Wednesday, June 18, 2008

Pendapat Para Tokoh Indonesia Tentang "Peristiwa Monas"


SBY, Presiden:

* “Pemerintah akan menindak tegas ormas yang bersikap anarkistis.”

Sonny T Danaparamita, Sekjen Presidium GMNI:

* “Ormas-ormas yang dimaksud itu adalah ormas-ormas berlabel agama seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Forum Betawi Rempug (FBR).”

Widodo AS, Menko Polhukam:

* “Pemerintah tidak akan membiarkan atau memberi toleransi sedikit pun terhadap tindakan anarkis yang dilakukan individu maupun kelompok. Proses hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu”
* “Tindakan-tindakan anarkis, tindakan-tindakan kekerasan, termasuk di dalam kualifikasi tindak pidana yang harus diproses secara hukum dalam sistem peradilan pidana,”


Ramli Hubarat, Staf Ahli MenkumHam:
* “Sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Massa, pemerintah dapat membekukan pengurus organisasi termasuk organisasinya, jika organisasi tersebut melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu ketertiban umum secara terus-menerus.”

Jusuf Kalla, Wapres:
* “Ormas apa saja selama tindakannya merusak akan ditindak tegas. “
* “Semua cara radikal yang merusak, itu kita larang karena melanggar hukum. Jadi, ini persoalannya, melanggar hukum. Mau berpikiran yang keras silakan asal, jangan melanggar hukum”
* “Orang yang bakar-bakar, lempar-lempar, itu semua terlarang berdasarkan hukum karena kita negara hukum”

Agung Laksono, Ketua DPR:
* “Sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) sudah ‘kebablasan’.”
* “Bangsa ini tidak menghendaki adanya ormas ekstrim.”

Maftuh Basuni, Menteri Agama:
* “Kalau ormas Islam kemudian anarkis itu perlu dipertanyakan. Itu jelas orang yang tidak mengerti Islam.”
* “Ormas mana saja yang berbuat tidak benar harus ditindak.”

Gus Dur, Mantan Presiden:
* “Tindakan anarkis merugikan semua pihak, karena itu akan lebih baik jika dibubarkan.”
* “Ormas tidak memiliki kewenangan menertibkan tempat-tempat yang menurut mereka melanggar norma agama.”
* “Ternyata ini dibiarkan saja oleh aparat. Heran saya.”

Tarwanto, Kapuspen Depdagri:
* “Ormas maupun LSM yang mengancam integritas bangsa dan menumbuhkan permusuhan berbau SARA, dapat dibubarkan oleh kepala daerah.”

KH Maman Imanullah, pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka:
* “FPI, MMI maupun HTI tidak memperlihatkan wajah islam yang sebenarnya. Wajah Islam adalah wajah yang damai. Bukan wajah yang mereka perlihatkan sekarang ini, seperti wajah wuka-wuka.”

Habibie, Mantan Presiden:
* “Kehadiran Islam di dunia adalah untuk memberikan kesejukan. Sayangnya, banyak umat Islam yang terpancing dalam aksi kekerasan.”

Arbi Sanit, Pengamat Politik UI:
* “Apabila negara ingin berfungsi sesuai koridor hukum, maka ormas Islam garis keras yang ada di Indonesia harus segera dibubarkan.”
* “SBY harus secepatnya mengeluarkan Keppres untuk membubarkan mereka”

Sumber-sumber: Rakyat Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Detik.com, Harian SIB, Sriwijaya Pos, dll

Tuesday, June 17, 2008

Sifat Al-Razzaq Allah Swt (II)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
13 Juni 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.

================================

Huzur melanjutkan pembahasan topik Ar-Rizq (Maha Penyedia/Pemelihara) dan sifat Al Razzaq (Maha Penyedia) Allah Taala pada Khutbah Jumah beliau hari ini. Huzur bersabda, sebagaimana beliau telah kemukakan pada Jumah lalu, bahwa Allah Swt menyatakan, hanya Dia-lah yang Maha Pemberi bagi semua makhluk; termasuk manusia; namun sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, Allah menyediakan bagi mereka rizqi rohani maupun rizqi jasmani. Dan bila kaum mukminin yaqin sepenuhnya kepada-Nya, maka Allah pun akan menyediakan dari berbagai sumber penghasilan, yang bagi orang kafirin tidak mempunyai konsep tentang hal itu.

Paska SKB Ahmadiyah, Kekerasan tidak kunjung reda..

SKB yang diterbitkan pemerintah menyusul maraknya desakan kelompok-kelompok anti ahmadiyah, diklaim sebagai upaya solusi damai atas konflik horizontal yang tengah berkembang. Di satu sisi tuntutan konstitusi atas kebebasan berkumpul dan berserikat begitu tegasnya dan mutlak tanpa dapat ditawar. Di pihak lain massa yang mengatas-namakan mayoritas umat islam, dengan mengusung isu agama diperkuat dengan UU PNPS 1965 tentang penodaan agama, tidak kurang desakannya kepada pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah. Bukan hanya mendesak, bahkan juga sampai mengancam.



Isyu kekerasan dikesampingkan begitu saja. Ancaman hukum pidana dianggap sepi. Bahkan mereka balik menuding pihak lain, ahmadiyah, juga telah melakukan kekerasan. Fakta berbicara sebaliknya, ahmadiyah adalah justru korban kekerasan, bukan pelaku. Hingga hari ini pun warga Ahmadiyah masih kerap mengalami intimidasi dan ancaman dari pihak-pihak yang benci. Salah satu kasus adalah seperti yang menimpa warga ahmadiyah di Parakansalak-Sukabumi. Setelah mesjidnya dibakar, hingga kini warga ahmadiyah disana belum lagi mendapatkan kembali ketenangan hidupnya. Teror masih kerap diterima. Berikut ini saya kutip berita dari kompas online. Kasus yang lain, tentunya masih sangat banyak, bahkan terlalu banyak untuk dimuat di surat kabar..


Rabu, 11 Juni 2008 | 17:53 WIB

SUKABUMI, RABU - Bupati Sukabumi, Jawa Barat, Sukmawijaya, memerintahkan jajarannya dan masyarakat Desa Parakansalak untuk mencopot stiker 'Non Ahmadiyah'. Menurut Bupati, penempelan stiker tersebut akan memperkeruh suasana di Parakansalak. "Stiker itu harus secepatnya dilepas. Di tengah kondisi seperti ini, pengkotak-kotakan harus dihindari," kata Sukmawijaya, Rabu (11/6).

Stiker berbunyi 'Keluarga besar Muslim Ahlu Sunah Wal Jamaah, Non Ahmadiyah' tertempel di seluruh rumah penduduk Parakansalak yang bukan merupakan anggota Jamaah Ahmadiyah Indoensia (JAI) usai keluarnya surat keputusan bersama. "Stiker itu ternyata tidak jelas dari mana sumbernya. Kita takut, jangan-jangan orang lain yang memasang dengan mengatasnamakan warga, tetapi tujuannya untuk memperkeruh suasana," kata Sukmawijaya.

Warga Ahmadiyah dan bukan Ahmadiyah hidup membaur dalam satu kompleks di pemukiman Parakansalak. Selama ini, mereka hidup bersama tanpa ada masalah.

Agustinus Handoko
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Source: www.kompas.com

Wednesday, June 11, 2008

Keyakinan Ahmadiyah Tidak Pernah Menyimpang dari Keyakinan Ahlus-sunnah

Pada dasarnya Ahmadiyah tidak pernah menyimpang dari akidah mainstream. Selama ini yang menjadi pangkal keyakinan Ahmadiyah adalah datangnya nabi Isa as. kedua kali yamg sama-sama diyakini oleh mainstream ahlus-sunnah. Perbedaannya adalah hanya pada masalah pemahaman mengenai person dan waktu. Siapa dan kapan..

Berikut ini saya tuliskan beberapa kutipan pendapat yang dirangkum dari berbagai sumber tentang akidah kedatangan kembali nabi Isa as kedua kalinya. Semoga bermanfaat:

1. Pendapat NU yang termaktub dalam Mukatamr ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 :

“ Kita wajib meyakini Isa bin Maryam as. akan datang di akhir zaman nanti sebagai nabi/rasul yang melaksanakan Syariat nabi Muhammad saw. hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir (pembawa Syariat) sebab nabi Isa bin Maryam as. hanya akan melaksanakan Syariat Nabi Muhammad saw. (Ahkamul Fuqaha).
Kemudian ada disebutkan juga bahwa Mahzab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

Al-Qurtubi, Mufassir terkemuka, juga mempunyai pendapat yang mirip dengan NU memberikan rumusan: “bahwa yang benar (al-shahih) adalah, sebenarnya Allah mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu dan bukan dalam keadaan tidur. Kelak, Ia akan benar-benar diturunkan ke bumi untuk membasmi kemungkaran.”

2. Pendapat Ayahanda Hamka Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)
"....yaitu bahwasanya Isa al Masih yang akan datang itu tidaklah diketahui oleh seorang juga, apakah hakikatnya....Dan siapakah dia? Dan kapankah? Dimanakah? Maka iman dengan dia itu ialah wajib, sedang mengetahui hakikatnya itu wajib pula diserahkan kepada Allah Taala saja...."dst.... (Al-Qaulush Shahih, halaman 134).

3. Pendapat Prof. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)1956, "Peladjaran Agama Islam," Penerbit "Bulan-Bintang," Djakarta, Tjetakan Pertama.
“Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa.
Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa
"Mahdi itu tidak lain adalah Isa." Mereka perbincangkan
apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit,
ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan”

“ Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati,
dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit
dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari
kata "wafat" itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa
mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir
bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau
diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang
mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.”

“Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat
yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah
wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada
"mutawaffika" tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat
Allah, (wa rafi'uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang
suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.”

“Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum
hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama "Al-Uhad."
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut
pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita
jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok
kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita
keluar dari Agama Islam.”

“Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan
Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal
yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah
didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang
telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak
empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya
empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat
burung itu, dengan izin Allah!”

“Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa
kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah
permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain.
Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa
Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.”

4. Pendapat Ulama Kontemporer

Atau bisa saja Nabi Isa as. diturunkan ke bumi, tapi turun dengan pengertian “semangat”, “ruh”, bukan dengan pengertian hakikat; raga dan bentuknya. Maka, era Isa adalah masa kebangkitan semangat menghidupkan kembali syariat Islam yang telah lama tercabik-cabik. Dan Dajjal bukanlah makhluk raksasa 'setengah dewa' yang sebelah matanya buta, dengan membawa surga dan neraka di genggamannya, yang menjadi musuh bebuyutan Nabi Isa, tetapi ia tak lebih dari simbol kemungkaran, ikon kejahatan yang dikalahkan oleh 'ruh Isa'. Pendekatan hermeneutika seperti ini dihembuskan oleh Imam al-Razi, Rasyid Ridla, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Abduh, Alusi, al- Maraghi, serta beberapa pemikir kontemporer lainnya.



Wednesday, June 4, 2008

Korban Monas: K.H. Maman Gelar Istigasah

Inilah Kyai contoh yang benar-benar menerapkan prilaku nabi dalam kehidupannya. Bagaimana dengan FPI?? Coba pikir...

===========================================
K.H. Maman Gelar Istigasah
http://www2. pikiran-rakyat. co.id/prprint. php?mib=beritade tail&id=16256

BANDUNG, (PR).-
Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan, Jatiwangi, K.H. Maman Imanulhaq, salah seorang korban aksi pemukulan Front Pembela Islam (FPI) di Monas Jakarta, Selasa (3/6) pagi dijemput oleh sejumlah santri dan simpatisannya. Malam harinya, bersama Pimpinan Pondok Pesantren Buntet, K.H. Abas dan 10.000 umat Islam bertempat di Desa Buyut, Gunungjati, Cirebon dilakukan doa istigasah untuk keselamatan umat Islam.

Dalam kondisi masih sulit berbicara, Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan Jatiwangi, K.H. Maman Imanulhaq, memaksakan diri untuk pulang ke Cirebon. "Selain untuk menemui sesepuh saya di Pontren Buntet, juga untuk meredam amarah masyarakat Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) yang berencana berangkat ke Jakarta untuk menuntut balas," ujar K.H. Maman, saat memberikan keterangan kepada sejumlah media cetak dan elektronik, bertempat di rumah makan Bale Gazebo, Bandung, Selasa (3/6) kemarin.

Dikatakan K.H. Maman, peristiwa yang menimpa dirinya dan sejumlah aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AK-KBB) yang terdiri dari 72 elemen, oleh FPI, merupakan tindakan terhadap pencorengan agama. Aksi yang dilakukan sudah bukan lagi berdasarkan akidah agama Islam, tetapi cenderung sebagai bentuk premanisme dan anarkisme.

Karenanya, baik pihaknya maupun korban aksi FPI menuntut agar tindakan yang dilakukan oleh FPI diproses sesuai hukum yang berlaku. "Kami tidak akan menuntut balas, hanya kami berharap masalah ini harus tuntas dan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku," ujar K.H. Maman.

Akibat pemukulan yang dilakukan sejumlah anggota FPI, K.H. Maman mengalami sejumlah luka di tubuhnya. Selain luka parah di bagian kepalanya dan leher, dirinya juga mengalami sejumlah luka pada bagian wajah (hidung dan pelipis), serta di bagian rusuk.

Pada hari nahas tersebut dirinya berhasil diselamatkan setelah ditinggal pergi oleh para pelakunya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sedikit siuman dan dibantu beberapa warga dirinya naik taksi dan meminta diantar ke RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur.

Karena khawatir terhadap kondisi psikologis dirinya dan di luar rumah sakit berkeliaran anggota FPI yang berniat mendatangi dirinya untuk berdialog, beberapa orang santri dan anggota ormas Sundawani yang bersimpati menjemputnya dari rumah sakit. "Pihak rumah sakit memberikan izin pulang selain agar saya bisa istirahat di rumah juga untuk menghindari kedatangan perwakilan FPI ke rumah sakit yang dikhawatirkan akan menimbulkan keributan kembali," ujar K.H. Maman.

Upaya untuk keluar rumah sakit menurut K.H. Maman, bukan merupakan perkara yang mudah meski sudah mendapatkan izin dari pihak rumah sakit. Setelah ada upaya dari sejumlah santrinya dan anggota ormas Sundawani, melalui lantai dasar K.H. Maman dapat dikeluarkan dari kompleks rumah sakit yang juga mendapat pengamanan petugas kepolisian maupun FPI.

"Alhamdulillah, saya dibawa pulang oleh rekan-rekan pagi tadi, melalui jalan belakang gedung dapat keluar dari rumah sakit. Saat ini saya akan langsung ke Cirebon untuk menenangkan santri dan massa simpatisan saya yang hendak bertolak ke Jakarta," ujarnya.

Dikatakan K.H. Maman, berdasarkan informasi santrinya yang turut menjemput, ada 1.000 santri dan massa dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan akan datang ke Jakarta. Selain untuk melakukan aksi menuntut para pelaku diproses hukum, mereka juga menuntut agar FPI dibubarkan.

Menurut K.H. Maman, pihaknya secepat mungkin akan bertolak ke Pesantren Al Mizan pimpinannya dan sejumlah ormas Islam di Cirebon untuk menenangkan dan memperlihatkan bahwa dirinya dalam kondisi sudah sehat. "Karena, selain mau datang ke Jakarta, sejumlah simpatisan akan melakukan pembalasan terhadap FPI di Cirebon," ujar K.H. Maman.

Malam harinya, bertempat di Desa Buyut, Gunungjati, Cirebon, bersama K.H. Abas pimpinan Pontren Buntet dan sekitar 10.000 santri serta masyarakat setempat, K.H. Maman melakukan doa istigasah. "Doa kami lakukan bukan hanya untuk kesehatan kami yang menjadi korban, tetapi untuk bangsa ini yang tengah sakit dan dirundung masalah," ujar K.H. Maman, saat dihubungi via telefon, semalam.

Setelah doa, K.H. Maman meminta agar umat Islam Ciayumajakuning, untuk tidak terpancing dan melakukan aksi yang dapat memperkeruh masalah dan menambah masalah baru.

K.H. Maman menegaskan bahwa sebelum insiden, AK-KBB yang terdiri dari 72 elemen, murni akan melakukan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Monas, karena sudah mendapat izin dari aparat kepolisian. (A-87/A-156) ***