Monday, April 18, 2011

Makhluq yang Menerima Wahyu

Mengingat setiap makhluq diciptakan mempunyai tugas dan tujuan, maka untuk dapat melaksanakan fungsinya itu dengan sempurna perlu mereka itu diberi petunjuk melalui wahyu, oleh karena itu dalam Al-Quran disebutkan beberapa contoh makhluq yang diberi wahyu oleh Allah ta‘ala seperti:

1. Makhluq yang tak bernyawa, seperti langit dan bumi. Allah ta’ala berfirman:


Kemudian Dia menoleh ke langit, ketika langit masih merupakan sesuatu yang bagaikan asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua dengan patuh dan rela ataupun terpaksa!”. Mereka menjawab, “Kami berdua datang dengan rela” Maka Dia menyempurnakan mereka – langit dan bumi – berupa tujuh langit dalam dua hari dan Dia mewahyukan tugasnya kepada tiap-tiap langit (Hamim As-Sajdah, 41:12-13)


Karena, Tuhan engkau telah mewahyukannya bumi (Al-Zilzal, 99:6)


2. Makhluq Binatang Seperti Lebah, Allah ta’ala berfirman:

Dan Tuhan engkau telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohon-pohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat; kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, dan tempuhlah jalan yang ditunjukkan Tuhan engkau dengan rendah hati”. Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan! (An-Nahl, 16:69-70)

3. Makhluq Malaikat, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:


Ketika Tuhan engkau mewahyukan kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku beserta kamu; maka teguhkanlah orang-orang yang beriman. Aku akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang ingkar. Maka pukullah pada leher mereka dan pukullah pada tiap-tiap ruas jari mereka (Al-Anfal, 8:13)

4. Manusia pria dan wanita bukan Nabi atau Rasul, seperti para sahabat Nabi Isa as dan ibu Nabi Musa as, Allah ta’ala berfirman:


Dan, ingatlah ketika Aku mewahyukan kepada para hawari, “Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku”. Mereka berkata, “Kami beriman dan saksikanlah bahwa kami orang-orang yang berserah diri (Al-Maidah, 5:112)


Dan Kami wahyukan kepada Ibu Musa, “Susuilah dia, lalu lemparkanlah dia ke dalam sungai dan janganlah engkau takut, dan jangan pula engkau berdukacita; sebab sesungguhnya akan Kami kembalikan dia kepada engkau, dan akan Kami jadikan dia salah seorang dari para Rasul (Al-Qashash, 28:8)




5. Para Nabi atau Rasul

Sesungguhnya, Kami telah mewahyukan kepada engkau sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan Nabi-nabi yang sesudahnya; dan telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘kub dan keturunannya; dan Isa dan Ayyub dan Yunus dan Harun dan Sulaiman; dan telah Kami berikan Zabur kepada Daud. (An-Nisa, 4:164)


Dan, Kami mewahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkat engkau!”. Maka tiba-tiba tongkat itu menelan apa-apa yang disihir mereka (Al-A‘raf, 7:118)

Berdasarkan semua ayat-ayat Al-Quran tersebut, tujuan Allah ta‘ala mewahyukan petunjuk-Nya kepada semua makhluq-Nya agar mereka tunduk dan patuh kepada kehendak-Nya sehingga mereka dapat berkembang menuju kesempurnaannya, sebagaimana Dia lukiskan dalam firman-Nya berikut:


Sanjunglah nama Tuhan engkau Yang Mahatinggi, Yang telah menciptakan serta menyempurnakannya. Dan Yang menetapkan kadar kemampuan-kemampuannya dan memberi petunjuk yang setepat-tepatnya (Al-A‘la, 87:2-4)

Untuk lebih jelasnya perhatikan ayat Al-Quran tentang wahyu Allah ta‘ala kepada lebah yang terjemahannya sebagai berikut: “Dan Tuhan engkau telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohon-pohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat; kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, dan tempuhlah jalan yang ditunjukkan Tuhan engkau dengan rendah hati”. Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan! (An-Nahl, 16:69-70)”

Pengertian wahyu dalam ayat tersebut adalah naluri-naluri alami yang dengan itu Tuhan telah menganugerahi semua makhluq. Ayat ini mengandung satu isyarat yang indah sekali, bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham), baik yang nyata ataupun yang tersembunyi. Dengan perkataan lain, segala benda dan makhluq memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya. Lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi dan kerjanya yang menakjubkan itu bahkan terkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apapun.

Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut dalam ayat berikutnya yang terjemahannya: “Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, dan tempuhlah jalan yang ditunjukkan Tuhan engkau dan yang dipermudah bagimu.” Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan (An-Nahl, 16:70).” Dalam ayat ini, Tuhan telah mewahyukan kepada lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Tuhan kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu. Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti, bahwa wahyu telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi di berbagai zaman, dan bahwa ajaran seorang nabi berbeda dalam beberapa hal yang kecil-kecil dari ajaran-ajaran Nabi-nabi lain; walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana untuk menumbuhkan akhlaq dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus.

No comments:

Post a Comment