Saturday, April 23, 2011

Pintu Wahyu Tetap Terbuka Sesudah Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Pintu wahyu masih tetap terbuka setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam wafat, karena Allah ta‘ala itu bersifat mutakallim (Maha-berbicara), yang selalu berbicara kepada para hamba yang dikehendaki-Nya, namun wahyu itu tidak mengandung syari’at baru yang menghapus atau menyalahi syari’at Islam. Di antara contoh wahyu tersebut adalah sebagai berikut:

1. Wahyu kepada para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Ketika para sahabat Radhiyallahu 'anhum hendak memandikan janazah Sayyidina Al-Mushthafa Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mereka berkata: “Kami tidaktahu apakah kami menanggalkan pakaiannya, sebagaimana kami menanggalkan orang mati di antara kita atau kami memandikannya dengan pakaiannya? Maka tatkala mereka berselisih, Allah menjatuhkan kantuk atas mereka sehingga tak seorangpun dari mereka kecuali dagunya pada dadanya, kemudian mukallim (Malaikat Jibril pen.) berbicara kepada mereka dari sudut rumah itu sedang mereka tidak tahu siapa dia itu. Adapun bunyi wahyu itu sebagai berikut:

Monday, April 18, 2011

Al-Quran Bentuk Wahyu Paling Tinggi

Meskipun Al-Quran itu diturunkan sepotong-sepotong, namun seluruh Al-Quran adalah kesatuan yang bulat yang disampaikan dengan cara yang sama. Al-Quran itu adalah firman Allah ta‘ala yang diturunkan melalui Ruh Suci, yaitu Malaikat Jibril. Al-Quran menjelaskan kepada kita bahwa wahyu itu diturunkan kepada manusia dalam tiga macam (42:52). Cara pertama disebut Wahyu dalam arti isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang. Cara kedua, digambarkan sebagai ucapan dari belakang tirai. Yang dimaksud disini ialah penglihatan pada waktu tidur, atau dalam keadaan tak sadar; cara kedua ini dapat disebut mimpi (ru’yaa) atau kasyaf atau ilham. Cara yang ketiga ialah mengutus Rasul (malaikat yang mengemban risalah) kepada yang menerima wahyu dan risalah Allah ta‘ala ini disampaikan dengan kata-kata yang diucapkan; dan ini adalah bentuk wahyu yang paling tinggi. Malaikat yang mengemban risalah Tuhan dalam kata-kata yang diucapkan ialah Jibril atau Ruh Suci. Cara pemberian wahyu nomor tiga ini hanya terbatas bagi para Nabi, yaitu orang yang ditugasi mengemban risalah Tuhan untuk disampaikan kepada manusia; sedang bentuk wahyu pertama yang jika dibandingkan dengan wahyu yang khusus diberikan kepada para Nabi, tergolong wahyu yang rendah, ini dialami oleh para nabi dan orang yang bukan Nabi. Untuk menyampaikan risalah agung yang bertalian dengan kesejahteraan manusia, dipilihlah bentuk wahyu yang tinggi, yang dalam bentuk itu risalah Tuhan bukan hanya berbentuk angan-angan, melainkan benar-benar dibungkus dengan kata-kata. Daya kemampuan para Nabi untuk menerima firman Allah adalah begitu tinggi perkembangannya, hingga beliau mampu menerima risalah Ilahi, yang ini bukan hanya berbentuk angan-angan yang dimasukkan dalam hati atau berbentuk kata-kata yang diucapkan atau didengar di bawah pengaruh Ruh Suci, melainkan benar-benar risalah Tuhan dalam bentuk kata-kata yang disampaikan melalui Ruh Suci (malaikat Jibril). Menurut Istilah Islam yang digunakan Pendiri Ahmadiyah Al-Quran itu dinamakan wahyu Matluw, artinya wahyu yang dibaca dan dalam bentuk inilah Al-Quran dari awal hingga akhir disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau:

Makhluq yang Menerima Wahyu

Mengingat setiap makhluq diciptakan mempunyai tugas dan tujuan, maka untuk dapat melaksanakan fungsinya itu dengan sempurna perlu mereka itu diberi petunjuk melalui wahyu, oleh karena itu dalam Al-Quran disebutkan beberapa contoh makhluq yang diberi wahyu oleh Allah ta‘ala seperti:

1. Makhluq yang tak bernyawa, seperti langit dan bumi. Allah ta’ala berfirman:


Kemudian Dia menoleh ke langit, ketika langit masih merupakan sesuatu yang bagaikan asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua dengan patuh dan rela ataupun terpaksa!”. Mereka menjawab, “Kami berdua datang dengan rela” Maka Dia menyempurnakan mereka – langit dan bumi – berupa tujuh langit dalam dua hari dan Dia mewahyukan tugasnya kepada tiap-tiap langit (Hamim As-Sajdah, 41:12-13)


Karena, Tuhan engkau telah mewahyukannya bumi (Al-Zilzal, 99:6)


Pengertian Wahyu

Wahyu makna aslinya adalah al-isyaratus-sarii‘ah (Al-Mufradat fi Ghara’ibil-Quran) artinya isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang atau ilqoo’un fir-rou‘i artinya yang disampaikan dalam hati. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah ta’ala berbicara kepada para hamba-Nya dengan tiga cara, yaitu: a). Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara; b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib) dalam keadaan jaga atau ru’ya (penglihatan gaib) dalam keadaan tidur, yang dapat ditakwilkan atau tidak atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka (Ilham). Inilah arti kata “dari belakang tabir”; dan c). Tuhan mengutus seorang Rasul atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat-Nya. Sebagaimana firman Allah ta‘ala berikut:


Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan dengan seidzin-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha-luhur, Maha-bijaksana (Asy-Syura, 42:52)