Thursday, December 18, 2008

Kebenaran Lia Eden


Lia Eden kembali menuai kontroversi. Kali ini wahyu yang disampaikan oleh yang mengaku dirinya jibril itu menyatakan pembubaran agama islam. Selain itu, pemerintahan SBY juga menjadi pokok bahasan.

Saya sempat berbahas dengan teman-teman mengenai Lia Eden. Di luar statementnya tentang pemerintahan Indonesia (politik banget), apakah mungkin bahwa Lia dan kerajaannya ini benar?

Bagi sebagian orang (termasuk saya), pertanyaan di atas bisa saja timbul, apalagi dengan kondisi islam sekarang ini yang umatnya terus-menerus mencoreng moreng wajahnya dengan berbagai perbuatan yang melanggar nurani (baca: terorisme).

Saya sempat heran dan sekaigus merasa lucu melihat tingkah beberapa pihak yang merasa diri paling islam (baca: FPI dkk.) yang sempat diberitakan akan menyerang markas kerajaan Eden terkait selebarannya itu. Kenapa heran?? Ini terkait dengan jawaban atas pertanyaan diatas mengenai kebenaran Lia Eden.

Ketika saya berbahas dengan beberapa teman, saya sempat agak bimbang untuk memberi tanggapan. Bimbang karena memang fakta yang nyata bahwa umat islam banyak bertindak yang melanggar kebenaran. Pembunuhan orang yang tidak berdosa meski dengan alasan apapun sungguh tidak pernah ada dalam agama ini. Mengganggu ketertiban dan keamanan serta kepentingan umum sungguh merupakan perbuatan tercela menurut kitab suci manapun. Dan itu semua dilakukan oleh orang yang mengaku islam itu.

Namun kemudian saya sadar bahwa mereka itu bukanlah islam. Islam tidaklah sebagaimana yang mereka fahami dan amalkan sehingga sedemikian layak untuk dibubarkan seperti kata wahyu Lia. “Aku tidak setuju!” sanggahku dengan bersemangat. Sebagai orang islam kita harus yakin bahwa agama ini benar dan paripurna. Tidak ada lagi agama setelah islam. Hanya karena ulah segelintir orang yang kurang pengetahuan tidak menjadikan islam menjadi agama yang harus dibubarkan.

Yang kedua, menurut agama kita, tidak ada utusan Tuhan seorang perempuan. Atau seseorang dapat mengaku menjadi penjelmaan malaikat jibril. Cobalah anda perhatikan dengan seksama betapa kacaunya pendakwaan Lia Aminudin alias Lia Eden ini.
Oleh karena itulah saya menjadi heran dan geli. Mengapa orang-orang itu begitu belingsatan dengan selebaran Lia Eden? Toh seharusnya sebagai orang islam yang yakin dengan kebenaran islam kita tidak perlu terganggu dengan selebaran seperti itu. Sama halnya anda merasa tersinggung karena dikata-katai tidak benar oleh orang yang tidak sehat pikirannya lalu anda marah dan naik pitam.

Menurut saya Lia Eden dan komunitasnya tidak perlu diurusi. Yang perlu diurusi justru adalah orang-orang yang selama ini terus menerus mencoreng wajah keindahan islam dengan prilaku barbariannya itu. Tidak akan ada yang tertarik dengan Lia Eden atau apapun jika seseorang sudah melihat keindahan islam yang hakiki.

Permasalahan selanjutnya adalah dimana dan bagaimana kita dapat melihat keindahan islam yang hakiki?? Tentu perlu upaya dan kegigihan. Seperti halnya orang yang mendulang emas dan intan, anda jangan cepat menyerah hanya karena terus menemukan lumpur dan kerikil saja. Tapi selama anda yakin sudah berada di sungai yang benar, pada akhirnya upaya pencaharian anda pasti akan menemukan hasilnya. InsyaALLah.

=================

Berikut Wahyu Lia Eden yang ditampilkan dalam situs resminya, seperti dikutip INILAH.COM, Senin (15/12).

Wahyu Tuhan untuk Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono

Atas Nama Tuhan Yang Maha Perkasa

Wahyu Tuhan:

Sedapat-dapatnya Aku memberitahukan kepadamu tentang Keinginan-Ku memberdaulatkan Kerajaan Eden dan Surga Eden di negaramu ini. Namun telah kauabaikan semua Surat-surat-Ku yang Kutujukan kepadamu. Sampailah Aku pada kesimpulan bahwa Anda benar-benar tak bersedia mematuhi-Ku. Maka Aku pun telah sampai pada batas waktu yang patut Kuberikan kepadamu.

Inilah Surat-Ku yang berisi fatwa penghapusan kedaulatanmu sebagai pemimpin negara Indonesia. Aku takkan memberimu peluang untuk terpilih kembali, dan pemerintahanmu ini akan berakhir chaos, dan negaramu Kubuat tak berdaya, karena Aku menundukkanmu, dan Aku akan mendirikan Kerajaan-Ku dengan segala cara!

Perubahan drastis akan segera terjadi seusai Surat-Ku ini sampai kepadamu.

Demikian Wahyu Tuhan telah kami sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.

Jakarta, 23 November 2008

ruhul kudus

Jibril Ruhul Kudus


Sumber: Inilah.com



Tuesday, December 16, 2008

Etika Perniagaan Dalam Islam

Islam tidak berseberangan dengan kapitalisme dan tidak juga sepenuhnya menentang komunisme, malah memiliki sikap dan pandangan-pandangan terbaik dari keduanya.

Berikut ini beberapa contoh dimana 1400 tahun yang lalu, Islam telah memberikan norma-norma komersial sehat yang baru disadari secara susah payah oleh manusia modern:
  1. Hubungan komersial menurut Islam didasarkan pada kepercayaan dan kejujuran mutlak (Al-Baqarah: 283 - 284).
  2. Islam melarang pedagang menipu timbangan dan mengurangi takaran (At-Tathfif: 2-4).
  3. Para pedagang dilarang menjual barang yang cacat, busuk atau rusak. Seorang pedagang tidak boleh mencoba menutupi cacat barang yang ditawarkannya (Hadith Muslim). Kalau barang seperti itu terjual tanpa diketahui oleh pembeli maka ia berhak mengembalikan barang tersebut dan memperoleh uangnya kembali (Hadith).
  4. Seorang pedagang tidak diizinkan memberikan harga yang berbeda untuk suatu barang kepada konsumen yang berbeda walaupun ia boleh saja menawarkan diskon kepada siapa pun. Ia bebas boleh menetapkan sendiri prosentasenya (Bukhari dan Muslim).
  5. Islam melarang persaingan atau kartel buatan yang menghasilkan persaingan bohong-bohongan. Agama juga melarang mengatrol harga pada suatu lelang dengan cara memberikan penawaran palsu untuk mengelabui calon pembeli (Bukhari dan Muslim).
  6. Islam menyarankan jual beli barang dilakukan secara terbuka dan sebaiknya di hadapan saksi-saksi dan mengingatkan pembeli agar berhati-hati dalam membeli barang (Al Baqarah: 283 - 284; Muslim).


Singkat kata, Islam memilih strategi untuk memperkecil jurang antara yang kaya dengan yang miskin melalui:
  • Menetapkan beberapa tegahan sebagaimana dikemukakan di muka seperti larangan judi, minum minuman keras dan lain-lain.
  • Melarang penimbunan harta dan akumulasi kekayaan melalui bunga uang.
  • Mendorong usaha privat.
  • Mendorong sirkulasi kekayaan yang cepat.
  • Berulangkali memerintahkan, mengingatkan dan membujuk rasa citra manusia yang luhur agar menganut gaya hidup sederhana dan merendah yang tidak jauh berbeda dengan fakir miskin.

Tujuan daripada hal-hal di atas adalah agar manusia lebih peka terhadap perasaan sesamanya dan mengekang dorongan-dorongan hewaniah dan sadistis dalam dirinya. Perang Jihad yang haqiqi adalah melawan kesombongan, kemunafikan, sifat snobis, keangkuhan, kekasaran dan ketololan. Semua yang luhur di dalam pikiran manusia dicoba ditarik keluar dan ia dibuat sedemikian peka terhadap penderitaan sesamanya sehingga ia menganggapnya sebagai kejahatan jika ia hidup dalam kemewahan dan kesenangan sedangkan yang lainnya masih menderita dan harus mengais untuk hidup.

Tentu saja orang-orang beradab tinggi yang jadi pemuka dengan nilai-nilai adab yang luhur, selalu merupakan minoritas kecil. Tetapi dengan adanya mereka, kesadaran masyarakat secara menyeluruh atas kesejahteraan sesamanya akan terangkat, sehingga kecil kemungkinan mereka hanya akan memperhatikan kebutuhan dan kesenangan dirinya sendiri dengan menghiraukan kesengsaraan bagian lain dari masyarakat. Perhatian mereka terhadap kehidupan tidak akan terfokus ke dirinya sendiri. Mereka belajar hidup dengan kesadaran yang lebih luas akan kehidupan di sekitar mereka. Mereka merasa kurang senang kalau mereka tidak berpartisipasi secara material guna mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar hidup yang lainnya.

Karakteristik masyarakat muminin demikian dikemukakan di salah satu ayat-ayat awal Al-Quran:


. . . dan menafkahkan segala sesuatu dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. (S.2 Al-Baqarah: 4)



Wednesday, November 19, 2008

KIAT KELUARGA SAKINAH

Allah taala telah mengajari kita berbagai macam doa yang merujuk kepada sifat Al Wahab-Nya. Kaum mukmin hendaknya memperhatikan kewajiban mereka terhadap anak keturunan mereka, mendoakan pasangan hidup mereka dan anak cucu mereka, sehingga akhlakul karimah dan amalan shalihan mereka dapat berlanjut terus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Thursday, September 25, 2008

PUASA DAN PENGORBANAN


Ibadah puasa sangat erat hubungannya dengan pengorbanan. Seseorang yang berpuasa dituntut untuk mengorbankan sebanyak mungkin segala hasrat / keinginannya selama waktu tertentu. Makan, minum dan menggauli istri itu semua kebutuhan dasar manusia. Sangat mendasar hingga terkait langsung dengan kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Tanpa itu kelangsungan manusia tidak akan bertahan lama. Dapat dibayangkan bila seseorang tidak menemukan makanan dan minuman, dalam tempo beberapa hari saja kualitas hidupnya akan segera habis. Demikian pula terjadi bila manusia tidak mengadakan hubungan seksual dengan lawan jenisnya, tentu lama kelamaan akan punah juga seperti halnya nasib beberapa satwa langka.

Dalam ibadah puasa justru semua hal asasi itu yang dikorbankan. Kita diperintahkan untuk meninggalkan semua hal mendasar penunjang keberlangsungan hidup kita. Seolah Allah swt. meminta kepada kita untuk belajar mengorbankan bahkan kehidupan kita sekalipun. Bentuk pengorbanan yang terus menerus dicontohkan oleh para nabi Allah dari masa ke masa.

Puasa bertujuan membentuk manusia-manusia bertaqwa. Pengorbanan merupakan salah satu indikator ketaqwaan yang sangat utama. Firman-Nya:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

"yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (Al-baqarah:2)

Sekarang ini banyak sekali orang berpuasa tanpa mengenali hakikatnya. Akibatnya, setiap tahun berpuasa tanpa ada makna berarti dalam dirinya. Sebagaimana sabda nabi saw. "Begitu banyak yang berpuasa, namun tiada mereka dapat melainkan hanya sekedar lapar dan dahaga".

Sekarang ini jiwa pengorbanan sedemikian lemahnya dalam diri orang-orang islam. Untuk membangun sebuah mesjid-pun sampai harus meminta sumbangan di jalan-jalan raya. Orang-orang kaya memberi zakat dan sumbangan hanya untuk kepentingan "riya". Orang-orang miskin mempertaruhkan jiwa hanya untuk uang beberapa rupiah saja. Kita sangat prihatin dengan nasib para korban "zakat maut" di Pasuruan beberapa waktu lalu.

Jiwa pengorbanan adalah bagian tak terpisahkan dalam diri seorang muslim sejati. Kita lihat pada jaman nabi saw. para sahabat nabi juga kebanyakan hidup dalam kemiskinan. Namun kemiskinan itu tidak membuat mereka berebut zakat seperti yang terjadi sekarang. Kemiskinan tidak menghalangi mereka untuk berkorban. Nabi saw. sendiri malah memilih kehidupan "miskin" sepanjang hidupnya sehingga beliau tidak pernah dapat membayar zakat harta. Dan nabi banyak menyatakan kecintaannya kepada kaum miskin dan du'afa.

Apakah sekarang ini tidak mungkin lagi untuk mencontoh nabi dan para sahabatnya? Atau apakah islamnya nabi sudah tidak sesuai lagi pada zaman ini? Na'uzubillahi min zalik.. Demi ALLAH islam adalah agama yang paripurna. Yang ajarannya tidak akan berubah lagi hingga akhir masa. Yang perlu masa sekarang ini hanyalah penyegaran. Tidak perlu suatu ajaran baru. Permasalahannya sekarang bagaimana cara menyegarkan kembali "taman" islam setelah begitu lama ditinggalkan oleh pemilik kebunnya? Anda benar, harus ada tukang kebun yang lain untuk mengurusi taman itu. Dan ini adalah janji Allah Ta'ala bahwa dia tidak membiarkan umat ini dalam keadaan kehancuran melainkan Dia akan senantiasa memeliharanya dengan berbagai cara.

Friday, September 5, 2008

Ahmadiyah di Sumsel Ternyata Tidak Dilarang

Setelah dikaji dengan lebih mendalam, ternyata yang dilarang itu hanya aktivitas ibadah yang bertentangan dengan ajaran Islam saja. Bukan aktivitas secara keseluruhan seperti yang dilansir berbagai media selama ini.

Hal ini terungkap dari pernyataan Mendagri, Mardiyanto usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (3/9).


"Kalau saya baca secara utuh dari keputusan-keputusan itu, sebetulnya keputusan ini menjabarkan dari SKB. Jadi larangannya adalah dalam menjalankan ibadah-ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam". Demikian pernyataan Mendagri.



Momentum 1 Ramadhan di Sumatera Selatan

Ahmadiyah kembali diusik. Tepat di permulaan bulan suci Ramadhan sebuah langkah "berani" telah diambil oleh Pemprov Sumsel terkait masalah Ahmadiyah. Atas desakan berbagai pihak, pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), hari Senin (1/9), secara resmi melarang aktivitas Ahmadiyah di provinsi itu. Banyak pihak yang melayangkan protes atas langkah tersebut. Salah satunya adalah anggota Wantimpres yang juga merupakan salah seorang ahli hukum senior di Indonesia, Adnan Buyung Nasution, SH.


Buyung Protes Pelarangan Ahmadiyah di Sumsel


Jakarta - Pemprov Sumsel melarang aktivitas Ahmadiyah. Alasannya hal ini terkait tuntutan masyarakat. Tapi protes keras datang dari Adnan Buyung Nasution.

"Keputusan gubernur itu harus dibatalkan karena melampaui kewenangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang tertinggi dan semangat pluralisme," tulis Adnan Buyung dalam siaran pers yang diterima detikcom, Selasa (2/9/2008).

Anggota Wantimpres ini menilai keputusan Gubernur Sumsel Mahyudin MS nomor 563/KPTS/BAN.Kesbangpol & Linmas tentang larang terhadap aktivitas ahmdiyah jelas-jelas kebablasan dan bertentangan dengan semangat otonomi.

"Gubernur melampaui kewenangan yuridisnya, semestinya tidak mengatur di bidang agama. Dan aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan, tidak boleh mengikuti pejabat yang sewenang-wenang," jelas Adnan Buyung.

Selain itu, keputusan itu juga bertentangan dengan SKB 3 Menteri yang tidak berisi pembubaran Ahmadiyah. Dan secara substansial bertentangan dengan pasal 29 UUD 1945.

"Setiap warga negara wajib mematuhi hukum dengan tidak melakukan upaya main hakim sendiri, apalagi melakukan aksi-aksi kekerasan," tandasnya.(ndr/crn)

Baca artikel di halaman asli di detiknews>>>


Thursday, August 28, 2008

Hikmah Ajaran Menutup Aurat dalam Islam

Diakui maupun tidak, kebanyakan kaum pria tentu senang melihat keindahan fisik lawan jenis. Namun apakah anda pernah memikirkan dampaknya pada kesehatan anda? Bagaimana jika kebiasan anda menikmati pose-pose seksi kaum hawa ternyata justru membawa bencana pada kesehatan reproduksi anda sendiri??



Wednesday, August 27, 2008

Raja Abdullah Serukan Umat Beragama Jauhi Ekstremisme


Madrid,18/7 (Pinmas)--Raja Abdullah dari Arab Saudi menyerukan kepada umat beragama agar menjauhi ekstremisme dan mengadakan rekonsiliasi. Raja Abdullah juga menyerukan dialog konstruktif untuk membuka halaman baru rekonsiliasi setelah begitu banyaknya perselisihan.


Pertemuan di Madrid pada 16-18 Juli yang disponsori Arab Saudi dimaksudkan untuk mendekatkan umat Muslim, Kristen, dan Yahudi serta mengisolasi orang-orang yang memanfaatkan agama untuk membenarkan kekerasan dan intoleransi. Madrid dipilih karena kota ini menjadi rumah bagi berkembangnya ketiga agama besar itu dalam harmoni selama berabad-abad.


Raja Abdullah mengatakan, upaya sebelumnya untuk menggelar dialog antaragama gagal karena hanya terfokus pada perbedaan agama. "Jika ingin berhasil dalam pertemuan historis ini, kita harus menekankan persamaan yang kita miliki, yaitu kepercayaan dan iman kepada Tuhan,"ujarnya Kamis (17/7).


Selain umat ketiga agama, Raja Abdullah juga mengundang perwakilan umat Buddha, Hindu, dan Sikh. Peserta yang hadir antara lain mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan pendeta asal AS, Jesse Jackson.


Setelah upacara pembukaan, Rabu, dialog dilanjutkan dengan pertemuan tertutup. Sebuah komunike akhir akan dikeluarkan hari Jumat ini.


"Jika pertemuan ini bergerak maju dan ada pertemuan dengan perwakilan resmi Israel di Arab Saudi, ini akan menjadi permulaan bagus dalam sebuah proses historis. Jika tidak, ini hanya satu lagi kesempatan foto bersama," kata Rabi David Rosen dari Komite Yahudi Amerika.


Presiden Kongres Yahudi Sedunia Ronald Lauder menyebut pertemuan itu signifikan. Kardinal Jean-Louis Tauran dari Vatikan menggambarkan dialog antaragama itu sebagai langkah yang penuh semangat. "Ini adalah tugas pemimpin agama untuk bekerja bersama memperbaiki penghormatan nilai-nilai etis dan menghindari benturan peradaban," kata Lauder.


Isu yang dibicarakan dalam pertemuan mencakup etika, keluarga, dan lingkungan. (kcm/ts)

>>Berikut ini terjemahan sambutan dimaksud>>


Konferensi Dunia
Sambutan Raja Abdullah bin Abdulaziz dalam Konferensi Dunia tentang Dialog

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa, yang telah mewahyukan dalam Kitab Suci-Nya: "Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa."

Damai dan rahmat atas Nabi Muhammad dan atas seluruh nabi dan rasul.

Yang Mulia, sahabatku, Juan Carlos, Raja Spanyol, Sahabat-sahabat yang terhormat:

Selamat datang, dan saya ucapkan terima kasih kepada Anda yang telah menjawab undangan kami dan hadir dalam dialog ini. Saya menghargai segala upaya yang anda lakukan dalam melayani kemanusiaan. Saya haturkan penghargaan setinggi-tingginya kepada sahabat-sahabat saya, Yang Mulia Raja Juan Carlos dan Kerajaan Spanyol, serta rakyatnya yang penuh keramahan menyambut berkumpulnya kita dalam konferensi ini di tanah air mereka, sebuah wilayah yang memiliki warisan bersejarah dan peradaban di antara umat-umat beragama, dan yang telah menjadi saksi koeksistensi antara rakyat dari berbagai suku bangsa, agama, dan kebudayaan, dan yang memberi sumbangan, bersama peradaban-peradaban lain, bagi kemajuan umat manusia.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: saya datang kepada Anda dari tempat yang dekat dengan hati semua Muslim, tanah tempat Dua Masjid Suci, membawa sebuah pesan dari dunia Islam, yang mewakili para sarjana dan pemikirnya yang belum lama ini bertemu dalam lingkup baitullah.

Pesan ini menyatakan bahwa Islam merupakan sebuah agama yang tidak berlebih-lebihan dan bertenggang rasa; sebuah pesan yang menyerukan bagi dialog konstruktif di antara umat beragama; sebuah pesan yang berjanji membuka sebuah halaman baru bagi umat manusia yang di dalamnya – Insya Allah – musyawarah akan menggantikan konflik.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Kita semua percaya pada Tuhan yang Maha Esa, yang mengirimkan para utusan-Nya demi kebaikan umat manusia di dunia ini dan akhirat nanti. Sudah kehendak-Nya, Maha Besar Allah, bahwa manusia harus berbeda dalam keyakinan. Jika Allah Yang Maha Kuasa berkehendak, semua manusia akan memiliki agama yang sama. Kita bertemu hari ini untuk menegaskan bahwa agama-agama yang dikehendaki Allah Yang Maha Kuasa demi kebahagiaan umat seharusnya menjadi sarana untuk memastikan terwujudnya kebahagiaan itu.

Karena itu wajib hukumnya bagi kita untuk menyatakan kepada dunia bahwa perbedaan tidak harus menyebabkan konflik dan konfrontasi, dan untuk menyatakan bahwa tragedi-tragedi yang telah terjadi dalam sejarah manusia tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi merupakan akibat dari ekstremisme yang sebagian umat dari setiap agama ilahiah, dan dari setiap ideologi politik, telah pernah mengalaminya.

Umat manusia dewasa ini sedang menderita akibat hilangnya nilai-nilai dan kerancuan konseptual, dan sedang melalui sebuah tahapan kritis di mana, terlepas dari segala kemajuan ilmu pengetahuan yang ada, kita sedang menyaksikan berkembang biaknya kejahatan, meningkatnya terorisme, terpecahnya keluarga, pemberontakan pikiran-pikiran kaum muda akibat penyalahgunaan obat-obatan, pemerasan yang lemah oleh yang kuat, dan kecenderungan-kecenderungan rasis penuh kebencian. Ini semua merupakan akibat dari kekosongan spiritual yang diderita orang karena mereka melupakan Tuhan, dan Tuhan menyebabkan mereka melupakan diri mereka sendiri. Tidak ada penyelesaian bagi kita selain menyepakati sebuah kesatuan pendekatan, melalui dialog di antara agama dan peradaban.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Kebanyakan dialog di masa lalu gagal karena mereka telah terpuruk menjadi tempat saling menuding yang memusatkan perhatiannya pada perbedaan-perbedaan yang ada dan melebih-lebihkannya; dengan upaya-upaya mandul yang justru semakin memperburuk dan bukannya meredakan ketegangan, atau karena mereka mencoba untuk mencampurkan agama dan keyakinan dengan alasan untuk mempererat persatuan mereka.

Ini adalah sebuah upaya yang sama-sama tidak akan membuahkan hasil karena umat tiap-tiap agama memiliki iman yang teguh terhadap keyakinan mereka masing-masing, dan tidak akan menerima pilihan lain yang ditawarkan. Jika kita ingin pertemuan bersejarah ini berhasil,
kita harus memusatkan perhatian pada persamaan-persamaan yang menyatukan kita, yaitu iman yang kuat kepada Tuhan, prinsip-prinsip yang mulia, dan nilai-nilai moral yang tinggi, yang merupakan intisari agama.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Manusia dapat menjadi penyebab kehancuran planet ini dan semua yang ada di dalamnya. Tapi manusia juga mampu mengubahnya menjadi sebuah oasis perdamaian dan ketenangan tempat para umat berbagai agama, keyakinan, dan filosofi dapat hidup berdampingan, dan orang dapat bekerja sama satu dengan yang lain dalam sikap saling menghormati, dan mengatasi berbagai permasalahan melalui dialog, bukan kekerasan.
Manusia juga mampu – dengan rahmat Allah – memusnahkan kebencian dengan cinta, dan kemunafikan dengan toleransi, yang dengan demikian memungkinkan semua umat manusia menikmati martabat yang telah dianugerahkan Yang Maha Kuasa kepada mereka semua.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Marilah kita jadikan dialog kita sebagai sebuah kemenangan keyakinan atas ketidakyakinan, kebajikan atas kejahatan, keadilan atas ketidakadilan, perdamaian atas konflik dan perang, dan persaudaraan manusia atas rasisme.
Karena itu, bersama Tuhan kita memulai, dan kepada-Nya kita memohon pertolongan. Saya mengulurkan sambutan dan menghaturkan penghargaan tulus saya kepada Anda semua.
Terima kasih dan damai bagi kita.

* Raja Abdullah bin Abdulaziz adalah Raja Kerajaan Arab Saudi.
Konferensi Dunia tentang Dialog berlangsung di Madrid pada 16-18 Juli 2008.

Monday, August 25, 2008

Di Balik Perayaan 63 tahun HUT RI

Pesta Rakyat dan Penderitaan Warga Ahmadiyah

Jika para korban lapindo bisa menulis surat cinta kepada Aa Gym dan Arifin Ilham, sebetulnya masih ada lagi sekelompok lain yang juga hingga saat ini masih menderita dan belum mendapat keadilan, para pengikut Ahmadiyah. Mengingat apa yang sedang menimpa mereka, merekapun seharusnya menulis surat serupa itu kepada tokoh-tokoh seperti Arifin Ilham dan Aa Gym.

Seperti halnya korban lapindo yang hingga kini nasibnya terkatung-katung, pengikut Ahmadiyah juga bernasib sama. Hanya saja korban lapindo masih bernasib lebih baik karena tidak ada yang mengotak-atik hak hidupnya di bumi Indonesia ini. Mereka masih bebas menentukan kemana pun mereka akan melangkah dan apa pun yang akan mereka lakukan. Kemalangan itu adalah karena 'kelalaian' (jika memang susah untuk disebut bencana) dan bukan karena kezhaliman saudara sesama anak bangsa.

Ahmadiyah, sebagaimana kita ketahui, telah dikenai stigma sesat oleh ulama pengayom umat. Dan karenanya penjelasan apapun yang diberikan oleh Ahmadiyah tentang keyakinannya, meskipun itu berasal dari Quran dan Hadits, tetap tidak akan diterima.

Padahal dari 10 kriteria sesat yang ditetapkan oleh MUI, tidak satupun yang dapat dikenakan pada Ahmadiyah. lihat penjelasan ahmadiyah tentang 10 kriteria sesat MUI>>

Sekarang ini sebagai hasil dari stigma sesat Ulama, warga Ahmadiyah terus mengalami berbagai penderitaan. Salah satu kasus adalah yang terjadi di Pancor, Lombok Barat beberapa waktu silam. Akibat kekerasan warga masyarakat yang terprovokasi, warga ahmadiyah disana kehilangan hak hidup mereka. Mereka terusir dari tempat tinggalnya dan harus meninggalkan segalanya tanpa ampun hanya karena beda keyakinan. Anda mungkin percaya-tidak percaya. Namun itulah yang terjadi.

Hingga sekarang warga Ahmadiyah ini masih harus tetap tinggal di pengungsian di Asrama Transito, Mataram, NTB. Dengan kondisi seadanya harus tabah menghadapi cobaan demi memegang keyakinan mereka.

Melihat berbagai kemeriahan yang diadakan oleh warga masyarakat di berbagai tempat, saya malah teringat akan penderitaan saudara-saudara kita yang hingga saat ini masih dalam penderitaan mereka. Salah satunya adalah warga Ahmadiyah yang hingga saat ini terus didera masalah di berbagai daerah.. Haruskah ahmadiyah hilang dari bumi Indonesia ini hanya karena masalah keyakinan?? Seberapa parahkah kebencian anda yang tidak suka dengan ahmadiyah hingga tidak mengenal kata lain selain anarkis!!!??

Jika anda dapat menjawabnya, alangkah baiknya sayapun diberitahukan agar lebih mengerti kecarut-marutan ini..

Salaamun 'alaa manit taba'al huda.

lihat laporan resmi wartawan RNW tentang Ahmadiyah di transito >>>


Monday, August 11, 2008

Lagi! Mesjid Ahmadiyah Dirusak

Sukabumi, Jum'at (8/8) di kaki Gunung Salak yang sejuk dan asri dengan kehijauan perkebunan teh yang menghampar bak permadani, sebuah tindakan anarkis kembali terjadi terhadap Ahmadiyah. Kali ini dua mesjid sekaligus rusak parah setelah diserbu massa di desa Lebaksari, Kecamatan Parakansalak. Sebelumnya sebuah mesjid di desa yang berdekatan (Parakansalak) juga habis dibakar massa setelah sehari sebelumnya memberi ultimatum yang dketahui oleh aparat.

Pangkalnya adalah masalah keyakinan. Masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup rukun bersama-sama warga ahmadiyah disana, tiba-tiba saja menjadi benci. Ahmadiyah tidak merubah keyakinannya sedari awal, namun entah bagaimana paradigma warga menjadi berubah.

Diketahui bahwa upaya-upaya provokasi dan penghasutan memang kerap terjadi, terlebih sekarang ini. Namun demikian hal ini tidak disikapi oleh pihak berwajib sebagaimana mestinya. Malah yang terjadi adalah warga ahmadiyah yang ditekan agar memenuhi kehendak massa, dengan alasan untuk menjaga stabilitas keamanan.

Monday, August 4, 2008

JALSAH SALANAH U.K 2008


KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 25 July 2008 dari Hadiqatul Mahdi London, U.K.

TENTANG : JALSAH SALANAH U.K 2008

Pada hari ini Jalsah Salanah Jema’at Ahmadiyah UK akan segera dimulai, insya Allah!! Jalsah pada tahun ini kita berkumpul disni untuk mensyukuri genapnya seabad Khilafat Ahmadiyah dan untuk mensyukuri karunia-karunia, rahmat dan pertolongan-pertolongan yang turun dari Allah swt selama seratus tahun, Jalsah ini merupakan sebuah Jalsah yang sangat penting. Jalsah ini dirasakan sangat penting oleh setiap orang tua, pemuda-pemudi, lelaki maupun perempuan. Disebabkan pentingnya itu, dan mengingat akan melimpahnya jumlah para tetamu dari dalam maupun luar negeri yang akan datang menghadiri Jalsah ini, Jema’at Ahmadiyah Britania telah meningkatkan persiapan-persiapannya lebih luas lagi. Dan saya harap persiapan-persiapan tahun ini secara keseluruhan akan jauh lebih baik, sekalipun terdapat kelemahan-kelemahan yang kecil yang pada umumnya biasa terjadi. Dengan pengalaman yang sudah cukup lama yang dimiliki oleh para pegawai dan para petugas relawan Jalsah dengan karunia Allah swt telah membuat mereka menjadi sangat mahir dan terampil didalam menjalankan tugas-tugas mereka masing-masing. Dan dalam hal itu jika terdapat penilaian seorang Ahmadi dengan nuansa keimanan yang tinggi, maka artinya terdapat ketekunan yang amat sangat didalam pekerjaan yang dilakukan oleh para pegawai dan petugas relawan Jalsah Salanah.

Menag: Tak Ada Ayat yang Menyuruh Pembubaran Ahmadiyah

Menurut Nabi saw. orang islam itu adalah orang yang: 1. Shalat seperti shalat kami (nabi saw.), 2. Kiblatnya sama seperti nabi saw., 3. Dan memakan sembelihan seperti yang dicontohkan nabi..

Dalam riwayat lain Nabi saw. menegur seorang sahabat dengan sangat keras karena telah membunuh seseorang yang telah mengucap laa ilaaha illallah dengan asumsi ucapannya tidak sungguh-sungguh (bukan dari hatinya). Ketika sahabat itu menyampaikan alasannya nabi malah bertanya: "Hal syaqoqta qolbah?" (artinya:Apakah engkau telah membelah dadanya [dan melihat isinya]?)

Sekali lagi masalah keyakinan adalah masalah hati kita masing-masing. Islam jelas mengajarkan bahwa seseorang tidak dihakimi atas apa yang ada dalam hatinya. Meskipun sahabat tadi ada dalam keadaan perang, dan orang itu jelas berusaha mengelak dari terbunuh, tetap saja sahabat tadi dipersalahkan oleh nabi saw. hingga dia menyesal hingga akhir hayatnya karena peristiwa tersebut nabi tidak lagi tersenyum kepadanya.

Ahmadiyah berkali-kali menjelaskan bahwa nabi mereka adalah nabi Muhammad saw., kitabnya adalah Alquran, dan berhajji adalah ke baitullah. Apalagi yang dituntut agar diakui sebagai bagian umat islam??

Saya rasa menteri agama dan para ulama di Indonesia masih harus mendalami islam ini lagi. Jika tidak, mengapa masih terus mengatakan ini dan itu tentang ahmadiyah hingga ahmadiyah harus membuat agama baru?


Menag: Tak Ada Ayat yang Menyuruh Pembubaran Ahmadiyah
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Sejumlah ormas Islam menuntut Presiden SBY segera mengeluarkan Keppres pembubaran Ahmadiyah. Namun Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni berargumen, dia tidak menemukan ayat yang menyebutkan soal pembubaran suatu kepercayaan.

"Saya tidak mendapatkan ayat yang menyuruh pembubaran," ujar Menag usai pelepasan acara press tour wartawan Departemen Agama (Depag) ke Yogyakarta 27-29 Juni di kantor Depag, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (27/6/2008).

Menurut Maftuh, Ahmadiyah menolak menghilangkan embel-embel Islam dari Ahmadiyah. Sebelumnya Ahmadiyah mengaku nabi mereka adalah Mirza Ghulam Ahmad sedangkan Taskirah sebagai kitab sucinya.

"Itu tawaran saya sejak dulu, sudah nggak bisa itu (menghilangkan embel-embel Islam). Mereka nggak mau itu," kata Maftuh.

Maftuh menuturkan, seharusnya jemaat Ahmadiyah jika memang mengaku sebagai umat Muslim harus mengaku Tuhan mereka Allah dan Nabi mereka Muhammad.

"Kalau misal agama mereka Ghulam sudah selesai dari kemarin dulu. Tapi mereka nggak mau," pungkas dia.
(nik/nrl)


Isyu Ahmadiyah Menjelang Kampanye Pemilu 2009



Setelah "masa tenang" beberapa saat paska SKB, Ahmadiyah kembali menjadi sasaran demo. Diawali dengan sesumbar Habib Rizieq pada sidang atas dirinya di Pengadilan Negeri Jakarta. Dilanjutkan dengan demo besar di depan istana jakarta hari ini.
Yang menarik kali ini tokoh yang masih lekat di ingatan kita sebagai "teroris", Abu Bakar Ba'asyir dari Ngruki, nampak menjadi juru bicara demo yang sangat berapi-api.
Apakah ini pertanda bahwa umat islam sudah menerima kembali terorisme di bumi indonesia ini?

Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian kita adalah fakta bahwa demo diadakan menjelang pemilu 2009, menimbulkan kesan kuat bahwa demo ini begitu dipaksakan demi meraih dukungan moril materil dari kelompok-kelompok tertentu yang sekarang ini justru sedang haus dukungan massa. Atau justru sebaiknya bahwa demo ini terselenggara atas "dukungan" ... (rasanya terlalu berbau politis untuk dilengkapi).

Bagaimana jadinya bila memang masyarakat islam indonesia itu adalah pendukung kekerasan? Dan yang lebih parah lagi kemudian suara itu dimamfaatkan oleh pihak yang memang berkepentingan untuk meraih tujuan "keras"-nya.

********
15 Ribu Orang Kepung Istana Pagi Ini
Moksa Hutasoit - detikNews

Jakarta - Meski Surat Keputusan Bersama (SKB) Ahmadiyah telah dikeluarkan, Jemaah Ahmadiyah di Indonesia tidak dibubarkan. Namun mereka dilarang untuk menyebarkan ajarannya. Agar Keppres mengenai pembubaran Ahmadiyah segera diterbitkan, 15 ribu orang akan siap kepung Istana Negara.

"Sebanyak 15 ribu orang dari Gerakan Cinta Nabi Muhammad dan FUI (Forum Umat Islam) akan datang ke Istana," kata salah satu panitia, Shodiq Ramadhan kepada detikcom, Senin (4/08/08).

Tujuan kedatangan mereka, menurut Shodiq, untuk menekan Presiden SBY agar segera mengeluarkan Keppres mengenai pembubaran Ahmadiyah. Aksi di depan istana ini akan berlangsung pagi ini mulai Pukul 08.00 WIB.

"Selain ada orasi, kami juga akan mengirim delegasi agar dapat menemui presiden," pungkas Shodiq.(mok/anw)


Tuesday, July 1, 2008

Comparing the Ahmadiyah and the Hizbut Tahrir


Comparing the Ahmadiyah and the Hizbut Tahrir

Bramantyo Prijosusilo , Ngawi, East Java | Wed, 04/16/2008 12:31 PM | Opinion

Followers of Ahmadiyah believe their leaders are rightly guided Caliphs and their congregations of faithfuls constitute a Caliphate. The Hizb ut Tahrir al Islami (the Islamic Party of Liberation, HT for short) is also preoccupied with the idea of a Caliphate, a State with its own constitution, armed forces and geographical boundaries.

Where as the Ahmadiyah seek to convert people into believing in the Ahmadi version of Islam, which maintains Mirza Gulam Ahmad was the promised Messiah, the HT also attempts to convert people into believing their own version of Islam, which prescribes the struggle to establish a physical Caliphate as a wajib, or fundamental obligation, for Muslims.


Both peculiarities are unique to their groups and represent a 'deviation' from the traditional mainstream Islamic thought. HT was founded in 1953 in Jerusalem by Taqiuddin al-Nabhani, and is banned in many Islamic countries but has supporters in high places in Jakarta. Ahmadiyah is also banned in many countries and has no open supporters among the elite in Indonesia.

Although Islamic traditions state the Messiah will descend sometime before the end of the world, not many Muslims believe he has already arrived and departed in the form of Mirza Gulam Ahmad in India before its partition.

Similarly, although Islamic tradition does note early Muslims after the death of the Prophet were organized under the banner of a Caliphate, most Muslims also believe the establishing of a Caliphate is not a religious duty, and that any form of State is fine as long as it promotes justice and allows the practices of Islam and doesn't prosecute Muslims because of their faith.

Most modern Muslims believe secular democracy is better than any form of government yet invented and refer to the process of electing Abu Bakar as the first Caliph after the Prophet's death as the precedence for democracy in Islam.

Of course, there are some fundamental differences between the Ahmadiyah and the HT. The main difference is the HT aims to establish a political Caliphate.

Everywhere the HT is active, it denounces democracy as a Western vice. A glance through HT websites impresses upon the reader a hatred for Jews and the West, who are portrayed as evil controllers of the world that can only be dealt with through the establishment of a Caliphate. In contrast, the Ahmadiyah websites proclaim their motto "Love for all, hatred for none" and do not aim to overthrow any government or form any State whatsoever.

Both the Ahmadiyah and the HT are prosecuted and banned in many countries, but for different reasons. The HT is banned in many Middle Eastern countries because it is hostile toward the governments and aims to overthrow the State. In some European Union countries, the HT is banned because it breeds anti-Semitic and extremist views, and several European terrorists were found to have links to the HT and to possess substantial amounts of HT literature. The Ahmadiyah are banned in some Islamic countries because they are judged as deviating from 'true' Islam, especially in their faith in Mirza Gulam Ahmad being the promised Messiah.

In Indonesia, the MUI organization of clerics has called for the Ahmadiyah to be banned, and several Islamic organizations have viciously attacked and closed down Ahmadiyah mosques. The Indonesian chapter of the HT, in contrast, enjoys tacit support from some ministers and overt support from hard organizations.

One might be tempted to ask, if Ahmadiyah preaches love for all and hatred for no one, and HT preaches hatred for democracy and calls for the overthrow of existing States, why is it that in Indonesia, the establishment is more worried about Ahmadiyah than it is concerned about the anti-democracy ideology of the HT? Why are there cabinet ministers who overtly and tacitly support the anti-democracy, theocratic, ideology that aims to overthrow the State to replace it with their version of a Caliphate? Does that not sound like hypocrisy?

Further more, one might want to examine whether HT's version of establishing a Caliphate is truly as Islamic as they claim. Though HT activists are taught their strategy is to follow the example of the Prophet, many ex-activists, such as the British writer Ed Husain have pointed out that HT has a lot to thank Lenin and Trotsky for. While Muhammad taught a religion, HT seeks political power using Leninist methods. The HT goes on and adopts a Trotskyist, internationalist vision.

Maybe because Lenin's thoughts have for decades been banned here, no one has actually pointed out the Leninism in HT's methods, because no one is sure what Leninism is. The HT seeks, just like the Bolsheviks, to firstly develop a core of firm believers that communicate clear and simple slogans to the masses, and when the time ripens, one day seize power and establish their Caliphate (Soviet).

Then from that Caliphate, like falling dominoes, their ideology will spread throughout Islamdom. Eventually the Caliphate will convert the whole world through jihad and da'wah. Just because they wrap their Leninist ideas in Islamic jargon it doesn't mean that Leninism isn't there. The rank and file of the HT is unlikely to be aware of their debt to Lenin but a debt there certainly is.

Both the Ahmadiyah and HT seek to convert people to believing their version of Islam, but while the first is concerned with the spiritual aspect of life, the second is concerned with the political aspect. One would be happy to see the Republic of Indonesia prosper and flourish, while the other would succeed only once it had overthrown the Republic and established a Caliphate in its place. Which is more dangerous for the nation?



>>Lihat halaman asli>>

Wednesday, June 18, 2008

Pendapat Para Tokoh Indonesia Tentang "Peristiwa Monas"


SBY, Presiden:

* “Pemerintah akan menindak tegas ormas yang bersikap anarkistis.”

Sonny T Danaparamita, Sekjen Presidium GMNI:

* “Ormas-ormas yang dimaksud itu adalah ormas-ormas berlabel agama seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Forum Betawi Rempug (FBR).”

Widodo AS, Menko Polhukam:

* “Pemerintah tidak akan membiarkan atau memberi toleransi sedikit pun terhadap tindakan anarkis yang dilakukan individu maupun kelompok. Proses hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu”
* “Tindakan-tindakan anarkis, tindakan-tindakan kekerasan, termasuk di dalam kualifikasi tindak pidana yang harus diproses secara hukum dalam sistem peradilan pidana,”


Ramli Hubarat, Staf Ahli MenkumHam:
* “Sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Massa, pemerintah dapat membekukan pengurus organisasi termasuk organisasinya, jika organisasi tersebut melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu ketertiban umum secara terus-menerus.”

Jusuf Kalla, Wapres:
* “Ormas apa saja selama tindakannya merusak akan ditindak tegas. “
* “Semua cara radikal yang merusak, itu kita larang karena melanggar hukum. Jadi, ini persoalannya, melanggar hukum. Mau berpikiran yang keras silakan asal, jangan melanggar hukum”
* “Orang yang bakar-bakar, lempar-lempar, itu semua terlarang berdasarkan hukum karena kita negara hukum”

Agung Laksono, Ketua DPR:
* “Sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) sudah ‘kebablasan’.”
* “Bangsa ini tidak menghendaki adanya ormas ekstrim.”

Maftuh Basuni, Menteri Agama:
* “Kalau ormas Islam kemudian anarkis itu perlu dipertanyakan. Itu jelas orang yang tidak mengerti Islam.”
* “Ormas mana saja yang berbuat tidak benar harus ditindak.”

Gus Dur, Mantan Presiden:
* “Tindakan anarkis merugikan semua pihak, karena itu akan lebih baik jika dibubarkan.”
* “Ormas tidak memiliki kewenangan menertibkan tempat-tempat yang menurut mereka melanggar norma agama.”
* “Ternyata ini dibiarkan saja oleh aparat. Heran saya.”

Tarwanto, Kapuspen Depdagri:
* “Ormas maupun LSM yang mengancam integritas bangsa dan menumbuhkan permusuhan berbau SARA, dapat dibubarkan oleh kepala daerah.”

KH Maman Imanullah, pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka:
* “FPI, MMI maupun HTI tidak memperlihatkan wajah islam yang sebenarnya. Wajah Islam adalah wajah yang damai. Bukan wajah yang mereka perlihatkan sekarang ini, seperti wajah wuka-wuka.”

Habibie, Mantan Presiden:
* “Kehadiran Islam di dunia adalah untuk memberikan kesejukan. Sayangnya, banyak umat Islam yang terpancing dalam aksi kekerasan.”

Arbi Sanit, Pengamat Politik UI:
* “Apabila negara ingin berfungsi sesuai koridor hukum, maka ormas Islam garis keras yang ada di Indonesia harus segera dibubarkan.”
* “SBY harus secepatnya mengeluarkan Keppres untuk membubarkan mereka”

Sumber-sumber: Rakyat Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Detik.com, Harian SIB, Sriwijaya Pos, dll

Tuesday, June 17, 2008

Sifat Al-Razzaq Allah Swt (II)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
13 Juni 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.

================================

Huzur melanjutkan pembahasan topik Ar-Rizq (Maha Penyedia/Pemelihara) dan sifat Al Razzaq (Maha Penyedia) Allah Taala pada Khutbah Jumah beliau hari ini. Huzur bersabda, sebagaimana beliau telah kemukakan pada Jumah lalu, bahwa Allah Swt menyatakan, hanya Dia-lah yang Maha Pemberi bagi semua makhluk; termasuk manusia; namun sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, Allah menyediakan bagi mereka rizqi rohani maupun rizqi jasmani. Dan bila kaum mukminin yaqin sepenuhnya kepada-Nya, maka Allah pun akan menyediakan dari berbagai sumber penghasilan, yang bagi orang kafirin tidak mempunyai konsep tentang hal itu.

Paska SKB Ahmadiyah, Kekerasan tidak kunjung reda..

SKB yang diterbitkan pemerintah menyusul maraknya desakan kelompok-kelompok anti ahmadiyah, diklaim sebagai upaya solusi damai atas konflik horizontal yang tengah berkembang. Di satu sisi tuntutan konstitusi atas kebebasan berkumpul dan berserikat begitu tegasnya dan mutlak tanpa dapat ditawar. Di pihak lain massa yang mengatas-namakan mayoritas umat islam, dengan mengusung isu agama diperkuat dengan UU PNPS 1965 tentang penodaan agama, tidak kurang desakannya kepada pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah. Bukan hanya mendesak, bahkan juga sampai mengancam.



Isyu kekerasan dikesampingkan begitu saja. Ancaman hukum pidana dianggap sepi. Bahkan mereka balik menuding pihak lain, ahmadiyah, juga telah melakukan kekerasan. Fakta berbicara sebaliknya, ahmadiyah adalah justru korban kekerasan, bukan pelaku. Hingga hari ini pun warga Ahmadiyah masih kerap mengalami intimidasi dan ancaman dari pihak-pihak yang benci. Salah satu kasus adalah seperti yang menimpa warga ahmadiyah di Parakansalak-Sukabumi. Setelah mesjidnya dibakar, hingga kini warga ahmadiyah disana belum lagi mendapatkan kembali ketenangan hidupnya. Teror masih kerap diterima. Berikut ini saya kutip berita dari kompas online. Kasus yang lain, tentunya masih sangat banyak, bahkan terlalu banyak untuk dimuat di surat kabar..


Rabu, 11 Juni 2008 | 17:53 WIB

SUKABUMI, RABU - Bupati Sukabumi, Jawa Barat, Sukmawijaya, memerintahkan jajarannya dan masyarakat Desa Parakansalak untuk mencopot stiker 'Non Ahmadiyah'. Menurut Bupati, penempelan stiker tersebut akan memperkeruh suasana di Parakansalak. "Stiker itu harus secepatnya dilepas. Di tengah kondisi seperti ini, pengkotak-kotakan harus dihindari," kata Sukmawijaya, Rabu (11/6).

Stiker berbunyi 'Keluarga besar Muslim Ahlu Sunah Wal Jamaah, Non Ahmadiyah' tertempel di seluruh rumah penduduk Parakansalak yang bukan merupakan anggota Jamaah Ahmadiyah Indoensia (JAI) usai keluarnya surat keputusan bersama. "Stiker itu ternyata tidak jelas dari mana sumbernya. Kita takut, jangan-jangan orang lain yang memasang dengan mengatasnamakan warga, tetapi tujuannya untuk memperkeruh suasana," kata Sukmawijaya.

Warga Ahmadiyah dan bukan Ahmadiyah hidup membaur dalam satu kompleks di pemukiman Parakansalak. Selama ini, mereka hidup bersama tanpa ada masalah.

Agustinus Handoko
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Source: www.kompas.com

Wednesday, June 11, 2008

Keyakinan Ahmadiyah Tidak Pernah Menyimpang dari Keyakinan Ahlus-sunnah

Pada dasarnya Ahmadiyah tidak pernah menyimpang dari akidah mainstream. Selama ini yang menjadi pangkal keyakinan Ahmadiyah adalah datangnya nabi Isa as. kedua kali yamg sama-sama diyakini oleh mainstream ahlus-sunnah. Perbedaannya adalah hanya pada masalah pemahaman mengenai person dan waktu. Siapa dan kapan..

Berikut ini saya tuliskan beberapa kutipan pendapat yang dirangkum dari berbagai sumber tentang akidah kedatangan kembali nabi Isa as kedua kalinya. Semoga bermanfaat:

1. Pendapat NU yang termaktub dalam Mukatamr ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 :

“ Kita wajib meyakini Isa bin Maryam as. akan datang di akhir zaman nanti sebagai nabi/rasul yang melaksanakan Syariat nabi Muhammad saw. hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir (pembawa Syariat) sebab nabi Isa bin Maryam as. hanya akan melaksanakan Syariat Nabi Muhammad saw. (Ahkamul Fuqaha).
Kemudian ada disebutkan juga bahwa Mahzab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

Al-Qurtubi, Mufassir terkemuka, juga mempunyai pendapat yang mirip dengan NU memberikan rumusan: “bahwa yang benar (al-shahih) adalah, sebenarnya Allah mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu dan bukan dalam keadaan tidur. Kelak, Ia akan benar-benar diturunkan ke bumi untuk membasmi kemungkaran.”

2. Pendapat Ayahanda Hamka Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)
"....yaitu bahwasanya Isa al Masih yang akan datang itu tidaklah diketahui oleh seorang juga, apakah hakikatnya....Dan siapakah dia? Dan kapankah? Dimanakah? Maka iman dengan dia itu ialah wajib, sedang mengetahui hakikatnya itu wajib pula diserahkan kepada Allah Taala saja...."dst.... (Al-Qaulush Shahih, halaman 134).

3. Pendapat Prof. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)1956, "Peladjaran Agama Islam," Penerbit "Bulan-Bintang," Djakarta, Tjetakan Pertama.
“Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa.
Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa
"Mahdi itu tidak lain adalah Isa." Mereka perbincangkan
apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit,
ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan”

“ Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati,
dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit
dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari
kata "wafat" itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa
mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir
bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau
diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang
mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.”

“Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat
yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah
wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada
"mutawaffika" tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat
Allah, (wa rafi'uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang
suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.”

“Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum
hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama "Al-Uhad."
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut
pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita
jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok
kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita
keluar dari Agama Islam.”

“Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan
Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal
yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah
didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang
telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak
empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya
empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat
burung itu, dengan izin Allah!”

“Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa
kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah
permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain.
Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa
Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.”

4. Pendapat Ulama Kontemporer

Atau bisa saja Nabi Isa as. diturunkan ke bumi, tapi turun dengan pengertian “semangat”, “ruh”, bukan dengan pengertian hakikat; raga dan bentuknya. Maka, era Isa adalah masa kebangkitan semangat menghidupkan kembali syariat Islam yang telah lama tercabik-cabik. Dan Dajjal bukanlah makhluk raksasa 'setengah dewa' yang sebelah matanya buta, dengan membawa surga dan neraka di genggamannya, yang menjadi musuh bebuyutan Nabi Isa, tetapi ia tak lebih dari simbol kemungkaran, ikon kejahatan yang dikalahkan oleh 'ruh Isa'. Pendekatan hermeneutika seperti ini dihembuskan oleh Imam al-Razi, Rasyid Ridla, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Abduh, Alusi, al- Maraghi, serta beberapa pemikir kontemporer lainnya.



Wednesday, June 4, 2008

Korban Monas: K.H. Maman Gelar Istigasah

Inilah Kyai contoh yang benar-benar menerapkan prilaku nabi dalam kehidupannya. Bagaimana dengan FPI?? Coba pikir...

===========================================
K.H. Maman Gelar Istigasah
http://www2. pikiran-rakyat. co.id/prprint. php?mib=beritade tail&id=16256

BANDUNG, (PR).-
Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan, Jatiwangi, K.H. Maman Imanulhaq, salah seorang korban aksi pemukulan Front Pembela Islam (FPI) di Monas Jakarta, Selasa (3/6) pagi dijemput oleh sejumlah santri dan simpatisannya. Malam harinya, bersama Pimpinan Pondok Pesantren Buntet, K.H. Abas dan 10.000 umat Islam bertempat di Desa Buyut, Gunungjati, Cirebon dilakukan doa istigasah untuk keselamatan umat Islam.

Dalam kondisi masih sulit berbicara, Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan Jatiwangi, K.H. Maman Imanulhaq, memaksakan diri untuk pulang ke Cirebon. "Selain untuk menemui sesepuh saya di Pontren Buntet, juga untuk meredam amarah masyarakat Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) yang berencana berangkat ke Jakarta untuk menuntut balas," ujar K.H. Maman, saat memberikan keterangan kepada sejumlah media cetak dan elektronik, bertempat di rumah makan Bale Gazebo, Bandung, Selasa (3/6) kemarin.

Dikatakan K.H. Maman, peristiwa yang menimpa dirinya dan sejumlah aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AK-KBB) yang terdiri dari 72 elemen, oleh FPI, merupakan tindakan terhadap pencorengan agama. Aksi yang dilakukan sudah bukan lagi berdasarkan akidah agama Islam, tetapi cenderung sebagai bentuk premanisme dan anarkisme.

Karenanya, baik pihaknya maupun korban aksi FPI menuntut agar tindakan yang dilakukan oleh FPI diproses sesuai hukum yang berlaku. "Kami tidak akan menuntut balas, hanya kami berharap masalah ini harus tuntas dan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku," ujar K.H. Maman.

Akibat pemukulan yang dilakukan sejumlah anggota FPI, K.H. Maman mengalami sejumlah luka di tubuhnya. Selain luka parah di bagian kepalanya dan leher, dirinya juga mengalami sejumlah luka pada bagian wajah (hidung dan pelipis), serta di bagian rusuk.

Pada hari nahas tersebut dirinya berhasil diselamatkan setelah ditinggal pergi oleh para pelakunya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sedikit siuman dan dibantu beberapa warga dirinya naik taksi dan meminta diantar ke RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur.

Karena khawatir terhadap kondisi psikologis dirinya dan di luar rumah sakit berkeliaran anggota FPI yang berniat mendatangi dirinya untuk berdialog, beberapa orang santri dan anggota ormas Sundawani yang bersimpati menjemputnya dari rumah sakit. "Pihak rumah sakit memberikan izin pulang selain agar saya bisa istirahat di rumah juga untuk menghindari kedatangan perwakilan FPI ke rumah sakit yang dikhawatirkan akan menimbulkan keributan kembali," ujar K.H. Maman.

Upaya untuk keluar rumah sakit menurut K.H. Maman, bukan merupakan perkara yang mudah meski sudah mendapatkan izin dari pihak rumah sakit. Setelah ada upaya dari sejumlah santrinya dan anggota ormas Sundawani, melalui lantai dasar K.H. Maman dapat dikeluarkan dari kompleks rumah sakit yang juga mendapat pengamanan petugas kepolisian maupun FPI.

"Alhamdulillah, saya dibawa pulang oleh rekan-rekan pagi tadi, melalui jalan belakang gedung dapat keluar dari rumah sakit. Saat ini saya akan langsung ke Cirebon untuk menenangkan santri dan massa simpatisan saya yang hendak bertolak ke Jakarta," ujarnya.

Dikatakan K.H. Maman, berdasarkan informasi santrinya yang turut menjemput, ada 1.000 santri dan massa dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan akan datang ke Jakarta. Selain untuk melakukan aksi menuntut para pelaku diproses hukum, mereka juga menuntut agar FPI dibubarkan.

Menurut K.H. Maman, pihaknya secepat mungkin akan bertolak ke Pesantren Al Mizan pimpinannya dan sejumlah ormas Islam di Cirebon untuk menenangkan dan memperlihatkan bahwa dirinya dalam kondisi sudah sehat. "Karena, selain mau datang ke Jakarta, sejumlah simpatisan akan melakukan pembalasan terhadap FPI di Cirebon," ujar K.H. Maman.

Malam harinya, bertempat di Desa Buyut, Gunungjati, Cirebon, bersama K.H. Abas pimpinan Pontren Buntet dan sekitar 10.000 santri serta masyarakat setempat, K.H. Maman melakukan doa istigasah. "Doa kami lakukan bukan hanya untuk kesehatan kami yang menjadi korban, tetapi untuk bangsa ini yang tengah sakit dan dirundung masalah," ujar K.H. Maman, saat dihubungi via telefon, semalam.

Setelah doa, K.H. Maman meminta agar umat Islam Ciayumajakuning, untuk tidak terpancing dan melakukan aksi yang dapat memperkeruh masalah dan menambah masalah baru.

K.H. Maman menegaskan bahwa sebelum insiden, AK-KBB yang terdiri dari 72 elemen, murni akan melakukan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Monas, karena sudah mendapat izin dari aparat kepolisian. (A-87/A-156) ***

Wednesday, May 28, 2008

PRESS RELEASE: MUSLIM SECT CELEBRATES 100 YEARS OF SPIRITUAL LEADERSHIP

In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful
International Press and Media Desk

AHMADIYYA MUSLIM COMMUNITY

22 Deer Park, London, SW19 3TL
Tel / Fax (44) 020 8544 7613 Mobile (44) 07795460318
Email: press@ahmadiyya.org.uk

Web: Alislam.org

27 May 2008

PRESS RELEASE

MUSLIM SECT CELEBRATES 100 YEARS OF SPIRITUAL LEADERSHIP

Up to 15,000 Ahmadi Muslims to gather at Excel Centre in London

Members of the Ahmadiyya Muslim Community, an organisation with members in 189 countries, are today celebrating the 100th anniversary of the system of spiritual leadership known as ‘Khilafat’. This system has existed since the passing of the Founder of the Community in 1908.

Under this system Ahmadi Muslims throughout the world are united under the leadership and guidance of the ‘Khalifa’ who is the Head of the Community worldwide. The total unity of the Ahmadiyya Community makes it unique amongst all Muslim groups.

The current Khalifa is Hadhrat Mirza Masroor Ahmad who was elected to lead the Community in April 2003. Although based in London he is accessible to all Ahmadis worldwide and in this respect he is marking this Centenary Year with a number of foreign tours.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad is the fifth Khalifa and he continues to deliver the same message as his four predecessors. That is to urge Ahmadis worldwide to become closer to God Almighty, through their prayers and good acts and to serve mankind irrespective of creed, caste or colour.

The Centenary of Khilafat is being marked by a number of events both in the UK and elsewhere. Today up to 15,000 Ahmadi Muslims from around the UK are expected at the Excel Centre in East London where Hadhrat Mirza Masroor Ahmad will address members of the Community worldwide via the Community’s international satellite channel ‘MTA International’.

END OF RELEASE

Further information:

Abid Khan (UK) 07795460318






Friday, May 16, 2008

Opini: Ideologi-minder

Tulisan yang cukup menarik dari blogger tetangga. Cukup penting untuk menjadi bahan renungan. Berikut ini cuplikannya:

"Ahmadiyah bukan kumpulan sekte yang menyeru untuk bunuh diri massal. Mereka tidak menganjurkan perampokan atau pemerkosaan. Mereka tak makan uang negara. Mereka juga tak pernah terlibat dalam upaya-upaya makar terhadap negara. Pun tak pernah terdengar keterlibatan kelompok ini dalam peledakkan bom yang menewaskan ratusan nyawa tak berdosa. Masyarakat Ahmadiyah baik, kehidupan sosialnya pun baik. Bahkan saya yakin, Mirza Ghulam Ahmad itu orang baik.

Mereka ini bukan sekumpulan orang-orang yang terbelakang. Mereka manusia-manusia beradab. Justru paham Wahabisme yang kian merebak di negeri inilah yang jauh lebih primitif. Tidak ada peradaban yang bisa dibanggakan, anti seni, nyaris tak berbudaya. Dakwah yang ditawarkan pun berparas seram. Contoh terdekat, simak saja omongan barbar Sabri Lubis, M. Khathath, Abu Bakar Baasyir, beserta gerombolannya itu, ketika seperti orang kalap berorasi ingin menghabisi para pengikut Ahmadiyah. Dengan modal beberapa kata kunci: bunuh, perang, halal darahnya, potong lehernya.

Ahmadiyah sama sekali bukan gerakan politik. Beberapa pakar malah menganggapnya sebagai gerakan tasawuf dengan cirinya yang khas. Dari segi teknologi, mereka mempunyai beberapa stasiun televisi dan radio di Eropa yang menyiarkan 24 jam sehari pelajaran tentang Islam, akhlak, dan ekonomi. Bung Karno menyebutkan bahwa Ahmadiyah merupakan salah satu faktor penting dalam pembaharuan Islam di India, dan satu faktor penting pula dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, dan di kalangan kaum intelektual seluruh dunia umumnya. Untuk menyebut satu nama, DR. Abdussalam, pemenang Nobel Fisika, adalah orang Ahmadiyah.

Walhasil, mereka “hanya tersesat” dalam masalah penafsiran agama. Itupun menurut ukuran keyakinan kita yang “mainstream”."


selengkapnya silahkan baca disini.

Thursday, May 15, 2008

Menilai Nabi Yang Benar dan Yang Palsu

Tulisan yang bagus dari anggota milis ahmadi-ina menyambangi perdebatan panas Ahmadiyah di milis surau...

============ ====


Menilai Nabi Yang Benar Dan Yang Palsu


Assalamu 'alaikum,

Bagaimana kita tahu bahwa seseorang adalah nabi sungguhan atau gadungan? Saya akan mencoba membahas masalah yang rumit ini secara ringkas dalam tulisan pendek ini.

Di kalangan sarjana Sunni, dikenal tiga syarat utama untuk mengetes kebenaran kleim kenabian:

  1. Seseorang yang mengaku sebagai nabi haruslah mempunyuai kualitas etis dan intelektual yang istimewa, misalnya ia memiliki kemampuan artikulasi berbahasa yang sangat baik, kesempurnaan akhlak, keluhuan budi, dsb.
  2. Dia harus menunjukkan suatu mukjizat.
  3. Mukjizat itu harus dibarengi dengan pendakuan sebagai seorang nabi. Maksudnya, jika seseorang memperlihatkan tindakan mukjizat tetapi tidak mengakui sebagai nabi, maka ia bukan nabi.

Tiga kriteria ini bisa dibaca dalam banyak karya sarjana Sunni. Sebagai contoh, anda bisa merujuk karya Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad al-Mawardi, A'lam al-Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian). Sebagaimana kita tahu, al-Mawardi adalah salah satu ulama besar di lingkungan mazhab Syafii yang dikenal antara lain karena bukunya tentang manual penyelenggaraan kekuasaan, yaitu al-Ahkam al-Sulthaniyyah


Wednesday, May 14, 2008

SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah

Oleh A Adib*
==========================================
Selaku kiai dan tokoh agama, Gus Dur juga meneladani sikap Rasulullah yang tidak memerangi kemunculan nabi-nabi palsu pada masa itu, kecuali Musailamah yang diperangi pada masa Khalifah Abu Bakar karena akan memberontak. Teladan dalam bermasyarakat dan bernegara itulah yang dijadikan pedoman untuk meneladani Rasulullah.
==========================================

PADA tahun ke-10 Hijriyah, Musailamah Alkazddzab mendeklarasikan dirinya sebagai nabi. Dalam referensi buku kontemporer, Sirah Nabawiyah dan Tarikh Khulafaur-Rasyidin, dikisahkan dia tidak sungkan-sungkan mengirim surat kepada Rasulullah SAW.

Isi surat tersebut: ”Dari Musailamah Rasullullah untuk Muhammad Rasulullah. Salam sejahtera. Sesungguhnya saya disekutukan dalam kamu. Kami memiliki sebagian tanah, dan orang Quraisy sebagian tanah lainnya, tetapi Quraisy adalah kaum yang melewati batas”.


Nabi Muhammad membalas, yang artinya: ”Dengan nama Allah yang Maha Rahman dan Rahim, dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah al-Khazdzdab (pembohong). Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk Allah. Bahwa kami ini adalah milik Allah, diwariskan siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya yang bertakwa”.

Masih dari Sirah Nabawiyah, ternyata Muasailamah yang mengaku nabi adalah Tulaikhah bin Khuwailid. Bahkan dia membuat tandingan ayat Alquran dengan menulis Surat Gajah (al-Fil) untuk menyaingi surat yang sama dalam Alquran. Kalimat itu artinya: ”Gajah, apakah gajah itu, hewan yang belalainya panjang”.

Kemudian ada al-Aswad al-Ansi, yang juga mengaku nabi, dengan gelar ”orang yang berkerudung (Zul Khimr) dari Yaman”. Ia ditumpas oleh Qaisy bin Maksyuh Al-Muryadi, sehari sebelum Nabi Muhammad wafat. Upaya menumpas orang yang mengaku nabi baru dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, dan peperangan tak terelakkan karena pasukan Musailamah kuat. Pasukan yang dikirim sahabat Nabi itu nyaris kalah, sebelum komando perang diambilalih Khalid bin Walid.

Menurut pakar perbandingan agama UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, Prof Dr Kautsar Azhari, penumpasan Musailamah oleh Abu Bakar sebenarnya bukan bermotif mengaku nabi, melainkan karena dia akan melakukan pemberontakan. Sebab sebelum mendeklarasikan menjadi nabi, dia sudah menyiapkan 40 ribu pasukan untuk memberontak.

Di era modern, di India, tepatnya Qodyan muncul nabi palsu. Pada 1880-an, Ali Murthadho yang didukung Inggris mengaku dirinya sebagai nabi dan telah menerima wahyu yang diberi nama at-Tadzkirah. Dari situlah muncul aliran Ahmadiyah, yang akhir-akhir ini menjadi sorotan.

Pakem
Pemerintah, dalam hal ini Jaksa Agung, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri akan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang larangan Ahmadiyah sesuai dengan hasil rekomendasi Badan Kordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) mengenai ajaran Ahmadiyah. SKB ini bermuara pada dua hal: dilarang atau tidak dilarang!

Pertanyaan tiba-tiba muncul ketika terjadi tarik-ulur SKB antara perlu atau tidak. Bakor Pakem memberi rekomendasi setelah keluar fatwa Majelis Ulama Indonesiaa (MUI) Pusat, yang sejak awal diperdebatkan sejumlah kalangan.

Mantan ketua umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan lantang menentang rencana keluarnya SKB soal pelarangan Ahmadiyah. Bahkan presiden keempat RI itu akan mendukung siapapun yang menggugat pemerintah karena dinilai sudah mengintervensi soal kepercayaan yang dijamin konstitusi.

Ketua Umum Dewan Syuro PKB itu juga menyatakan siap menjadi saksi ahli jika diminta pengadilan untuk menolak SKB tiga menteri itu. Sebagai tokoh yang sering menyuarakan kebebasan dan hak asasi manusia dan dikenal melindungi kelompok minoritas, pendapatnya sama dengan kelompok-kelompok yang memperjuangkan kebebasan.

Selaku kiai dan tokoh agama, Gus Dur juga meneladani sikap Rasulullah yang tidak memerangi kemunculan nabi-nabi palsu pada masa itu, kecuali Musailamah yang diperangi pada masa Khalifah Abu Bakar karena akan memberontak. Teladan dalam bermasyarakat dan bernegara itulah yang dijadikan pedoman untuk meneladani Rasulullah.

Fatwa MUI
MUI mempunyai hak untuk berfatwa. Dalam negara demokrasi, tidak ada orang atau kelompok orang yang bisa melarang orang maupun kelompok lain untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat. Konstitusi secara tegas memberi jaminan.

Oleh karena itu, hal yang mengkhawatirkan bukanlah terletak pada fatwa MUI itu sendiri, tapi efek yang mungkin ditimbulkan. Meski mayoritas masyarakat sering mengabaikan fatwa-fatwa tersebut, namun juga tidak bisa menutup mata bahwa ada sekelompok yang terkadang membenarkan tindakan anarkis dan kekerasan berdasarkan fatwa MUI.

Kasus penyerangan, pembubaran, dan pembakaran masjid Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) beberapa waktu lalu merupakan bukti kasat mata mengenai hal ini. Kelompok yang melakukan kekerasan terhadap JAI menjadikan fatwa MUI tahun 1980 yang menyebutkan Ahmadiyah Qadian sebagai aliran sesat. Fatwa ini seperti bensin yang disiramkan ke api. Ia menjadi energi tambahan bagi sekelompok orang yang ingin menggusur Ahmadiyah dari bumi Indonesia. Sehingga belakangan ini markas Ahmadiyah di berbagai wilayah diserbu massa, masjidnya dirusak, pengikutnya diusir, dan seterusnya.

Kita tidak bisa membayangkan, jika ada orang yang mengikuti fatwa MUI yang menganggap satu kelompok sesat, dan orang-orang yang sesat boleh disatroni. Kemudian anggotanya disatroni juga dengan dalih melaksanakan perintah agama atas dasar fatwa MUI.

Jika hal ini terjadi, secara pelan-pelan Indonesia akan menjadi negara teokrasi, karena kebijakannya tidak didasarkan pada konstitusi, tapi lebih kepada fatwa!

Terlepas dari itu semua, masyarakat mestinya makin kritis dengan fatwa-fatwa keagamaan seperti ini. Fatwa keagamaan bukanlah agama itu sendiri, meskipun dia dibangun atas nama agama. Konstitusi negara menjamin seluruh warganya untuk memeluk keyakinan dan beribadah menurut keyakinannya itu.

Oleh karena itu, semua warga negara termasuk MUI tunduk pada konstitusi itu. Sementara pemerintah harus menjalankan negara ini berdasar konstitusi, bukan berdasar fatwa MUI.

Fatwa MUI bahwa Ahmadiyah sesat bisa saja diterima sebagai fatwa, tapi harus dengan menjauhkan prasangka buruk tentang ada atau tidak unsur subjektifitas dalam mengeluarkan fatwa tersebut. Namun bukan berarti penganutnya tak bisa berdampingan dalam bermasyarakat dan bernegara. Tidak ada kekerasan, bakar-membakar, dan tetap berpegang pada prinsip ”bagiku amal perbuatanku, dan bagimu amal perbiuatanmu”.

Fatwa MUI bisa menenteramkan, karena itulah cara terbaik untuk melindungi kemurnian Islam. Tetapi tidak perlu dianggap membahayakan, sehingga harus mengeluarkan seluruh energi untuk melawan, sehingga banyak kalangan begitu bernafsu mendesak untuk mencabut fatwa dan mendelegitimasi lembaga kumpulan ulama itu. (32)

*A Adib, wartawan Suara Merdeka di Biro Jakarta

(Suara Merdeka, Jum’at 09 Mei 2008)


Gus Dur Siap Jadi Saksi Ahli Ahmadiyah

Jakarta, gusdur.net
Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan kesediaannya untuk menjadi saksi ahli bagi Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), terutama setelah keluarnya rekomendasi Bakor Pakem untuk membubarkan JAI, Rabu (16/04/2008).

Kongkow

“Saya siap jadi pembela ahli JAI di pengadilan,” kata Gus Dur saat menjadi narasumber pada acara Kongkow Bareng Gus Dur bertema Sistem Jaminan Sosial Nasional, di Green Radio, Jl. Utan Kayu No. 68 H Jakarta, Sabtu (3/05/2008) pagi. Pengasuh Ponpes Soko Tunggal Semarang Jawa Tengah KH. Nuril Afirin juga tampak mendampingi Gus Dur.

Gelombang penolakan atas rekomendasi Bakor Pakem itu terus bermunculan. Dua hari silam umpamanya, sejumlah ormas berdemontrasi di depan Istana Merdeka untuk membela ibu-ibu dan anak-anak panganut JAI, yang kini hidupnya dihantui ketakutan jika sewaktu-waktu kekerasan menimpa mereka.

“Itu bukti hidup di Indonesia nggak aman,” kata Gus Dur.

Namun demikian, Gus Dur meyakini munculnya rekomendasi pembubaran Ahmadiyah dan fatwa sesat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), itu bukan untuk memecah-belah bangsa ini.

“Saya tidak melihat soal Ahmadiyah ini untuk memecah belah bangsa,” tegas Gus Dur. Menurutnya, itu karena pembuat rekomendasi dan fatwa tidak memahami pluralitas bangsa.

Sedang Gus Nuril – sapaan akrab KH. Nuril Arifin – menyatakan, keyakinan, apapun bentuknya, tidak bisa dihakimi oleh siapapun. Jika keyakinan dihakimi dan pemerintah diam saja, itu berarti pemerintah melanggar UUD 1945 yang mengamanatkan untuk melindungi seluruh warganya tanpa pandang bulu.

“Kalau pemerintah tidak melindungi mereka, apa ini tidak ngisin-ngisinke waris? Nanti Ahmadiyah akan minta perlindungan pada negara lain. Apa di sini sudah tidak aman lagi?,” tanya Gus Nuril menyindir.

Kongkow

Dikatakannya juga, jika alasan pelarangan itu karena ajaran Ahmadiyah dinilai bertentangan dengan Islam, maka Budha, Kristen, Hindu, dan sebagainya, juga bertentangan dengan Islam. “Kalau mau konsekuen, ya harusnya dilarang semua to?,” tegas Gus Nuril. “Ini sebetulnya persoalan politik yang masuk wilayah agama. Pemerintah ini kurang gawean. Akhirat ditangani, petani yang kelaparan nggak diurusin,” imbuhnya mengritik.[nhm]





Friday, May 9, 2008

DPR Tuding MUI Main Belakang

Rabu, 7 Mei 2008 - 18:41 wib

Anggi Kusumadewi - Okezone

JAKARTA - DPR menuding MUI berada di balik ormas-ormas Islam yang menuntut digantinya dasar negara Pancasila menjadi syariah Islam.

"MUI itu seperti organisasi masyarakat yang menggunakan duit APBN, tapi membusukkan dari dalam. MUI bahkan menggalakkan kampanye dengan ormas Islam untuk mengganti Pancasila dengan syariah Islam," kata anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Eva Sundari usai mendampingi Ketua DPR Agung Laksono, menerima sejumlah kiai yang menyampaikan sikap terhadap Ahmadiyah di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Rabu (7/5/2008).

Hal ini menurut Eva sangat keterlaluan. MUI juga mengampanyekan khilafah. Jika MUI berada dalam negara RI, maka MUI harus menggunakan UU RI, bukan produk hukum luar. Dengan cara seperti itu, sudah selayaknya MUI harus segera diluruskan.

"Saya risau dengan MUI. Karena MUI sama sekali tidak menggunakan perundang-undangan dalam hidup di negara ini. Konstitusi dinegasikan," tudingnya.(hri)

Thursday, May 8, 2008

Mohon Maaf, Ahmadiyah

Masykurudin Hafidz
Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami memasukkan keyakinan dan keberadaan Anda sebagai persoalan besar yang mengancam negeri ini. Daripada kemiskinan, kelaparan, kenaikan harga bahan pokok, serta biaya pendidikan yang makin mahal, kami lebih suka memilih Anda sebagai sasaran pekerjaan. Keseriusan kami semata-mata karena ini menyangkut keyakinan; sesuatu yang sangat prinsipil bagi setiap umat manusia.

Bertahun-tahun kami dikondisikan untuk selalu curiga terhadap lain keyakinan. Ibarat musuh dalam selimut, ia lebih berbahaya karena bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Kami tidak terbiasa untuk terbuka dan mempelajari dengan serius sistem keyakinan lain tanpa harus takut terpengaruh karenanya. Sebagai mayoritas, justru yang kami lakukan adalah membuat Anda merasa tidak aman, tidak nyaman dan tidak bebas menjalankan ibadah serta kegiatan sehari-hari.

Memangnya kenapa kalau kebebasan Anda untuk beribadah kami ambil alih? Kami ini sangat sensitif terhadap agama di luar agama resmi sehingga selalu berusaha untuk melarang dan menutup tempat ibadah Anda. Kami merasa berhak untuk menentukan status keyakinan Anda. Apa yang kami hakimi sebagai sesat, itu berarti kami boleh menghilangkan hak sebagai warga dalam mendapatkan perlindungan di negeri ini.

Kami menutup mata terhadap sumbangan Anda kepada kemanusiaan (humanity first). Jaringan yang sangat luas tersebar di belahan bumi membuat Anda mampu menyalurkan bantuan terhadap kemiskinan, pendidikan, dan korban bencana. Di Indonesia, jumlah anggota organisasi Anda yang hanya lima ratus ribu sanggup mengumpulkan puluhan miliar setiap tahun. Anda juga punya televisi yang berpusat di Inggris sehingga dunia dapat melihat bahwa Indonesia adalah negeri yang damai, terbuka dan kondusif untuk investasi.


Tetapi inilah kami. Kesepakatan kita bahwa di negara ini tidak ada yang boleh didiskriminasi tiba-tiba kami ingkari. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan tidak lagi kami jadikan sabuk pengaman bagi integrasi bangsa. Negara sebagai penjamin atas hak-hak bagi setiap warga, termasuk Anda, lalai dan sengaja membiarkan saat Anda menjadi sasaran kesewenang-wenangan .

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak bisa menerima perbedaan. Kami tidak menganut pluralisme karena paham itu datang dari luar. Kami punya keyakinan sendiri yang sesuai dengan ajaran kami. Kami bisa melakukan larangan dan melakukan tindakan kekerasan jika tidak sesuai dengan keyakinan kami. Tuhan pasti berada di pihak kami karena kami yang paling benar. Kami adalah khalifah Tuhan yang diperintah untuk meluruskan keyakinan Anda.

Tidak bisa kami menghentikan perhatian terhadap masalah perbedaan keyakinan karena hal itu menjadi faktor yang membuat bangsa ini dalam bahaya. Kami lupa bahwa negeri ini adalah salah satu negeri paling plural di dunia sehingga kesatuan akan tumbuh jika masing-masing keyakinan dihormati. Persatuan Indonesia yang menuntut bahwa setiap orang berhak beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya, entah itu sesuai atau tidak dengan keyakinan yang lain, tiba-tiba kami singkirkan.

Itulah kenapa kami menyerang masjid-masjid tempat Anda beribadah. Padahal ajaran kami mengatakan, kami tidak boleh menyakiti orang lain tanpa alasan apa pun. Tidak boleh menyerang orang lain kecuali sekadar mempertahankan diri. Bahkan ketika orang lain menyerang kami tiba-tiba meminta perlindungan, wajib hukumnya bagi kami untuk melindunginya.

Perlindungan terhadap orang lain tanpa memandang keyakinan sering kali kami temui dalam ajaran kami. Kami masih ingat saat Rasulullah Muhammad menerima para tamu yang datang dari kelompok yang berkeyakinan lain di masjid Madinah. Saat rombongan tersebut meminta izin keluar untuk melakukan kebaktian justru Rasulullah mempersilakan untuk beribadah di Masjid Nabawi. Masjid justru digunakan untuk menerima dan membangun toleransi antaragama.

Bahkan dengan sangat tegas Rasulullah menjamin jiwa, harta, dan agama para penganut keyakinan di luar keyakinannya. Ia mendeklarasikan Piagam Madinah sebagai undang-undang bersama untuk hidup berdampingan secara damai dan toleran. Kami tahu, di dalam piagam tersebut dijelaskan bahwa masyarakat yang hidup di Madinah saat itu, yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen, disebut sebagai satu umat (ummatan wahidah). Isi piagam tersebut juga memuat untuk mengemban tanggung jawab yang sama dalam menghadapi tantangan dari luar. Tidak boleh ada diskriminasi, siapa pun yang berada di Madinah harus dilindungi serta tidak boleh ada yang terluka, apa pun keyakinannya, bagaimanapun latar belakangnya.

Di negeri tercinta ini, kami juga mengerti bahwa Undang-Undang Dasar 1945 kita menegaskan bahwa jaminan konstitusional tentang hak untuk hidup, untuk tidak disiksa, untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, untuk beragama, untuk tidak diperbudak, dan untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.

Demikian pula, kami tahu bahwa bangsa ini telah menjadi bagian dari masyarakat internasional yang meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia lewat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999. Bahkan bangsa ini juga sudah mengesahkan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik melalui UU Nomor 12 Tahun 2005. Kedua ketentuan tersebut menegaskan jaminan negara atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Namun, ajaran dan teladan Rasulullah begitu jauh dari kami. Tidak perlu ada kesesuaian ajaran dan undang-undang dengan tindakan sehari-hari. Juga kesepakatan kita dalam menjalankan roda kehidupan bangsa ini tiba-tiba seperti angin lalu. Tugas kami sebagai pengayom seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi kami abaikan. Kami diam saja, bahkan ikut menyuburkan praktek diskriminasi dan penafian atas hak-hak kebebasan berkeyakinan. Padahal, itu hak paling asasi yang dianugerahkan Tuhan. Semangat kebangsaan kami memang sedang defisit. Kami gampang terpengaruh oleh isu-isu murahan dan sentimental.

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak mampu melindungi Anda. Kami tidak bisa menjamin jika suatu saat rumah atau masjid Anda akan diserang. Sekali lagi, mohon maaf.

sumber : korantempo tanggal 22 April 2008

Sunday, April 27, 2008

PENYERANGAN TERHADAP AHMADIYAH



Tadi malam (27/04/08) telah terjadi penyerangan terhadap mesjid Ahmadiyyah, di Desa Parakansalak, Kecamatan Parakansalak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat. Massa terorganisir merusak dan menghancurkan mesjid tempat warga ahmadiyah biasa melakukan shalat berjamaah. Mesjid tersebut hanya berjarak kurang lebih 300 meter dari kantor polsek setempat. Ancaman serta rencana penyerangan tersebut sudah diketahui betul oleh aparat jauh-jauh hari sebelumnya. Namun, lagi-lagi aparat sepertinya KECOLONGAN.
Saya tidak pandai membuat review ataupun komentar.. tapi berikut ini ada tulisan bagus dari anggota milis ahmadina terkait peristiwa tersebut.
Kang Barik mohon izin ngambil idenya ya... thanks a lot.


=========================================================

Parakan Salak berada didaerah sebelah kanan jalan menuju Sukabumi setelah Cibadak dibawah kaki Gunung Salak.

SMS yang saya terima mengenai kejadian penyerangan terhadap warga masyarakat Ahmadiyah di desa Parakan Salak itu segera saja saya forward kebeberapa teman, diantaranya Eva Sundari anggota Komisi III DPRRI dari FPDIP.

Eva bereaksi cepat dengan memforward SMS saya itu keberbagai Pejabat Pemerintah terkait termasuk Intelpam Polri. Setelah itu beliau langsung menghubungi saya via HP.
Yang menanggapi cuma satu karena mungkin masih dipagi buta, yaitu Dirjen Kesbang Depdagri yang langsung kontak Polri, saya pikir bagus sekali tindakan pak Dirjen yang cepat dan tanggap ini.
Cuma SMS berikutnya terdengar sangat aneh dan lucu walaupun gak ada lucu3nya duhh...
Dengan nada marah dan prihatin mba Eva cepat menjawab SMS beliau yang kedua tersebut:

"jwbku: Hr ini laporan dr bondowoso HT bersama MUI setempat bikin seminar propaganda syariat islam dan kilafah. memaki Pancasila, ternyata dihadiahi SKB. bsk mrk lanjut kampanye di Situbondo (atas biaya APBN via MUI ~ Depag? ini tragedi) manusiawi harus perspektif korban, bukan perpetrators dong pak,,, bisa dianggap genocide, canada-UK sdh mengecam RI soal ahmadiyah, selain sidang HR council tahun lalu di Jenewa soal serangan thd gereja2. hati nuraninya siapa pak? Ditaruh mana konstitusi, UU 12/2005 ttg hak sipil- 39/99 ttg HAM?"

Teman2, beberapa parpol seperti PBB, PKS dan PPP malah melalui Ketuanya, Suryadharma Ali sudah mendesak SBY kemarin agar sesegera mungkin menerbitkan SKB pelarangan terhadap Ahmadiyah. Tadi malam sekitar pk.11.30 saya mendengar langsung dari yang berkompeten bahwa positif hari Senin ini SKB mengenai pelarangan terhadap Ahmadiyah resmi akan dikeluarkan oleh Pemerintah.

Dalam kesempatan "Ngopy bareng Jimly Asshiddiqie: Jumat kemarin dikantornya di Medan Merdeka Barat, beliau mengatakan jika hak2 konstitusi orang, lembaga atau organisasi hiang karena UU, maka UU tersebut dapat dimintakan Judicial Review ke MK. Seperti diketahui lewat pemberitaan surat kabar, SKB pelarangan ini bakal memuat pasal2 didalam UU No.1/PNPS/1965 dan dikatakan oleh Hendarman Supandji Jaksa Agung, jika tidak ingin ada SKB itu maka cabut terlebih dahulu UU No.1/PNPS1965.

Ini sangat serius sekali, karena UU No.1/PNPS/1965 dan pasal 156a secara tegas menyebutkan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara bagi para pelanggarnya. Apakah nanti kaum wanita Ahmadi tidak lagi mengenakan jilbab karena takut dihukum penjara 5 tahun dan dianggap menghina Islam dan melanggar UU No.1/PNPS/1965? Apakah nanti saya berhenti mengucapkan salam karena takut dianggap menghina Islam? Apakah nanti kami tidak boleh lagi sholat menghadap Ka'bah, membaca Al Quranul Karim, mengikuti sunah suci Kanjeng Nabi Muhammad SAW karena nanti semua itu akan dianggap menghina dan melecehkan Islam? Jika Ahmadiyah 'dijadikan' agama baru oleh Pemerintah atau MUI nanti, siapakah yang mengajari kaum wanita Ahmadiyah berpakaian? Kemana sholat kami akan hadapkan? Adakah Kitab lain yang lebih baik bagi kami dari Al Quran untuk kami jadikan pedoman hidup?

Sudah lama sekali saya berupaya dan berpegang teguh dengan ayat "Kuu anfusikum waahliikum naaar".
Sejak muda dulu terlebih setelah menikah saya usahakan agar senantiasa membaca Al Quranul Karim setiap pagi seperti yang dianjurkan. Dulu walaupun masih dalam balutan 'Bedong" anak lelaki saya yang masih bayi, dengan hati2 saya letakkan disebelah kanan saya diajak dan dibiasakan untuk menunaikan sholat berjamaah. Sering saya terbangun ditengah malam, kadang menangis karena mengingat sepanjang siang tadi begitu banyak melakukan kesalahan yang dapat menimbulkan amarahNya. Segera saja saya berwudhu, bersujud didalam tahajjud, menangis memohon ampunan dan bimbinganNya agar hari esok lebih baik dari hari kemarin. Sebisa mungkin saya berjuang dalam menafkahi keluarga dengan nafkah yang halal dan thayiban dengan harapan agar nanti anak2 saya tumbuh menjadi insan2 yang dicintai Allah dan dicintai sesama umatNya.

Sahabatku pak Djohan yang saya cintai, saya memang belum menjadi muslim yang baik seperti yang diharapkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Untuk itu saya akan tetap berjuang setiap harinya agar setiap helaan nafas saya mendatangkan ridhaNya seraya dengan segala kerendahan hati memohon bantuanNya untuk dapat mencontoh peri kehidupan sang kekasihNya, Muhammad Mustafa Rasulullah SAW. Jika ini dianggap oleh sebagian orang sebagai sesat, biarlah ya Allah, biarlah saya menjadi sesat yang sesesat-sesatnya.

Pak Djohan, apakah kita cukup hanya mengucapkan Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun?
Bapak memiliki pengetahuan dan jaringan yang jauh lebih luas dari saya, mohon bimbingannya selalu dan harap maklum serta sabar dengan 'kelakuan' saya selama ini. Dalam hati saya menangis membaca postingan bapak, memang saya penuh dengan segala kelemahan dan kekuarangan. Saya amat membutuhkan bantuan dari seluruh sahabat.
Kalau bapak berputus asa dalam membantu, bagaimana dengan kami dan saudara2 kami yang kini bertambah rasa takutnya dengan kejadian penyerangan malam tadi di desa Parakan Salak Sukabumi?

Ma'afkan saya pak Djohan.

Was, Mubarik