Monday, April 18, 2011

Al-Quran Bentuk Wahyu Paling Tinggi

Meskipun Al-Quran itu diturunkan sepotong-sepotong, namun seluruh Al-Quran adalah kesatuan yang bulat yang disampaikan dengan cara yang sama. Al-Quran itu adalah firman Allah ta‘ala yang diturunkan melalui Ruh Suci, yaitu Malaikat Jibril. Al-Quran menjelaskan kepada kita bahwa wahyu itu diturunkan kepada manusia dalam tiga macam (42:52). Cara pertama disebut Wahyu dalam arti isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang. Cara kedua, digambarkan sebagai ucapan dari belakang tirai. Yang dimaksud disini ialah penglihatan pada waktu tidur, atau dalam keadaan tak sadar; cara kedua ini dapat disebut mimpi (ru’yaa) atau kasyaf atau ilham. Cara yang ketiga ialah mengutus Rasul (malaikat yang mengemban risalah) kepada yang menerima wahyu dan risalah Allah ta‘ala ini disampaikan dengan kata-kata yang diucapkan; dan ini adalah bentuk wahyu yang paling tinggi. Malaikat yang mengemban risalah Tuhan dalam kata-kata yang diucapkan ialah Jibril atau Ruh Suci. Cara pemberian wahyu nomor tiga ini hanya terbatas bagi para Nabi, yaitu orang yang ditugasi mengemban risalah Tuhan untuk disampaikan kepada manusia; sedang bentuk wahyu pertama yang jika dibandingkan dengan wahyu yang khusus diberikan kepada para Nabi, tergolong wahyu yang rendah, ini dialami oleh para nabi dan orang yang bukan Nabi. Untuk menyampaikan risalah agung yang bertalian dengan kesejahteraan manusia, dipilihlah bentuk wahyu yang tinggi, yang dalam bentuk itu risalah Tuhan bukan hanya berbentuk angan-angan, melainkan benar-benar dibungkus dengan kata-kata. Daya kemampuan para Nabi untuk menerima firman Allah adalah begitu tinggi perkembangannya, hingga beliau mampu menerima risalah Ilahi, yang ini bukan hanya berbentuk angan-angan yang dimasukkan dalam hati atau berbentuk kata-kata yang diucapkan atau didengar di bawah pengaruh Ruh Suci, melainkan benar-benar risalah Tuhan dalam bentuk kata-kata yang disampaikan melalui Ruh Suci (malaikat Jibril). Menurut Istilah Islam yang digunakan Pendiri Ahmadiyah Al-Quran itu dinamakan wahyu Matluw, artinya wahyu yang dibaca dan dalam bentuk inilah Al-Quran dari awal hingga akhir disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau:




Sebab Al-Quranul-karim itu adalah kitab yang kemutawatirannya ditetapkan lafazh demi lafazh, dan dia kitab itu adalah wahyun matluwun qath‘iyun (dibaca secara pasti dan meyakinkan) dan siapa yang ragu tentang kepastiannya, maka dia itu kafir yang tertolak di sisiku dan dia termasuk orang-orang fasiq; dan Al-Quran itu dikhususkan dengan kepastian yang sempurna, baginya mempunyai martabat di atas martabat setiap kitab dan setiap wahyu; tangan manusia tidak akan menyentuhnya (Tuhfah Baghdad, hal. 31 Ruhani Khazain Jilid VII)

Disamping wahyu matluw, para Rasul dan Nabi juga menerima wahyu rendah. Dalam sebuah Hadis kita diberitahu bahwa sebelum risalah agung diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebelum beliau menerima wahyu Al-Quran yang pertama, kerap kali beliau mendapat ru’ya yang begitu terang bagaikan terangnya siang hari, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Yang mula-mula datang kepada Rasulullah di antara sekalian wahyu ialah mimpi yang baik; tiada beliau melihat suatu mimpi melainkan ini nampak bagaikan fajar pada waktu subuh (Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Jilid I, hal. 6)

Pengalaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara, sebagaimana diuraikan dalam Hadis, ini tergolong jenis wahyu rendah, sedang perincian mengenai hukum syari’at seperti yang diterangkan oleh beliau dan yang terdapat dalam Sunnah, ini tergolong jenis wahyu pertama, yaitu angan-angan yang dimasukkan dalam hati. Ini disebut wahyu Khafi atau wahyu batin. Bentuk wahyu rendah diberikan pula kepada orang awam, bentuk wahyu yang paling rendah adalah pengalaman manusia sejagat. Bermacam-macam sekali cara orang menerima berbagai jenis wahyu. Bagi orang yang menerima tiga macam jenis wahyu rendah, baik dalam keadaan jaga maupun dalam keadaan tidur, ia hanya akan mengalami sedikit perubahan jasmani, dan hanya kadang-kadang saja ia dipindahkan dalam keadaan tak sadar; akan tetapi orang yang menerima bentuk wahyu yang tinggi, benar-benar diperlukan perpindahan yang sebenarnya dari alam yang satu ke alam yang lain, sedang si penerima itu sendiri benar-benar dalam keadaan sadar; wahyu yang terasa berat itu bukan saja dirasakan oleh orang yang menerima, melainkan pula oleh orang yang melihatnya.

Adapun sifat wahyu Al-Quran itu dilukiskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjawab pertanyaan sahabat Haris bin Hisyam, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


Bagaimana datangnya wahyu kepada engkau, lalu Rasulullah saw bersabda: “Tempo-tempo wahyu datang kepada kuseperti bunyi lonceng, dan ini adalah yang paling berat bagiku, lalu ia meninggalkan aku, dan aku ingat apa yang ia katakan; dan kadang-kadang malaikat datang kepadaku seperti orang laki-laki dan ia berbicara kepadaku dan aku ingat apa yang ia katakan (Al-Bukhari dari Al-Harits radhiyallahu ‘anhu, jilid I, hal. 6)
Ini adalah dua bentuk wahyu Al-Quran yang datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam dua peristiwa tersebut, malaikat datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau melihat dia; dalam dua peristiwa tersebut, malaikat menyampaikan ayat dalam bentuk kata-kata yang seketika itu dihafalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah inti seluruh persoalan. Adapun perbedaan antara dua peristiwa itu adalah bahwa dalam peristiwa yang satu, malaikat muncul dalam bentuk manusia dan mengucapkan kata-kata dengan suara halus seperti orang yang bercakap-cakap dengan orang lain; tetapi dalam peristiwa yang lain tak diterangkan dalam bentuk apa malaikat datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; kita hanya diberitahu bahwa kata-kata yang diucapkan itu seperti suara bunyi lonceng, yaitu suara keras dan nyaring, yang suara itu terasa berat sekali bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menerimanya. Tetapi terang sekali bahwa malaikatlah yang mengemban ayat Al-Quran itu. Dalam dua peristiwa tersebut, seakan-akan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dipindahkan kealam lain, dan perpindahan itulah yang menyebabkan beliau mengalami pengalaman yang berat, yang membuat beliau mandi peluh, sekalipun pada hari yang keliwat dingin; tetapi pengalaman itu bertambah berat lagi, jika Malaikat yang menyampaikan ayat Al-Quran itu muncul dalam bentuk manusia, dan tak ada pertautan antara yang menyampaikan dengan yang menerima. Tetapi apakah Malaikat muncul dalam bentuk manusia atau tidak, dan apakah ayat itu disampaikan dengan suara keras atau dengan suara lemah, satu hal yang sudah pasti bahwa ayat itu disampaikan dalam bentuk kata-kata; oleh karena itu seluruh wahyu Al-Quran adalah risalah yang disampaikan dalam satu bentuk. Dan kita tak boleh lupa, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sering-sering menerima wahyu selagi beliau duduk dengan para sahabat; namun demikian, para sahabat tak pernah melihat malaikat; dan tak pernah pula mendengar wahyu yang dibacakan, sekalipun wahyu itu kadang-kadang datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti bunyi lonceng. Oleh karena itu , Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dan mendengar suaranya bukanlah dengan indra biasa melainkan dengan indra lain, dan pemberian indra lain inilah yang disebut perpindahan beliau ke alam lain. Wahyu Al-Quran ini berisi syari’at yang sempurna, karena itu Allah ta‘ala tidak akan menurunkan wahyu syari’at lagi yang merubah atau menggantinya. Kesempurnaan syari’at Islam ini ditegaskan oleh Allah ta‘ala dalam Al-Quran itu sendiri:


Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu, dan telah Ku-lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Ku-sukai bagimu Islam sebagai agama (Al-Maidah, 5:4)

Sehubungan dengan agama ayat itu menggunakan akar kata “Ikmaal” (menyempurnakan) dan sehubungan dengan nikmat ayat itu menggunakan akar kata “Itmaam” (melengkapkan). Yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani dan akhlaq manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna, sedang yang kedua menunjukkan bahwa tak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan). Lagi, kata yang pertama berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi pisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya. Penyempurnaan dan perlengkapan agama dan nikmat Tuhan disebut berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk nilai akhlaq yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Perlu juga kita ketahui bahwa ayat ini merupakan ayat Al-Quran yang diwahyukan terakhir, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat 82 hari sesudah ayat ini turun.

Mengingat wahyu syari’at dalam Al-Quran itu sudah paripurna, maka wahyu dalam bentuk ini sudah tidak akan dimansukh atau diganti. Dalam makna inilah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dinyatakan sebagai Nabi terakhir dalam membawa syari’at. Adapun wahyu-wahyu yang tidak merubah syari’at Islam, dan membimbing kepada kemajuan iman dan ruhani manusia masih terus berlangsung, karena Allah Ta‘ala dapat dibuktikan sebagai Tuhan Yang Mahahidup dan Mahabicara hanya jika Dia bercakap-cakap dengan para hamba yang dikehendaki-Nya. Tidak masuk akal bahwa Allah tidak lagi berbicara di waktu sekarang, padahal Dia selalu berbicara kepada hamba-hamba pilihan-Nya di masa yang lalu. Tidak ada sifat Allah yang dapat dianggap tidak lagi bekerja. Anugerah Wahyu Ilahi dapat diterima bahkan sekarang ini juga, seperti halnya telah diraih oleh umat manusia di masa yang lalu. Wahyu itu tidak selamanya harus mengandung syari’at baru. Wahyu itu dimaksudkan pula untuk memberikan kesegaran dalam kehidupan ruhani manusia dan untuk memungkinkan manusia bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Khaliqnya dan Rabbnya.

No comments:

Post a Comment