Nya tak terhitung, oleh karenanya jangan pernah berpaling kepada sesuatu tuhan bikinan. Jangan pernah tergoda oleh bujuk-rayu Syetan yang tampak menarik. Dan jangan menentang Tuhan.

Dia senantiasa mengingatkan kita, bahwa hanya Dia-lah Tuhan Yang Maha Hidup. Segala sesuatu akan fana; Keselamatan jiwa raga kita dapat terjadi hanya apabila wajah kita senantiasa tertuju kepada-Nya. Tuhan kita, Dia Yang Maha Pengasih, senantiasa menunjuki jalan yang terbaik, dan akhir yang membahagiakan.

Dia sama sekali tidak membutuhkan sesuatu. Meskipun Dia menyukai bila manusia kembali kepada-Nya, Dia tidak membutuhkan kita. Namun, apabila manusia kembali kepada-Nya dengan ikhlas, kesuka-citaan-Nya jauh lebih besar dibandingkan seorang ibu yang mendapati kembali anaknya yang telah lama hilang.

Di dalam satu Hadith, Hadhrat Rasulullah Saw mengemukakan bahwa meskipun suatu amal-jariah hanya sebesar satu buah kurma, tetapi apabila berasal dari sumber penghasilan yang halalan-thayyiban, niscaya akan diterima Allah dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia pun akan menumbuh-kembangkannya hingga sebesar gunung.

Huzur bersabda,  maka apakah manusia akan berpaling dari standar minimum ganjaran-Nya itu ?  Apakah manusia akan meninggalkan Allah Yang Maha Pemurah Maha Penyayang demikian ?

Akan tetapi manusia memang kadangkala tergelincir juga. Oleh karena itu, kita senantiasa perlu ber-istighfar. Memohon ampun kepada-Nya. Dan Dia pula-lah yang mengajari bagaimana cara memohon ampunan-Nya. Yakni, Dia menyeru: Senantiasa-lah ber-Istaghfar, maka Aku pun akan menghujani rahmat atas-mu.

 

Menolak Imam Zaman Mengundang Derita

Huzur bersabda,  di zaman sedemikian musyriknya seperti sekarang ini, dengan menolak Imam Zaman mereka, berarti kaum Muslimin sendiri telah menutup karunia kasih sayang sifat Rubbubiyyat Allah Taala, yakni keniscayaan seorang Pembaharu ataupun Rasul masih dapat dibangkitkan. Maka sebagai akibatnya, mereka pun menderita. Dan oleh karenanya kaum Ahmadi sajalah yang memiliki pemahaman atas sifat Rubbubiyyat-Nya ini.

Maka apabila kita tidak mensyukuri nikmat Ilahi – dalam bentuk keberadaan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. – yakni kita tidak merasa terikat dengan Ajarannya, maka pengakuan kita bahwa kita telah memahami sifat Allah, tidak akan memberikan kelanjutan Rahmat dan Karunia-Nya.

Selanjutnya Huzur menutup Khutbah beliau dengan doa, semoga kita menjadi kaum yang memahami Sifat-sifat Tuhan dengan sejati, yakni merasa terpanggil untuk menyampaikan keelokan nikmat karunia Ilahi ini kepada orang lain. Sehingga, bilangan besar manusia yang menyembah Tuhan Yang Maha Tunggal pun semakin bertambah, dan kedamaian pun tercapai.

 

 

transltByMMA / LA,112506

Friday, November 17, 2006

Kthb 17 Nov 06

Sifat Allah Taala

(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba)

17 November  2006 , di Masjid Baitul Futuh, London

Huzur memberikan Khutbah Jumah tentang Sifat-sifat Allah Swt. Huzur menjelaskan bahwa Allah telah mengemukakan Sifat-sifatNya sejak pada bagian awal Alqur'an Karim, di dalam Surah Al Fatihah, Dia itu adalah "Rabbul Alamin", yakni, "Allah adalah Tuhan seluruh Alam Semesta".

Arti kata "Rabbul Alamin" telah diterangkan secara rinci di dalam Kamus Bhs.Arab, yakni memelihara seluruh ciptaan-Nya dari sejak awal keberadaannya, jenjang pengembangan, hingga mencapai kesempurnaannnya.  Huzur menjelaskan bahwa kata "rabb" dapat juga digunakan untuk manusia, yang dalam idiom Bhs.Arab selalu digunakan untuk seseorang yang terus menerus mendidik dan melatih, tetapi selalu digunakan bersama dengan suku kata lain. Sedangkan bila hanya satu kata, yakni Rabb, hanya untuk Allah saja.

7 (Tujuh) Arti Sifat Rabb

Hadhrat Masih Mau'ud a.s. menerangkan, bahwa kata Rabb mempunyai 7 (tujuh) arti. Pertama, adalah Al-Malik, yang artinya Tuhan adalah Pemilik Sejati dan Penguasa Absolut atas segala sesuatu. Kedua, As-Sayyid, artinya Yang Maha Istimewa dan Maha Tinggi. Ketiga, Al-Mudabbir, artinya Yang Maha Mengetahui Atas Segala Sesuatu. Ke-empat, Al-Qi'yam, artinya Yang Maha Pengawas Atas Segala Sesuatu dan Menempatkan Segala Sesuatu Pada Tempatnya. Kelima , Al-Mu'nim,  artinya Yang Maha Pemberi Segala Kebaikan, Kesejahteraan dan Keberkatan. Ke-enam, Al-Mu'tamimum, Yang Maha Memenuhi Atas Segala Kebutuhan. Ke-tujuh , ialah gabungan atas semua Sifat tersebut, yakni, Al-Ala, artinya, Yang Maha Tinggi, Maha Istimewa. Hasil karya-Nya tanpa cacad sedikitpun. Dia-lah Pemenuh segala kebutuhan dan kesejahteraan makhluknya. Pemilik Yang Sempurna.

Allah telah mengemukakan Sifat-sifatnya ini ratusan kali. Pada awal bagian Al-qur'an, Dia telah menerangkan, bahwa Dia-lah Sumber Segala Kebaikan. Sedangkan di bagian akhir, yakni di dalam Surah Al-Falaq dan An-Nas, ditekankan, bahwa untuk menyelamatkan diri dari segala rintangan dan kesusahan, hanyalah dengan cara memohon bantuan dan perlindungan Allah.

Aliran Kepercayaan/Kebatinan/Sufiisme ?!

Merujuk kepada tulisan Hadhrat Muslih Maud r.a., Huzur lebih lanjut bersabda,  implikasi dari sifat Rabb AllahTaala ini, ialah Segala Puji Hanya Untuk Tuhan, Yang telah memberikan segala kebutuhan dan kemampuan. Sifat Rabb ini adalah kesadaran untuk senantiasa memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi makhluk-Nya dibandingkan kepedulian terhadap diri-Nya sendiri. Selain Allah yang memiliki sifat Rubbubiyyat, yakni Pemenuh Segala Kebutuhan, semua makhluk ciptaan-Nya tunduk kepada hukum evolusi (lahir, tumbuh dan mati). Hanya Allah saja yang tidak mengalami perubahan ataupun kekurangan. Manusia diciptakan untuk mencapai pengetahuan yang tak terbatas, ber-amal salih dan ber-ibadah kepada Tuhan. Oleh karenanya patutlah manusia bersyukur atas segala berkat kebaikan dari Sifat Rubbubiyyat Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Berkat sifat Rabb ini kita dapat terus mencapai kemajuan rohani tanpa batas. Sedangkan falsafah pikiran mereka penganut aliran Kebatinan/Kepercayaan (Sufiisme) bahwa dikarenakan mereka "sudah mencapai kedekatan dengan Tuhan (fana fil-Lah, eling)" maka kata mereka tidak perlu lagi ber-ibadat kepada-Nya, adalah bertentangan dengan kaidah ini.

Huzur bersabda,  keselamatan tiap-tiap orang tergantung kepada hubungan masing-masing dengan Tuhannya. Maka tugas setiap Ahmadi untuk menyampaikan pesan Ilahi ini, yakni Dia-lah Tuhan Semesta Alam; Dia-lah yang mengangkat derajat seorang hamba-Nya   mencapai derajat tertinggi, bagi kebaikan setiap manusia, menyatukan mereka di bawah Panji Kebenaran Hadhrat Mustafa Muhammad Rasulullah Saw.

Huzur menerangkan, di dalam Al-Qur'an Karim, Allah telah mengajari dan memerintahkan berbagai cara berdoa dengan mengacu kepada Sifat Rabb-Nya itu. Maka setiap Ahmadi hendaknya senantiasa mengingat Sifat-sifat Allah ini, dan membina hubungan komunikasi dengan-Nya dengan sedemikian eratnya. Tidak lekang oleh sesuatu atau pun keadaan yang datang menguji.

Bertablighlah Sebagai Rasa Syukur

Merujuk kepada kisah kaum Ashabul Kahfi (Alquran Surah ke-16/Al-Kahfi) yang demikian tabah dan tawakalnya menghadapi penganiayaan dan kesusahan berat semata demi mempertahankan Tauhid Ilahi, Huzur bersabda,  hendaknya setiap Ahmadi selalu ingat, bahwa kita selaku orang yang telah beriman kepada Al-Masih Muhammadi a.s., wajiblah mempunyai hubungan yang teguh dengan Allah Swt. Kita tidak menderita seberat kaum Ashabul Kahfi dan bagaimana mereka bertahan agar tidak melepaskan keimanannya. Kita hanyalah kaum yang telah beriman kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw, yang dengan perantaraan beliau nilai keimanan telah disempurnakan melalui suatu periode penderitaan dan penganiayaan berat. Pada masa sekarang ini, sebagian besar orang-orang Ahmadi hidup tenteram dan damai. Maka wajiblah kita bersyukur kepada Allah, jangan pernah berpaling sedikitpun dari pada-Nya.  

Baik dalam kesusahan maupun senang, setiap langkah kita senantiasa berhubungan dengan Allah Taala. Di belahan dunia Barat maupun penjuru dunia lain dimana masyarakatnya mengabaikan keberadaan Tuhan, kita yang telah beriman kepada Al-Masih Muhammadi a.s., wajib menunjukkan pentingnya mengandalkan Tauhid Ilahi. Menyadarkan mereka, bahwa sikap menyekutukan Tuhan dan tidak beriman kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw, tidak akan memberikan ketenangan pikiran. Huzur bersabda, mereka yang telah beriman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, janganlah berpikir hanya untuk kebaikan diri mereka sendiri. Melainkan juga bagi orang lain.

Selanjutnya Huzur membacakan beberapa sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s. mengenai konsep Ketuhanan di dalam agama lain, ialah, mereka tidak mengenal-Nya sebagai Tuhan Semesta Alam. Hal ini hanya diterangkan di dalam agama Islam.

Huzur mengakhiri Khutbah beliau dengan doa, semoga Allah Taala memudahkan setiap Ahmadi untuk lebih mengenal dan memperoleh Karunia pengalaman rohani berkenaan dengan sifat Tuhan Semesta Alam ini; sekaligus dapat menunjukkannya kepada orang lain, sehingga seluruh dunia pun menyembah Dia, Tuhan Yang Maha Tunggal, Tuhan kita semua, Tuhan Semesta Alam.

transltByMMA/LA112206

 

Friday, November 10, 2006

kthb 10 Nov 06

Kiat Membina Rumah Tangga- Sakinah Mawaddah

(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba, 10 Nov. 2006 di Masjid Baitul Futuh, London )

 

 

Huzur membacakan Ayat 2 Surah Al Nisa (4:2): yang artinya:

"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah Yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya satu sama lain, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah adalah pengawas atas kamu."

 

 Huzur memberikan Khutbah tentang masalah pertikaian dalam rumah tangga yang sangat disayangkan keluhannya kian meningkat. Tuduhan pedas ditujukan kepada pihak wanita. Atau sebaliknya, mereka diperlakukan sedemikian aniayanya oleh mertua ataupun oleh saudara ipar mereka, yang apabila tidak ada Karunia Allah, yakni

'fadzakkir in nafa'atidz dzikraa' ,

yang artinya:   'Sampaikanlah nasihat karena nasihat itu selalu bermanfaat' (Surah 87/Al-Ala : Ayat 10); dan taat atau menjalankan contoh Rasulullah Saw, serta sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s. niscaya penderitaan mereka sedemikian beratnya, seakan tak ada harapan lagi.

 

1. Taqwa &Kasih Sayang

Maka pada hari ini saya akan memberi nasehat tentang masalah ini, semoga Allah Swt memberkati setiap kata yang saya akan nasehatkan. Sebab, sungguh sangat memberatkan saya manakala mendapat laporan berbagai pertikaian berat rumah tangga, mengingat tujuan [Jemaat] kita sedemikian mulianya. Hal ini lebih disebabkan oleh munculnya sikap egoistis dari masing-masing ke-tiga pihak yang terlibat.

Tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. adalah untuk menghilangkan segala macam bentuk penderitaan manusia, yakni menukarnya dengan cinta kasih. Menarik hati mereka yang sudah jauh dari Tuhan-nya dengan cara yang lembut dan sabar. Inilah tujuan utama setiap orang Ahmadi, yang tidak akan berhasil apabila mereka tidak berusaha menghilangkan sikap egosentris mereka. Bila kita tidak memiliki sifat lemah lembut dan bersikap baik hati di dalam rumah tangga sendiri, bagaimana mungkin dapat memberi petunjuk kepada orang lain. Oleh karenanya, setiap Ahmadi haruslah senantiasa memeriksa keadaan diri mereka, rumah tangga mereka, dan segeralah sadar bila mereka mendapati diri mereka – secara tak sengaja - sudah jauh dari ajaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s.

Baik pihak laki-laki maupun pihak wanita haruslah senantiasa memeriksa keadaan diri mereka. Juga pihak mertua dan saudara ipar masing-masing. Karena kesalahan dapat terjadi dari salah satu dari tiga pihak ini, meskipun kebanyakan dikarenakan pihak laki-laki yang berbuat melampaui batas.

 

2. Hindari Campur Tangan Pihak Ketiga

Huzur bersabda, beliau telah memerintahkan para Amir Nasional Jemaat untuk meneliti masalah ini dengan cermat. Dan kami mendapati informasi, bahwa tingkat kesalahan di pihak laki-laki tiga kali lipat dibandingkan pihak wanita, dimana 30% sampai 40% di antaranya adalah dikarenakan ikut campurnya pihak mertua atau sanak saudara mereka.

Lontaran kata-kata kasar dari mertua ataupun saudara ipar kadangkala membuat pihak wanita lari ke orang tuanya. Meskipun perbuatan tersebut salah, namun adalah tanggung jawab pihak laki-laki untuk sekaligus menjaga perasaan istrinya ketika mereka harus menghormati orang tua mereka.

Dalam kaitan ini, bukan berarti tidak ada kebaikan atau keikhlasan di dalam Jemaat, sebab, sesungguhnya kebanyakan anggota Jemaat mempunyai sikap teguh dalam kebaikan, yakni, banyak di antara mereka yang berlaku baik terhadap menantu perempuan melebihi kepada anak sendiri. Akan tetapi, bila masalah ini diteliti di Jemaat Amerika atau Kanada sebagaimana yang telah dilakukan di Inggris, kesimpulan yang sama niscaya akan didapatkan. Oleh karenanya, Bidang Tarbiyyat dan Badan-badan harus sangat pro-active untuk mengatasi masalah ini.

Huzur menerangkan, ingatlah penekanan utama pada waktu Khutbah Nikah disampaikan, yakni berbagai nasehat dari Alquran, ialah agar kita senantasa berpegang kepada taqwa. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dalam hal ini hendaknya merasa terikat untuk menjalankan perintah Allah yang telah dibacakan pada saat sakral [penikahan] tersebut.

 

3. Qawlan Sadidan, Mawas Diri &Jangan Kasar

Bila suami istri peduli terhadap keadaan satu sama lain, dan menghormati sanak saudara mereka masing-masing, maka siapapun yang ikut campur dalam menciptakan perpecahan rumah tangga, tidaklah akan berhasil. Bila saja mereka mengikuti jalan takwa, maka pihak yang berusaha memecah belah, bagaimanapun dekatnya kepada salah satu pihak, tidak akan berhasil. Suami istri hendaknya berpegang teguh kepada taqwa. Berdoalah untuk kebaikan hubungan bersama, agar tumbuh lebih kuat dan dimuliakan oleh pihak sanak saudara masing-masing. Bila ada suatu masalah, suami istri haruslah segera menyelesaikannya dengan cara mendiskusikannya atas dasar kecintaan dan kasih sayang, alih-alih membiarkannya namun menyisakan suatu luka hati, yang kemudian menimbulkan rasa kebencian.

Adakalanya pihak laki-laki mengada-ada tuduhan terhadap istri mereka hanya dikarenakan bertujuan mau kawin lagi. Bila keinginan untuk menikah lagi ini cukup kuat alasannya, silakan saja. Tetapi bila sebetulnya hanya untuk mencari jalan agar bisa menceraikannya, yakni agar istrinya mengajukan hak Khula, maka bila pihak suami itu belum membayar Haq Mahr (emas kawin) istri mereka, maka tolaklah. Karena untuk hal perkara ini diperlukan biaya tunjangan. Huzur bersabda, Dewan Qadha harus bertindak untuk memastikan Haq Mahr pihak istri telah dibayar.

Ada pula setengah kaum lelaki beralasan karena istrinya tidak taat, atau tidak menghormati orang tua mereka, lalu mangajari anak-anak mereka untuk bersikap seperti itu. Ataupun dengan alasan karena membicarakan masalah rumah tangga mereka ke tetangga. Mengacu kepada ayat 35 Surah Al Nisa:

"…wallatii tahaafuuna nusuujahunna fa'idhuhunna wahjuruhunna filmadhooji'i wadhribuhunna. Fa-in-atho'nakum falaa tabghu alaihinna sabiilan, innalloha kaana aliyyan kabiiran ;

yang artinya: "Dan, perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedur-hakaan mereka, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur dan hukumlah mereka."

Huzur bersabda, perintahnya sudah jelas, bahwa memperkarakan atau memukul istri hanya diperkenankan apabila mereka sudah keterlaluan. Tidak untuk masalah sepele seperti masakan yang tidak enak, atau bicara tak sopan kepada mertua. Ayat ini pun mengingatkan kaum lelaki, kalau mereka pikir secara fisik mereka lebih kuat dari kaum wanita, bukankah Allah Taala jauh lebih perkasa, yakni mereka itu tiada artinya di hadapan Allah ?.

 

4. Takutlah Kepada Tuhan

Sungguh sangat disayangkan kecenderungan menjadi saling membenci juga timbul tak lama setelah pernikahan berlangsung. Kelihatannya orang Ahmadi yang seperti itu karena terlalu terpengaruh oleh pihak lain. Kalaupun pernikahan mereka itu tidak didasari suka sama suka, hendaknya ingat kepada janji pada saat ikatan Pernikahan dilangsungkan, yakni untuk senantiasa berpegang teguh kepada ketaqwaan. Namun, bilapun rasa tidak suka ini terus saja timbul, carilah jalan keluarnya dengan baik-baik. Mintalah nasehat lembaga konsultasi perkawinan. Sangat disayangkan bila sejak hari pertama pernikahan, salah satu pihak sudah tidak sudi tinggal bersama pasangannya hanya dikarenakan merasa pernikahannya atas paksaan orang tua. Yakni, sebetulnya ia sudah punya rencana atau keinginan lain. Untuk itu, kata Huzur, orang tua pun harus berhati-hati agar jangan sampai merusak masa depan anak-anak mereka.

Membacakan sebagian ayat 20 Surah Al Nisa (4:20) sebagai acuan, yakni:

 "Fa in karihtumuhunna fa'asaa an-takrahuu syai'awwyaj'alallohu fiihi khairan katsiiran"

yang artinya: "Jika kamu tidak menyukai mereka, maka ingatlah bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan di dalamnya banyak kebaikan."

Huzur bersabda,  juga ada kecenderungan setengah kaum lelaki dari India-Pakistan yang mengawini perempuan di berbagai Negara Barat hanya untuk mempermudah status keimmigrasian mereka. Setelah itu, mereka pun mengabaikannya. Atau, mereka menikahi wanita Pakistani atau lainnya, tetapi kemudian menyatakan tidak cocok. Ada kecenderungan perasaan tidak cocok ini terus ditumbuhkan. Untuk orang-orang semacam itu hendaklah diingat, bahwa sikap mereka itu jauh dari jalan taqwa.

 

5. Bina Rumah Tangga Mandiri

Sebab lainnya yang dapat menimbulkan perpecahan di kalangan rumah tangga baru adalah, meskipun pihak pria mampu hidup terpisah dengan orang tuanya, tetapi mereka tetap tinggal bersama dalam satu rumah. Kalau orang tua mereka sudah tua atau cacad, memang kewajiban anak lelaki untuk mengurusnya. Tetapi, bila ada saudara mereka yang dapat membantu mengatasi hal ini, maka tidaklah diharamkan baginya untuk hidup terpisah dari orang tua mereka.

Kemudian Huzur membacakan sebagian ayat 62 Surah Al Nur (24:62): dan beberapa sabda Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. bahwa kiat utama untuk menjalin rumah tangga sakinah mawaddah tiada lain adalah niat dan sikap untuk mau menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama. Sangat jelas  dikemukakan di dalam ayat ini, kewajiban masing-masing orang tua dan sanak saudara, dlsb. Bila kaidah ini dilaksanakan, rasa tidak suka satu sama lain antara menantu perempuan dan mertua niscaya akan hilang. Ayat Quran ini menunjukkan bahwa hidup dalam suatu rumah tangga besar adalah tidak wajib.

Ada juga setengah orang tua yang mengancam sedemikian rupa anak lelakinya agar tetap tinggal bersama mereka. Untuk itu, Huzur menekankan bahwa tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. adalah untuk menyebarkan rasa cinta kasih. Oleh karenanya jauhilah rasa kebencian. Sebagai nasehat bagi semua pihak, Huzur bersabda,  senyatanya memang telah diperintahkan secara mendasar, agar kita memelihara hubungan baik di antara saudara maupun mertua masing-masing pihak.

Setengah kaum lelaki, yang kemudian berpikir sumber harta benda pihak istrinya ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka, sama artinya dengan menyiapkan api neraka bagi diri mereka sendiri. Dalam kaitan [api neraka] ini termasuk juga pihak suami yang melarikan anaknya ke luar negeri sebab ingin memisahkan mereka dari ibunya. Untuk lelaki yang demikian itu haruslah segera ditindak [oleh Pengurus Jemaat], termasuk mereka yang membantunya. Juga terhadap kaum bapak yang menanamkan syakwasangka terhadap ibu anak-anak mereka, untuk kemudian disuruh bersaksi yang memberatkan ibunya di Pengadilan. Sangat disayangkan, sabda Huzur, beberapa Pengurus Jemaat pun mendukung suami yang demikian itu. Padahal, perbuatan mereka semua itu merusak akhlak anak-anak.

Bila ada orang tua yang demikian kemudian dikeluarkan dari Jemaat, maka anak mereka yang Waqfi Nau pun dicoret dari Daftar. Akan tetapi apabila di kemudian hari mereka meminta maaf, harus diajukan kepada Khalifah, secara kasus per-kasus, untuk dipertimbangkan apakah niat Waqf-nya itu dapat diterima kembali atau tidak.

Tujuan dasar solusi hal ini adalah untuk menghilangkan sikap kesewenang-wenangan dengan cara menegakkan keadilan. Dan menegakkan keadilan adalah salah satu tugas penting lembaga Khilafat. Keadilan menduduki peringkat yang sangat tinggi. Para Pengurus Jemaat hendaknya senantiasa ingat, bahwa mereka adalah perwakilan Khalifah. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas hendaknya mereka sadar bahwa Allah mengawasi mereka. Bila pun mereka menyalahkan salah satu pihak atau orang tertentu, ambilah waktu barang beberapa hari sebelum mengambil keputusan.

Huzur mengingatkan, segala aspects yang dikemukakan pada Khutbah Nikah haruslah senantiasa diingat. Ikatlah sedemikian rupa untuk menjalankannya dengan penuh ketaqwaan. Dan selalulah berucap dengan kata-kata yang baik (qauwlan sadidan). Banyak-banyaklah ber-Istighfar, memohon ampun dan berkat Allah Taala. Kaum lelaki hendaknya senantiasa ingat, sebagaimana orang tua mereka mempunyai hak atas mereka, maka ibu dari anak-anak mereka pun mempunyai hak atas anak-anakmu.

Penekanan nasehat yang ditujukan khusus kepada kaum lelaki ini dikarenakan kaum lelaki-lah yang kebanyakan menjadi penyebab utama pertikaian di dalam rumah tangga. Huzur bersabda,   kaum lelaki wajib memelihara istri mereka sedemikian rupa, sehingga rumah tangga mereka menjadi sumber kebahagiaan keluarga (sakinah mawaddah).

Selanjutnya Huzur membacakan ringkasan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang berkaitan dengan kemuliaan dan berpahala besar apabila seorang suami dapat membimbing istrinya dengan baik.

Huzur mengakhiri Khutbah beliau dengan doa, semoga Allah memudahkan kita semua untuk mengikuti jalan petunjuk-Nya dan mengikuti contoh mulia Rasulullah Saw serta berbagai nasehat   Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang telah diberikan kepada kita.

transltByMMA, LA/111706