Pintu wahyu masih tetap terbuka setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam wafat, karena Allah ta‘ala itu bersifat mutakallim (Maha-berbicara), yang selalu berbicara kepada para hamba yang dikehendaki-Nya, namun wahyu itu tidak mengandung syari’at baru yang menghapus atau menyalahi syari’at Islam. Di antara contoh wahyu tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wahyu kepada para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Ketika para sahabat Radhiyallahu 'anhum hendak memandikan janazah Sayyidina Al-Mushthafa Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mereka berkata: “Kami tidaktahu apakah kami menanggalkan pakaiannya, sebagaimana kami menanggalkan orang mati di antara kita atau kami memandikannya dengan pakaiannya? Maka tatkala mereka berselisih, Allah menjatuhkan kantuk atas mereka sehingga tak seorangpun dari mereka kecuali dagunya pada dadanya, kemudian mukallim (Malaikat Jibril pen.) berbicara kepada mereka dari sudut rumah itu sedang mereka tidak tahu siapa dia itu. Adapun bunyi wahyu itu sebagai berikut:
1. Wahyu kepada para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Ketika para sahabat Radhiyallahu 'anhum hendak memandikan janazah Sayyidina Al-Mushthafa Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mereka berkata: “Kami tidaktahu apakah kami menanggalkan pakaiannya, sebagaimana kami menanggalkan orang mati di antara kita atau kami memandikannya dengan pakaiannya? Maka tatkala mereka berselisih, Allah menjatuhkan kantuk atas mereka sehingga tak seorangpun dari mereka kecuali dagunya pada dadanya, kemudian mukallim (Malaikat Jibril pen.) berbicara kepada mereka dari sudut rumah itu sedang mereka tidak tahu siapa dia itu. Adapun bunyi wahyu itu sebagai berikut: